Dibutuhkan Kasih dan Kolaborasi dalam Pengelolaan Universitas

0
402

NTTsatu.com — KUPANG — Perguruan tinggi atau universitas dalam pelaksanaannya dibutuhkan kasih. Kasih ini dimiliki dan dilakukan oleh semua orang. Kalau dikatakan bahwa mengelola perguruan tinggi dengan hati maka keserasian perasaan di antara civitas akademika, di antara komponen-komponen yang bergerak di bidang pendidikan, kasih ini harus dibutuhkan.

“Saya sangat sependapat bahwa ada komitmen, ada akhlak”, kata Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM saat memberikan sambutan pada Acara Pelantikan Rektor dan Wakil-Wakil Rektor Universitas Citra Bangsa Masa Jabatan 2020-2024.

Pelantikan Rektor Universitas Citra Bangsa (Prof. Dr. Frans Salesman, SE, M.Kes) dan 2 orang Wakil Rektor yakni Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Administrasi Umum dan Keuangan (Yoseph Liem, M.Ar) dan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama (Heryon Bernad Mbuik, S.PAK, M.Pd) Universitas Citra Bangsa Masa Jabatan 2020-2024 oleh Ketua Dewan Pengurus Yayasan Citra Bina Insan Mandiri (Ir. Benny Ndoenboey, M.Si) dilaksanakan di Gedung Utama Citra Bangsa, Lt. 5 Kayu Putih Kota Kupang, Kamis 27/08/2020.

“Suatu perguruan tinggi mau atau tidak mau, suka atau tidak suka harus ada kolaborasi, harus ada harmonisasi antara yayasan, pimpinan perguruan tinggi, pimpinan universitas dan pimpinan-pimpinan program studi ((prodi) maupun terhadap mahasiwa dan bagaimana kita menularkan kepada mahasiswa”, jelas Josef. “Mari kita berkolaborasi, tidak hanya sekedar koordinasi tapi berkolaborasi antara pemerintah dengan perguruan tinggi yang ada di Nusa Tenggara Timur’, kata Josef.

“Ada suatu istilah dalam bahasa latin yaitu Non Scholae, Sed Vitae Discimus, artinya kita belajar bukan untuk sekolah tapi kita belajar untuk hidup, maka lahirlah lembaga-lembaga pendidikan di dunia ini. Perguruan tinggi sekarang memiliki gedung, struktur organisasi, memiliki tata kerja yang luar biasa. Oleh karena itu, kehadiran universitas sangat kita butuhkan. Di dalam perguruan tinggi ada perubahan yang luar biasa dan sangat cepat”, ungkap Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi.

“Sekali lagi saya meminjam istilah yang dipopulerkan para ahli pedagogi, para ahli pendidikan guru. Karena bagaimanapun juga proses dedaktik metodik, proses belajar mengajar tidak terlepas dari pedagogik. Tempora Mutantur, Nos Et Mutamur In Illis (waktu berubah, kita juga harus berubah di dalamnya), tidak bisa tidak, kita harus berubah, begitu juga perguruan tinggi harus terus berubah dan berkembang dalam mewujudkan generasi yang berkualitas”, jelas Josef.

Selanjutnya beliau mengatakan, menjadi seorang pendidik tidak sama dengan hanya seorang menjadi pengajar. Seorang pengajar hanya transfer of knowledge. Walaupun definisi pendidikan sekarang sudah berubah tapi substansinya pasti tetap berlaku. Definisi pendidikan dari pedagogik yaitu proses kegiatan yang terdiri dari bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang ditularkan kepada generasi muda untuk memiliki kompetensi, dan kompetensi itu salah satunya adalah akhlak.

“Kita lihat kalau kompetensi memiliki knowledge, skill dan attitude. Attitude itu salah satunya adalah akhlak,” kata Josef.

Josef mengatakan menjadi pendidik tugasnya adalah sangat mulia dan berat. Kalau hanya ngajar, oke, transfer of knowledge. Datang, baca buku, transfer of knowledge selesai. Tetapi pedagogik bukan itu. Pedagogik bisa bimbingan, bisa konseling, bisa pengajaran dan/atau latihan.

“Saya berkeinginan semua perguruan tinggi di NTT dapat bersinergi dengan pemerintah daerah terlebih di bidang penelitian dan pengembangan, karena salah satu ciri dari perguruan tinggi adalah kebenaran ilmiah. Kenapa ?, kalau pemerintah tidak menggunakan kebenaran ilmiah yang ada di perguruan tinggi maka kebenaran yang ada di pemerintah itu diragukan, karena satu-satunya undang-undang yang menyatakan harus berprinsip kepada kebenaran ilmiah adalah undang-undang pendidikan”, jelas Josef.

Sekretaris Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi XV Wilayah NTT (L2Dikti XV NTT), Ade Erlangga Masdiana, M.Si mengatakan, Universitas Citra Bangsa (UCB) harus melakukan proses adaptasi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang baru, terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan kementerian pendidikan dan kebudayaan.

“Saya yakin dibawah pak Paul dan pak rektor UCB akan mejadi besar. Kuncinya dengan kasih dan ada komitmen bagaimana mengembangkan pendidikan di NTT. Kita bekerja dengan hati bukan dengan egoisme, napsu dan merasa hebat. Kalau kita memimpin dengan hati, kita semua akan sukses. Kita bersinergi maka ada peluang kuat di bidang kesehatan sehingga ada peluang supply perawat keseluruh dunia. UCB dan perguruan tinggi lain di NTT dapat mengakses dan bekerjasama serta menangkap peluang yang bagus di negara lain. Peluang kerjasama kita kembangkan bersama-sama supaya NTT bisa melesat cepat. Kita bersinergi untuk bagaimana meningkatkan pendidikan di NTT”, kata Ade.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Citra Bina Insan Mandiri (CBIM), Ir. Abraham Liyanto, mengatakan, Motto CBIM adalah KASIH yaitu Komitmen, Akhlak, Sinergitas, Integritas dan Harmonis akan menjadi spirit dalam memajukan Universitas Citra Bangsa khususnya pada dunia pendidikan untuk pembangunan sumber daya manusia di NTT.

“Motto melayani dengan kasih yaitu komitmen, akhlak, bersinergi, bertanggungjawab punya integritas, kalau semua bekerja kita akan bekerja dengan bersama-sama atau harmoni”, ungkap Abraham.

Hal ini dibuktikan dengan Universitas Citra Bangsa dapat meraih 5 (lima) medali perunggu pada olimpiade informatika tingkat nasional dari 34 provinsi dengan partisipan 350 kampus dan diikuti 2.100 peserta.

“Mari kita sama-sama melayani seluruh mahasiswa, siswa, seluruh masyarakat khususnya bidang pendidikan dengan kasih. Harapan saya untuk rektor baru, di era globalisasi kita harus berani move on, bergerak cepat, kita harus buat terobosan untuk kemajuan Universitas Citra Bangsa dan daerah NTT,” harap Abraham. (hms ntt)

Komentar ANDA?