Denyut Nadi Saat Istirahat Bisa Memprediksi Risiko Kematian

0
209

NTTsatu.com – Sebuah penelitian menyebut bahwa denyut nadi saat istirahat bisa menunjukkan risiko kematian. Orang dengan tingkat denyut nadi istirahat 80 bpm (beats per minute) memiliki 45 persen kemungkinan meninggal pada 20 tahun ke depan dibandingkan mereka dengan tingkat denyut nadi istirahat 45 bpm.

Kebanyakan orang memiliki denyut nadi istirahat antara 60 dan 100 bpm, tapi pada atlet profesional berdenyut sekitar 40 bpm.

Peneliti menemukan bahwa risiko kematian karena penyakit apapun meningkat sekitar sembilan persen setiap peningkatan 10 bpm. Kemungkinan mengalami serangan jantung dan stroke meningkat lagi sebanyak 8 persen.

“Hubungan antara denyut nadi saat istirahat dengan risiko seluruh penyebab dari kematian kardiovaskular tidak bergantung pada faktor risiko biasa dari penyakit kardiovaskular. Hal ini menunjukkan bahwa denyut jantung istirahat adalah prediktor dari kematian pada populasi umum,” ujar dr Dongfeng Zhang dair Medical College of Qingdao University, China, seperti dikutip dari Telegraph pada Minggu (29/11/2015).

Untuk menemukan hubungan antara denyut nadi dan kematian, peneliti menganalisis 46 penelitian yang melibatkan 1,2 juta orang yang diawasi selama 21 tahun. Lebih dari setengahnya berusia di bawah 50 tahun. Selama itu, ditemukan 78.349 kematian termasuk 25.800 akibat masalah jantung.

Tim peneliti menemukan bahwa ketika menyentuh 90 bpm, kemungkinan untuk mengalami kematian dini hampir meningkat dua kali lipat. Peneliti menyebutkan mengukur denyut nadi saat tertidur dan relaksasi memungkinkan hasil lebih akurat.

“Bukti yang ada tidak dapat memastikan denyut nadi istirahat sebagai faktor risiko, tapi tidak diragukan bahwa meningkatnya denyut nadi istirahat ditandai sebagai tanda buruknya status kesehatan seseorang,” tambah dr Zhang.

“Hasil penelitian kami menyoroti bahwa orang harus lebih perhatian kepada denyut nadi istirahat demi kesehatan, dan selalu melakukan aktivitas fisik untuk menurunkan denyut nadi istirahat,” imbuhnya.

Peneliti mengatakan bahwa informasi tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan algoritma yang bisa mengaitkan denyut nadi istirahat dan faktor risiko kardiovaskular untuk membantu dokter menguji denyut nadi istirahat demi keperluan kesehatan. (sumber: detik.com)

Komentar ANDA?