FPRB-NTT Tekankan Pentingnya Inklusi Bagi Kelompok Disabilitas

0
654
Foto: Peserta Musyawarah Daerah FPRB NTT 2018 foto bersama di Hotel Amaris Kupang, Kamis, 19 April 2018.

NTTsatu,com – KUPANG – Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Nusa Tenggara Timur (FPRB-NTT) menekankan pentingnya inklusi kelompok-kelompok terpinggirkan dalam pengurangan risiko bencana. 

Kelompok-kelompok terpinggirkan seperti kelompok disabilitas seringkali terabaikan dalam perencanaan pengurangan risiko bencana. Padahal, kelompok penyandang disabilitas memiliki kerentanan yang sangat tinggi dalam berhadapan dengan ancaman bencana. Pemberdayaan kelompok disabilitas dan pengarusutamaan inklusi dalam pengurangan risiko bencana merupakan sebuah kebutuhan dan kewajiban agar kelompok ini tidak menjadi korban ketika berhadapan dengan bencana.

Inklusi dan kolaborasi merupakan tema yang dibahas dalam Musyawarah Daerah FPRB NTT 2018 yang diselenggarakan di Hotel Amaris Kupang, Kamis, 19 April 2018.

Direktur Pikul, Plt Ketua FPRB-NTT, Torry Kuswardoyo, mengatakan menurut data Dinas Sosial NTT tahun 2017, penyandang disabilitas tercatat 9.000 lebih jiwa, namun, jumlah ini diperkirakan masih jauh lebih  rendah dibandingkan perkiraan sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Humanity & Inclusion yaitu 9% dari total populasi atau hampir mencapai 500 ribu jiwa. Tanpa strategi pelibatan yang tepat, penyandang disabilitas dapat menjadi korban yang sia-sia dalam kondisi bencana.

“Pendekatan yang inklusi menjadi penting dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi rencana pengurangan risiko bencana, termasuk mendayagunakan potensi penyandang disabilitas dalam pengurangan risiko bencana,” tuturnya.

Lanjutnya, Musyawarah Daerah FPRB-NTT juga membahas beberapa pembelajaran lain seperti ancaman bencana geologi, ancaman perubahan iklim, dan juga pembelajaran-pembelajaran mengenai pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, serta pembelajaran kolaborasi multipihak dalam PRB.

Musda Forum juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana, sebagai bagian dari PRB. Musda Forum ini adalah bagian dari rangkaian upaya meningkatkan kesadaran tentang risiko bencana dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan terhadap Bencana, 26 April 2018 mendatang.

“Melalui pembahasan dan pembentukan struktur baru, FPRB-NTT mengharapkan adanya kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, masyarakat sipil dan swasta dalam pengurangan risiko bencana. Terlebih lagi, lewat struktur baru, FPRB NTT akan lebih dapat menjawab lebih konkret moto dari pengurangan risiko bencana, bahwa urusan bencana adalah urusan semua orang,”  imbuhnya.

Hadir dalam menyampaikan materi Persatuan Tuna Daksa Kristiani (PERSANI) bersama dengan Arbeiter Samariter Bund (ASB) dan Humanity & Inclusion (HI), ChildFund Indonesia , Perkumpulan Masyarakat Peduli Bencana (PMPB), Dr. Rani Hendrikus, Dr Michael Riwu Kaho, dan juga Forum PRB Kabupaten Lembata.  Musyawarah Daerah juga  dihadiri Bapak Firzha Ghozalba, Kasubdit Peran Lembaga Usaha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (ambu)

Komentar ANDA?