Di Balik Narasi Gunung “TOL”

0
1181

Di Balik Narasi Gunung “TOL”

Di depan raja Larantuka, Uskup, Pemda Flotim dan Lembata, Kamis, 12 Mei 2022, Thomas Ola Langoday (TOL) menarasikan para pemilik gunung. Ia mulai dari Ile Mandiri (Ama Raja Pati Golo-Golo Arakian dan Ina Ratu Oa Watowele) lalu Ile Boleng (Ama Kelake Ado Pehang dan Ina Kewae Sedo Boleng).

TOL lalu mengantar ke Lembata. Mulai dari Awololong – Nubatukan (Ama Aubala – Urumiten, Watomiten dan Watodiri), Ile Ape /Lewotolok (Ina Peni Utan Lolon dan Ama Pehang Koliwuan). Selanjutnya ke Uyelewun (Ama Kia Laka Beni serta Ome dan Buya). Selanjutnya bergerak ke Selatan yakni Ile Adowajo (Ama Boli Helakatama, ina Aragahara), Ile Mauraja (Ama Mau Raja, Ina Peni Hubapulo dan Ina Peni Harbit), Ile Labalekan (Ama Labalekan dan Ina Peni Liangnurat), dan Ile Mingar (Ina Nogo Gunung).

Narasi lisan tanpa teks di depan petinggi pemerintahan dan agama di Flotim dan Lembata memunculkan pertanyaan yang menjadi latar belakang tulisan ini. Ada apa di balik narasi gunung itu? Apa yang sedang ‘dimainkan’ oleh TOL menjelang berakhirnya masa jabatannya 22 Mei 2022 ini?

Meragukan TOL

Sesungguhnya setelah 9 bulan berkuasa, banyak orang masih ragu-ragu dengan kemapuan TOL. Awalnya, setelah kematian EYS, banyak orang berharap. Lebih lagi karena ada beberapa pernyataan menggugah yang memunculkan optimisme. Di tangan TOL, orang yang ‘pro’ maupun ‘kontra’ EYS kelihatan menemukan simpul pertemuan.

Tetapi dengan berjalannya waktu, keraguan itu muncul. Para pendukung EYS mulai ‘merasa’ (bukan membaca), bahwa TOL ini sepertinya ‘kacang lupa kulit’. Ini sebuah rasa saja karena kenyataannya, TOL tidak secara frontal melawan EYS yang telah sepaket dengannya. Yang dia lakukan ‘hanyalah, membuka ruang sebesar-besarnya kepada aparat pengadilan untuk mengungkit sendiri apa yang selama ini ‘dicurigai’. Di sinilah TOL dianggap ‘melukai’ karena ia tidak ‘melindungi’ mereka yang berjasa mengantarnya ke kekuasaan, hal mana begitu ‘baik dan rapi’ dilakukan oleh EYS. Inilah dosa TOL.

Pada sisi lain, mereka yang awalnya juga sangat antusias dengan TOL karena merasa ‘diuntungkan’, pun tidak berharap banyak. Harapan dapat ‘posisi’ tidak begitu digubris. TOL malah memilih jalan yang lebih profesional. Memang pada proses itu terkesan ada aparat yagn tidak sejalan dengannya. Keputusan Sekda yang ‘gonta-ganti’ pelantikan disinyalir sebagai adanya ketakharmonisan mengingat Sekda diangkat pada masanya EYS. Aneka bongkar pasang dengan kebijakan yang tidak konsisten yang merupakan domain dari Sekda terkesan tidak tertata, meski pada akhirnya yang menjadi sasaran emosi adalah Bupati.

Sampai pada titik ini maka posisi TOL menjadi sangat tidak menguntungkan. TOL mungkin kemudian sadar bahwa pembenahan birokrasi memang menjadi sangat sentral tetapi ia akan penuh ‘pergunjingan’. Jelasnya, pembenahan birokrasi hanya akan ‘manjur’ kalau dilakukan diawali pada sebuah era kepemipinan 5 tahunan dan bukan hanya pada 9 bulan tersisa kepemimpinan. Hal itu malah bisa jadi malapetaka hal mana mendorong TOL (ini dugaan saya) mengadakan perubahan strategi.

