Demokrasi dan Elit Politik

0
303

Oleh : Thomas Tokan Pureklolong

KEBEBASAN  berpendapat, kebebasan mengungkapkan pikiran, kemauan dan kehendak bebas seperti memilih pemimpin misalnya, menjadi hal urgen dalam setiap pesta demokrasi.

Bahwa dalam berdemokrasi, siapa pun bisa terlibat secara bebas karena berangkat dari sebuah kebutuhan mendasar tentang kebebasan berpolitik seseorang sebagai warga negara.

Terlepas dari hak dan kewajiban setiap warga negara, “seseorang dalam memilih pemimpin, proses atau aktivitas memillih adalah lahir dari sebuah kebutuhkan mendasar.”

Pertanyaan yang segera menyusul untuk menelisik nilai demokrasi dalam aktivitas politik ( political action ) adalah kebutuhan mendasar seperti apa yang bisa membuat seseorang secara bebas untuk berperilaku politik ( political behavior ) seperti itu?

Sebuah tampilan jawaban atas pertanyaan itu adalah, ada dalam praktik berdemokrasi para elit politik. Para elit politik seharusnya bisa menampilkan “politik nilai” yang secara elegan, ketika sedang menjalankan tugas representasenya dalam fungsi legislasi, fungsi kontrol dan budgetting dalam tugas kelembagaan politiknya.

Nilai demokrasi yang sering diperhadapkan dengan impian atau pun bentuk dan tata cara pengaturan masyarakat yang ideal, atau pun juga segala kegiatan manusia untuk mempertahankan hidup dalam kebersamaan, seharusnya mulai dibuka, yang sebelumnya kian tercekam dalam “pergumulan ke dalam” pribadi dan bersama dalam suatu kelompok atau masyarakat. Seluruh nilai tersebut, mestinya dibuka secara terang benderang dalam seluruh perjuangan politiknya dari para elit itu sendiri.

Kebebasan Berekspresi.

Dalam berdemokrasi, nilai-nilai demokrasi yang ditampilkan oleh para elit politik, mulai dari elit politik pusat sampai elit politik daerah, tentu berbeda karena masing-masing wilayah punya matriks kebutuhan yang berbeda dan beragam. Karena itu praktik demokrasi yang ditampilkan pun sebetulnya bisa berbeda dan terus menghadirkan wajah demokrasi yang matang dan dewasa sesuai wilayah yang bersangkutan.
Dalam teori politik, lazimnya disebut demokrasi yang menunjuk pada kajian sistematis, semestinya juga ditampilkan secara terbuka dan terang benderang pula oleh para elit.

Di sinilah nilai demokrasi berhadapan dengam nilai kebebasan yang bisa membentuk etika kehidupan nyata, yang hadir sebagai acuan penilaian tindakan setiap elit politik.

Nilai demokrasi dan nilai kebebasan dalam hal ini, menyatu dalam satu aturan main oleh elit politik yang sama dalam setiap perilaku politiknya ( Thomas Tokan Pureklolon, Perilaku Politik 2020: 215 ).

Hebat dan dahsyatnya karakter elit politik, semestinya bisa terbaca secara terang-benderang oleh rakyat ( warga negara ) yang selama ini, “selalu hadir dan setia” mengikuti sepak terjanganya peran politik dari para elit.

Perjalanan demokrasi dalam praktiknya para elit, kerap hadir sebagai yang paling “senang dan superior” dalam arti baik dan benar dan diharapkan mampu menjadi motivator politik ( state actor ) dan hadir sebagai pemegang kendali utama perpolitikan dalam sebuah aturan main.

Para elit politik sebetulnya bisa hadir secara sempurna dalam tanda petik, untuk meyakinkan followernya bahwa segalanya siap untuk dilaksanakan menuju era negara kesejahteraan untuk setiap kebijakan yang digaungkan kepada lembaga eksekutif, dalam menjalankan fungsi kontrolnya terhadap jalannya sebuah sistem pemerintahan.

Dengan demikian, demokrasi sekali lagi dalam perkembangan modern, adalah hidup berdampingan secara politis yang tentu bersama siapa pun, para elit politik atau siapa pun jua dalam sebuah bangsa ( nation ).

Hadirnya demokrasi dalam sebuah aktivitas politik pun bisa mengimplikasikan tatanan nilai yang bisa mewakili nilai bersama dalam berdemokrasi yang adalah ekspresi dari kebebasan itu sendiri.

Sesungguhnya, praktik demokrasi dari para elit politik, harus bisa menjunjung tinggi nilai demokrasi dan nilai kebebasan yang termaktub dalam demokrasi sebagai tujuan dan bukan sebagai proses.

========

*) Penulis adalah Dosen Universitas Pelita Harapan Jakarta 

Komentar ANDA?