Drainase Buruk Jadi Sarang Jentik Nyamuk

0
506
Foto: Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup sedang memindahkan sampah dari kendaraan pengangkut ke tempat sampah umum yangn terletak di samping Taman Kota Maumere di Kelurahan Kota Baru Kecanatan Alok Timur, Rabu (24/1)

NTTsatu.com – MAUMERE– Kabupaten Sikka kini sedang diserang penyakit demam berdarah dengue (DBD). Tiga kecamatan di dalam Kota Maumere selalu menduduki peringkat tertinggi korban DBD. Faktor utamanya yakni drainase buruk di dalam kota yang menjadi sarang jentik nyamuk.

Demikian salah satu kesimpulan yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Maria Bernadina Sada Nenu terkait penyakit DBD yang kini menyerang warga masyarakat Kabupaten Sikka. Untuk bulan Januari 2018 saja sudah 34 korban yang pernah dan sedang dirawat di Ruang Melati BLUD TC Hillers Maumere.

“Drainase di dalam kota sangat jelek, sampah-sampah di dalam drainase sudah membatu, sehingga air tidak bisa mengalir. Kita perhatikan Kota Maumere kalau habis hujan, menjadi kota yang sangat kumuh dengan sampah. Ini menunjukkan bahwa kota ini kumuh, tidak bersih,” kritik Maria Bernadina Sada Nenu kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (23/1).

Masalah drainase, ujarnya serius, harus menjadi pekerjaan rumah buat pemerintah. Dia menilai pemerintah selama ini hanya mengutamakan infrastruktur jalan, lalu tidak memperhatikan drainase. Padahal, kata dia, jalan dan drainase itu merupakan satu kesatuan yang harus mendapat perhatian bersama dan serius.

“Suatu waktu Bupati mengajak PNS membersihkan drainase dalam kota. Kami dari dari Dinkes juga dapat bagian. Tapi kami bingung, mau bersihkan yang mana, karena sampah sudah membatu, rata dengan jalan. Nah, bagaimana air mau mengalir. Akibatnya ini jadi sumber nyamuk,” kata dia.

Untuk mengeliminir penyakit, baik itu DBD maupun malaria, sebenarnya caranya sederhana sekali, yakni pola hidup sehat. Dia menyinggung pola hidup sehat masyarakat masih rendah, terutama soal perilaku membuang sampah. Masih banyak warga masyarakat termasuk aparatur sipil negara, yang membuang sampah di sembarang tempat.

“Saya memperhatikan banyak PNS yang membuang sampah di mana-mana, termasuk saya punya pegawai di sini. Membuang sampah di tempat yang benar, belum menjadi budaya untuk masyarakat di sini,” kritiknya.

Maria Bernadina Sada Ninu menambahkan Dinas Kesehatan telah menggencarkan promosi kesehatan, baik itu di internal dinas, maupun melalui puskesmas dan jaringan. Biasanya, kata dia, sistem kewaspadaan dini, sudah dilakukan sejak September, dua bulan menjelang musim penghujan yang biasanya mulai pada November.

Di September biasanya ada surat edaran Bupati Sikka kepada camat, lalu dinas mengeluarkan surat untuk kepala puskesmas, juga membangun komunikasi dengan pastor paroki termasuk media. Dengan kewaspadaan dini seperti ini, hemat dia, tinggal bagaimana peran para pimpinan wilayah dari tingkat RT/RW, desa dan kelurahan untuk menggerakkan kegitan bersih-bersih di lingkungan sekitarnya.

“Gerakan Jumat bersih itu bagus sekali. Tetapi sebenarnya kebersihan lingkungan harus jadi budaya, dilakukan setiap hari. DBD, ini bersumber dari nyamuk yang ada di dalam rumah dan sekitar rumah. Jadi kalau hanya 1-2 keluarga yang membersihkan lingkungan, terus yang lainnya tidak, ya ini tetap akan menjadi masalah,” kata dia.

Maria Bernadina Sada Nenu mengimbau masyarakat agar ikut berpartisipasi dan terlibat menjalankan budaya bersih-bersih setiap hari. Dia juga mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan, yang justeru akan menjadi sarang yang nyaman bagi nyamuk penebar penyakit. (vic)

Komentar ANDA?