Ini bisa dipahami dalam kegiatan SARE-DAME – Taan Tou – Eksplorasi Budaya yang berpuncak pada acara “Lewo Kaka-Arin” Kamis 12 Mei. Pada momen itulah, TOL menarasikan ‘pemilik gunung’ sebagaimana ditulis di awal. Meski di tengah hambatan yang cukup besar, tetapi TOL tetap yakin bahwa itu adalah jalan terbaik yang bisa dibuatnya di masa kepemimpinannya yang hanya seusia janin manusia dalam tubuh ibu.

 

‘Tulis Taro”

Lalu ada dapa di baliknya? Apa yang mau dicapai TOL di balik narasi gunung ini?

Pertama, TOL bisa saja mengikuti falsafah dari gunung (terutama gunung berapi). Ia tahu bahwa meletusnya gunung berapi adalah fenomena yang terjadi akibat endapan magma dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas bertekanan tinggi.

Endapan magma itu bisa disamakan dengan aneka permasalahan yang selama ini haru-biru berupa keributan; kekacauan; (hingga kalau ada) huru-hara yang terjadi di bumi Lembata. Semua endapan itu tidak bisa ditutup. Yang harus dibuat adalah membiarkan terbuka perlahan.

Di sini bisa dimengeri, mengapa TOL membuka aneka keran yang memungkinkan aparat ‘kejaksaan’ mulai menyisir satu persatu. Kasus demi kasus dibuka hingga tidak saja ‘orang kecil’ tetapi siapapun di atas yang bermain-main dengan hukum tidak saja ketahuan tetapi harus ‘bertanggungjawab sendiri atas perbuatannya’.

Aksi TOL sepeti ini di satu pihak dianggap ‘kurang ajar’, tetapi itu tidak lebih dari sebuah usaha untuk memungkinkan magma itu terus menemukan ruang untuk meletus. Logika yang terbangun, menghindari letusan besar dengan membuka ‘lubang’ kecil agar kedahsyatan bila terjadi tidak menghancurkan. Kalau kita berani jujur, ini satu kelebihan dari TOL.

Kedua, dengan cara ‘memimpin’ seperti ini, TOL sebenarnya menepatkan diri dalam ketidakpastian. Dengan membuka ‘keran’ dimana apart pengadilan masuk dan meneliti apa saja yang diduga bermasalah, sebenarnya menempatkan TOL dalam ketidakpastian. Ia akan dihadapkan dengan parpol yang merasa ‘tersudutkan’ (kalau ada) dan terutama membuka kebencian dari aparat ASN yang bisa saja ‘dirugikan’ oleh keran pengadilan.

Ketidakpastian TOL untuk menjadi bupati di 2024 ada dalam ketidakpastian. Bisa disebut bahwa kemungkinannya sangat riskan hal mana juga disadari. TOL sendiri berulang hanya berucap “yang jadi bupati nanti Tuhan sudah tulis taro”. Artinya ia pun tidak memaksakan agar orang nanti ‘ingat’ atau pilih dirinya. Ia berserah saja. Kalau apa yang dilakukan itu baik dan atas kehendak “Dia”, maka semuanya itu merupakan rangkaian huruf yang menuliskan sesuatu tentang kepemimpinan ke depan. Tetapi kalau semuanya itu hanyalah ‘permainan politis’ hal mana diduga oleh lawan politi, maka itu pun tidak ada masalah.

Tetapi hal itu juga bisa saja menciptakan ingatan yang kuat dalam diri masyarakat kebanyakan. Terlihat bahwa Eksplorasi Budaya Sare Dame bisa saja tidak begitu diterima di level pemimpin tetapi tidak sebaliknya dengan masyarakat. Banyak yang malah menghadirkan keyakinan kuat bahwa kepempinan yang berpijak pada adat itulah yang mereka cari. Inganta kolektif ini bisa menjadi sangat kuat.

Singkatnya, semuanya itu hanya ‘prediksi’ dan hitung-hitungan. Yang pasti, siapa yang jadi bupati 2024, ‘Tuhan so tulis taro’. Bupati itulah harapan masyarakat dan titipan Tuhan yang bisa saja ‘jatuh’ pada figur siapapun dari para kandidat yang ada.

Tetapi tidak bisa disangkali juga bahwa dalam konstelasi itu,TOL tetap menjadi salah seorang kandidat yang telah hadir akrab dan direkam masyarakat. Karena itu tidak bisa disangkali, bahwa yang Tuhan tulis taro itu bisa juga adalah TOL sendiri. Siapa tahu?

Robert Bala (Diploma Resolusi Konflik Asia – Pasifik Universidad Complutense de Madrid Spanyol).

Komentar ANDA?