Pengungsi Afganistan dan Pakistan Gelar Demo di Depan Kantor DPRD NTT

0
741
NTTSATU.COM — KUPANG — Hadis Khademi(16), seorang pengungsi asal Afganistan mengaku bercita-cita menjadi seorang pengacara. Namun, hal itu sirna karena tidak dapat mengikuti sekolah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Hal tersebut disampaikan Hadis, Kamis (18/11) siang, saat ia dan pengungsi asal Pakistan dan Afganistan menggelar aksi demo di depan Kantor DPRD NTT.

Menurutnya, selama tujuh tahun berada di Kota Kupang ia belum mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya dalam mendapatkan pendidikan.

“Saya bercita-cita jadi lawyer.  Saya juga tidak tahu dari IOM dan UNHCR, sampaikan kalian tidak bisa sekolah itu saja kata mereka. Untuk saya sudah 7 tahun di Indonesia khususnya Kota Kupang, dan hanya di rumah saja,” ujar Khademi.

Ia berharap, Pemerintah Indonesia dapat membantu para pengungsi agar dapat mendapatkan lokasi lain atau negara ketiga untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Saya ingin ke negara ketiga seperti Amerika, Kanada, Ingggris, dan negara lain. Selama ini tidak dapat pendidikan dan tidak bisa ke sekolah, tidak bisa belajar. Kalau pergi ke negara lain kita bisa belajar, sekolah,” ujarnya.

Sementara Kubra Hasani mengatakan hingga saat ini belum adanya kepastian dari pihak IOM (International Organization for Migration) dan UNHCR (International Organization for Migration) soal perpindahan mereka ke negara ketiga.

Kubra meminta dukungan dari Pemerintah Indonesia untuk melakukan koordinasi dengan pihak negara lain agar dapat membantu para pengungsi yang saat ini belum bisa mendapatkan kejelasan dalam memperoleh suaka ke negara ketiga.

“Kita warga migran baik  yang ada di Kota Kupang maupun di kota-kota lain mereka belum bisa berangkat ke negara ketiga. Kita minta dari Indonesia bantu kita untuk negosiasi dengan UNHRC dan IOM, untuk fasilitasi kami ke negara-negara lain, seperti America, Kanada, Australia, New Zealand agar dapat bantu kita supaya kita bisa dapat kita punya hak dasar dan anak-anak kita bisa masuk sekolah serta kita juga bisa bekerja,” jelasnya

Ia menilai, sampai sekarang anak-anak pengungsi tidak mendapatkan pendidikan yang layak dalam memenuhi kebutuhan hidup para anak-anaknya.

“Sejak dua tahun terakhir anak-anak kita masuk sekolah tapi hanya sekolah dasar, namun mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih dari itu baik di SMP hingga universitas,” kata dia

Ia menambahkan, pengungsi telah melakukan upaya demonstrasi sebanyak 8 kali untuk mendapatkan kejelasan, namun hingga saat ini belum ada hasil baik untuk difasilitasi ke negara lain.

“Kita sudah demo sebanyak 8 kali namun, belum ada respon untuk aksi kita, mereka hanya terima kita punya surat dan mereka juga sudah bertemu dengan IOM dan UNHCR, namun kita berharap hasilnya akan baik. Dari UNHCR dan IOM, belum ada upayakan kami ke negara ketiga, kami sudah bertemu Kementrian Hukum dan HAM di Kupang, DRPD dan Bapak Wagub namun belum berasil, kita masih tunggu mereka untuk peduli kita untuk memperhatikan kita pengungsi yang ada di Indonesia khususnya di Kupang,” terang dia.

Untuk saat ini, ia menilai tidak bisa kembali ke negara asal karena negara mereka telah hancur akibat perang.

“Negara kita hancur dan masih banyak keluarga yang belum tahu keadaan mereka di sana,” kata dia

Menurut Kubra, para pengungsi masing-masing memiliki keahlian yang bervariasi dalam mengerjakan sesuatu hal yang dapat menghasilkan uang.

“Untuk keahlian dari para migran masing-masing ada baik menjahit, potong rambut, melanik, dan lain-lain tapi selama 7 tahun mereka tidak ada pekerjaan lagi,” terang dia.

Hingga saat ini kata dia, terdapat 216 warga migran asal Afganistan dan Pakistan yang saat ini berada di Kota Kupang yang menempati tiga lokasi berbeda. (VN/bp)

Komentar ANDA?