Ema Kecewa, Hasis Tenunannya Tidak Dipakai Jokowi

0
695
Foto : Reineldis Ema Penenun Kain Tenun Khas Atadei untuk Presiden Jokowi

LEWOLEBA, NTTsatu.com –  Reineldis Ema (56), penenun asal Atadei, Lembata ini mengaku kecewa, karena hasil tenunannya untuk baju Presiden Joko Widodo yang akan dipakai pada puncak Harnus di Lembata besok tidak bisa dilihatnya karena Presiden batal datang ke Lewoleba.

“Memang saya kecewa, karena saya hanya ingin melihat langsung Pak Presiden mengenakan baju hasil tenunan saya besok, 13 Desember 2016, ternyata bapak presiden tidak jadi datang. Meski demikian saya bangga karena sudah bisa menenun kain untuk baju pak Presiden,” kata Reilendis Ema yang ditemui di lokasi Expo Harnus di Pelabuhan Laut Lewoleba, Senin, 12 Desember 2016.

Ema menuturkan, ketika diminta oleh Ibu Lucia Adinda Leburaya, istri Gubernur NTT, Frans Lebu Raya untuk menenun kain khas Atadei untuk baju Presiden saat datang ke Lembata, dia merasa amat sangat bahagia. Kebahagiaanya itu bukan hanya karena ada tambahan penghasilan untuk membiayai sekolah anaknya, tetapi lebih dari itu, dari sekian rubu perempuan di Lembata, dia justru terpilih untuk tugas tersebut.

“Waktu saya diminta oleh ibu Gubernur, saya senang. Bahagia juga, tetapi saya juga ragu ragu karena waktunya sangat mepet hanya sekitar dua miggu saja,” ungkap Ema.

Walau waktunya hanya dia minggu saja, tetapi Ema meyakinkan dirinya untuk tidak membuang kesempatan emas ini. “Ini kesempatan langkah. Maka saya walau ragu, berusaha untuk meyakinkan diri agar tawaran ini dapat saya selesaikan dengan baik dan tepat waktu,” ungkap Ema.

Lebih jauh Reineldis Ema menceritakan, bukan hanya soal waktu yang mepet tetapi ibu Gubernur, Lucia Adinda Leburaya menginginkan agar kain tenun itu dibuat dengan pewarna asli. Merah tua. Motif pun diikat dengan tali gewang asli tidak dengan menggunakan tali raffia seperti yang dilakukan untuk kain tenun ikat lainnya.

Walau sulit, Ema Reineldis berusaha melakukan terbaik demi Jokowi. Dia tidak ingin membuat kecewa ibu Adinda Leburaya apalagi Jokowi. Untuk itu dia berusaha sebisa mungkin.

Pewarna asli dari akar kayu disiapkan. Tali gewang juga disiapkan. Empat kain tenun dihasilkan dalam waktu dua minggu. Luar biasa memang. Keempat kain tenun itu sudah dikirim kepada  Jokowi melalui ibu Gubernur NTT, Lusia Adinda Leburaya.

Ibu yang membentuk kelompok Tenun Pupu Santa ini kembali menceritakan, dari delapan lembar kain tenun khas Lembata yang diminta, empat kain tenun sudah dikirim ke Jakarta, dua lembar dalam proses tenun dan dua lainnya sedang diproses pewarnaan.

Disinggung soal tingkat kesulitan dalam mengikat motif daerah Lembata khusus Atadei, ibu tujuh anak ini menuturkan, dalam proses membuat kain tenun khas Lembata, yang  paling sulit dan membutuhkan ketelitian adalah pada saat proses mengikat motif. Karena tidak semua bisa mengikat motif.

“Untuk itu, dalam proses mengikat motif saya sendiri yang melakukan sehingga tidak salah,” ujarnya.

Benang yang digunakan juga benang pilihan dan asli pintalan ibu ibu di Kelompok Tenun Pupu Santa.

Agar bisa menyelesaikan pekerjaan penting ini, istri dari Yoseph Bulet Huar ini, harus rela bangun jam 03.00 dini hari dan tidur pada pkl. 00.00 malam. Dan mulai menenun kain adat khas Atadei Lembata itu masing masing 3 meter panjangnya. Dengan harga Rp. 7.5 juta sampai Rp.10 juta per lembar.

Dan hasilnya memuaskan karena sangat sesuai dengan permintaan Ibu Gubernur. “Saya puas karena hasilnya sesuai permintaan dan keinginan ibu Lucia,” katanya, (bonne pukan)

Komentar ANDA?