Dianiaya Suami di TTS, Korban Lari ke Kupang Bersama Anaknya Tanpa Uang

0
609
Foto: Noben Dasilva, aktivis KDRT asal Flotim foto bersama korban Roslinda Tun Liu dan anaknya di Kupang, Jumat, 25 Januari 2019

NTTsatu.com – KUPANG – Naas menimpah  Roslinda Tun Liu (37). Dia dianiaya suaminya Oktovianus Bel (37) di rumah kediaman mereka di Oenali Kecamata Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Korban akhirnya membawa anaknya pergi ke Kupang walaupun tanpa uang sepeserpun. Dia akhirnya ditolong seorang aktivis asal Flores Timur, Noben Dasilva yang kebetulan sedang berada di Kupang.

Noben Dasilva yang dihubungi media ini, Sabtu, 26 Januari 2018 menjelaskan, kemarin, Jumat (25/01/2019) petang ketika hendak kembali ke rumah, dia melihat ada kerumunan orang di bundaran PU. Beberapa orang berdiri mengelilingi seorang ibu dan anaknya.

“Saya dekati, ternyata ibu dan anaknya itu tidak memiliki uang sepeserpun untuk membayar ongkos bus yang ditumpanginya dari Soe. Saya kemudian ikhlas membayar biaya bus tersebut. Kemudian saya bicara-bicara dengan dia,” jelas Noben.

Setelah itu Noben kemudian menyewa ojek untuk mengantar ibu dan anaknya itu  ke rumah kakak Rosalinda di Liliba Kecamatan Oebobo Kota Kupang.

Rosalinda menuturkan, Kamis, 24 Januari 2019, seorang ponakan datang ke rumah kediaman mereka untuk mengabarkan kalau ada undangan acara syukuran. Saat ponakan  itu datang, Rosalinda juga ada di rumah tetapi dia langsung menuju suaminya dan menyampaikan undangan itu.

Merasa tersinggung dengan sikap ponakannya itu, Rosalinda bertanya kepada suaminya, “kenapa dia tadi datang dan beta (saya) yang terima dia tapi dia langsung mencarimu dan menyampaikan undangan itu?”.

“Karena Rosalinda bertanya seperti itu, bukan jawaban yang diterimanya malah hadia bogem yang diperoleh dari suaminya sendiri. Pelipisnya robek dan muka lebam akibat pukulan,” tutur Noben.

Kepada Noben, Rosalinda menjelaskan, setelah kejadian itu dengan wajah lebam dan berdarah karena pelipisnya robek, dia lari menuju rumah salah seorang anggota polisi bernama Jefri untuk meminta perlindungan. Polisi Jefri itu justru memintanya kembali dan melaporkan kasus ini ke ketua RT setempat.

“Merasa tidak ada perlindungan, korban menelepon saudaranya di Liliba yang kemudian memintanya datang ke Kupang bersama anak-anaknya. Korban mengaku sudah bosan dengan dengan perilaku suami karena korban sering dianiaya sampe kursi patah di kepala. Selama ini korban ketika berbicara sesuatu yang baik suaminya langsung hajar dia,” jelas Noben.

Noben mengakui, korban tidak bisa kembali ke Soe lagi karena selain tidak punya uang, dia juga takut kejadian naas itu terulang lagi menimpan ibi tiga anak hasil perkawinan dengan suaminya itu.

“Besok pagi (Minggu, 27/01/2019) saya juga akan kembali ke Larantuka. Karena itu saya sudah kontak Pak Polisi Rudi Soik di Polres TTS untuk bisa membantunya. Karena korban dan keluarga ingin agar pelaku harus mendapakan pelajaran, biar dia dipenjara saja,” tegas Noben. (bp)

====

Foto: Noben Dasilva,  aktivis KDRT asal Flotim foto bersama korban Roslinda Tun Liu dan anaknya di Kupang, Jumat, 25 Januari 2019

Komentar ANDA?