Di Sabu: Victory-Joss Mengaku Berasal Dari Keluarga Susah

0
386
Foto: Viktor Laiskodat dan Yoseph Nae Soi didampingi Ketua DPD Golkar Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke dan Ketua DPW Nasdem NTT, Jacky Uli ketika akan menggelar kampanye terbatas di Sabu, Senin, 05 Maret 2018

NTTsatu.com – SEBA – Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan Yoseph Nae Soi (Victory-Joss) dengan jujur mengungkapkan kalau mereka berdua berasal dari keluarga susah. Mereka lahir dan besar dari kontemplasi penderitaan sehingga mereka berusaha untuk bangkit dari kesulitan hidup tersebut.

“Kami berdua dari keluarga yang sangat susah. Dan berdasarkan pengalaman dalam penderitaan itulah maka kami bisa marasakan denyut kesusahan rakyat. Pemimpin yang pernah menderita akan menggunakan otoritas yang dimiliki hanya untuk kepentingan rakyat yang telah memberikan kuasa kepadanya,” kata Viktor Laiskodat saat kampanye di Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Senin, 05 Maret 2018.

Viktor mengakui, dia sangat bahagia karena berada di tengah orang-orang yang kuat dan mampu bertahan dalam kondisi yang sangat sulit.

“Orang Sabu Raijua hanya dengan gula air maka mereka bisa bertahan tanpa membutuhkan karbohidrat lain.  Orang Sabu tidak hanya ulet dan pekerja keras tapi juga memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kondisi yang sulit. Saya tidak heran jika banyak orang-orang hebat lahir dari negeri ini,” kata Viktor Bungtilu Laiskodat.

Pemimpin kata Viktor Laiskodat, harus mampu menggerakkan semua potensi. Syarat bagi seorang pemimpin dalam membangun sebuah daerah maka harus cerdas. Pemimpin harus mampu menyiapkan sumberdaya manusia sehingga generasi penerus memiliki masa depan yang baik. Tidak mungkin sebuah daerah mengalami kemajuan jika tidak ditunjang dengan sumberdaya manusia yang mumpuni.

“Untuk itu maka pemimpin harus bekerja bagaimana menyiapkan buku dan perpustakaan yang memadai bagi anak-anak. Biasakan anak-anak untuk baca 2 jam sehari. Jika itu tidak dilakukan maka spirit kebangkitan yang kita bicara selama ini hanya dibangun diatas pasir yang rapuh dan tidak kokoh. Guru harus disiapkan dengan baik supaya bisa mentranfer semua ilmu dan juga karakter yang harus dimiliki oleh seorang anak” kata Viktor Laiskodat.

Viktor menegaskan, dirinya bersama Josef Nae Soi membutuhkan otoritas dari rakyat untuk memenuhi mimpi kebangkitan NTT menuju sejahtera. “Kami butuh otiritas bukan jabatan. Kami mau supaya masyarakat NTT tidak takut berhadapan dengan masyarakat dari daerah lain karena kita sejajar dari segi kesejahteraan dan ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Pemimpin harus mampu menarik rakyat dari kegelapan menuju sejahtera, menarik rakyat dari kemiskinan menuju sejahtera,” tegas Viktor.

Seorang pemimpin juga kata Viktor Laiskodat adalah memiliki kekuatan spiritual yang kuat. Pemimpin yang spiritual tidak gampang tergoda. Sekalipun seratus kali jatuh tapi akan bangkit seribu kali dan tidak pernah kehilangan harapan. Pemimpin harus mampu memberi harapan kepada rakyatnya.

“Pemimpin harus cerdas. Marthen Dira Tome telah merintis garam di Sabu Raijua dan itu adalah tipe pemimpin cerdas. Kalau kita mampu menutupi kekurangan garam nasional maka kita punya harga di mata nasional. Bukan hanya sekedar peluang kerja tapi bagaimana kita hadir untuk memenuhi kebutuhan nasional. Pemimpin juga harus sehat dan punya jaringan. Jalan yang dibangun harus lebar seperti yang dilakukan oleh Marthen Dira Tome di Sabu Raijua,” pungkas Viktor.

Yoseph Nae Soi pada kesempatan tersebut  mengatakan, dia dan Viktor Laiskodat datang ke NTT tidak lagi mencari jabatan maupun kedudukan tapi semata-mata untuk mengabdi bagi rakyat NTT yang mereka cintai. “Kami ada jabatan di pusat dan kami datang ke NTT untuk mengabdi bagi rakyat. Jika rakyat memberi legitimasi maka apapun akan kami korbankan bagi kemajuan dan martabat daerah ini,” ungkap Nae Soi.

Dia mengambil kisah dari Injil dimana Tuhan Yesus ketika mengusir Setan di Kapernaum. “Kenapa Yesus mampu mengusir setan karena Yesus memiliki kuasa. Untuk itu kami datang untuk meminta kuasa kepada rakyat supaya kami bisa mengusir setan yang ada di NTT. Setan-setan itu adalah setan kemiskinan, setan kebodohan dan setan-setan lainnya yang telah hidup sekian lama di NTT sehingga daerah ini tetap tertinggal,” pungkas Nae Soi. (tim media)

Komentar ANDA?