DIA Mengasihi Mereka Hingga Akhir

0
460

Oleh : Rm. Ambros Ladjar, Pr

Hari Kamis Putih, 06 April 2023*. Bacaan. Keluaran 12: 1-8, 11-14 dan 1 Kor 11: 23 – 26. dan Injil Yoh 13: 1-15.

Orang Yahudi biasanya mencuci kaki tamu jikalau mereka masuk ke rumah. Kegiatan ini adalah pekerjaan yang digeluti para hamba; sebagai tugas utama mereka sejak pagi sampai malam. Praktek para hamba ini amat kontradiktif dengan tindakan Tuhan Yesus sendiri ketika IA membasuh kaki para murid-Nya saat perjamuan malam terakhir.

Mencuci kaki adalah tradisi orang Yahudi sesuai aturan paska yang disinggung dalam Kitab Keluaran. Sejatinya merupakan kenangan turun temurun dalam peristiwa pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Anak Domba Paska yang disembeli itu kemudian diganti dengan darah Kristus sendiri di atas kayu Salib. Sebuah kenangan secara istimewa yang kita rayakan dalam korban ekaristi, sebagai sumber keselamatan. Yesus menyerahkan diri, tubuh dan darah-Nya bagi kita pada malam perjamuan terakhir.

Kaki adalah bagian tubuh yang pasti tetap kotor karena memangku tubuh. Yesus secara dramatis mencuci kaki para murid sebagai tanda kerendahan hati-Nya. Agar mereka tetap ingat maka hal itu dilakukan Yesus saat mereka semua sedang makan bersama. Yesus tak lakukan saat memasuki rumah dan menjadi tak lasim. Tidak heran jika Petrus tersentak kaget dan protes, bahkan ia tolak niat baik Yesus yang mau membasuh kakinya. Setelah Yesus menjelaskan artinya barulah ia mau untuk Yesus cuci kakinya juga, bahkan ia minta kalau boleh biar sekagus mandi saja.

Fokus perhatian Yesus adalah kaki dan bukan badan, karena IA ingin mencuci bagian tubuh yang paling kotor. Yesus mau pesan kepada kita bahwa tindakan cuci kaki bukan sekedar pembersihan lahiriah saja tapi *tindakan Melayani dengan rendah hati*. Ajaran Kasih adalah pokok penghayatan praktis yang telah ditunjukan Guru terhadap murid-Nya, tuan terhadap hambanya. Sebab fakta menunjukan bahwa orang yang memiliki kedudukan, posisi, jabatan pintar teori tapi prakteknya Nol. Tak heran jika konflik bisa terus terjadi lantaran harapan akan perubahan sulit terwujud sesuai spirit pelayanan itu. Sebab orang yang berkuasa biasa tunggu dilayani, bukan melayani.

Ada tiga aspek utama yang diajarkan Yesus kepada kita hari ini. IA mau agar kita implementasikan Kasih-Nya itu secara nyata dalam keseharian hidup sebagai sahabat. Selaku murid-Nya kita berusaha tunjukan dalam semangat: *Bersekutu, Berkorban dan Melayani*. Sebab sejatinya korban Paska Yahudi adalah pralambang korban Tubuh dan Darah Kristus bagi kita. Di dalam Ekaristi DIA menjadi puncak pelayanan spiritual yang harus berdampak langsung dalam penghayatan iman. Akhirnya kita pun peduli pada sesama dalam berbagai bentuk peran hidup secara rohani dan Jasmani.

Dari sebab itu kita perlu membiarkan diri dibasuh oleh Yesus Sang Guru secara kontinue lewat firman-Nya. Bisa saja kita malu dan kaget seperti rasul Petrus yang menolak dibasuh oleh Yesus. Mungkin kadang kita berdalih menggunakan segala cara, karena enggan tunjukan kaki yang kotor, kuku hitam dan jelek di muka umum. Mungkin saja karena penyakit dan juga tak utuh sehingga membuat kita minder. Jika terjadi antar sesama manusia demikian apalagi terhadap Tuhan. Yesus mengajak kita semua berani membuka diri kepada-Nya. Apapun yang kita sembunyikan dan bungkus akibat dosa atau aib perlu dibuka di mata Tuhan agar jalan hidup kita ke depan terarah. Siapkah aku melakukan yang terbaik setelah usai perayaan ini?

*Salam Seroja, Sehat Rohani dan Jasmani* di Hari raya Kamis Putih buat semuanya. Tetap taat untuk menjalankan Prokes. Jika ADA, Bersyukurlah. Jika TAK ADA, BerDOALAH. Jikalau BELUM ada, BerUSAHALAH. Jikalau masih KURANG Ber- SABARLAH. Jika LEBIH maka BerBAGILAH. Jika CUKUP, berSUKACITALAH. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga anda dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin🙏🙏🙏🌹🌹✝️🪷🪷🤝🤝🎁🛍️💰🍇🍇🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?