Frans, Juru Parkir Mengais Rejeki di Pasar Inpres Ruteng

0
260
Foto : Frans Darma yang selalu tekun menjalankan pekerjaan sebagai seorang tukang parker di pasar Inpres Ruteng

Ruteng,NTTSatu.com – Di tengah-tengah gemericik hujan yang turun di kawasan Pasar Inpres  Ruteng sebagai pusat perbelanjaan di  ibu kota Kabupaten Manggarai,  seorang pria paruh baya dengan berseragam celana coklat, kameja biru dibalut rompi  dari Dinas Perhubungan Informasi, dan Komunikasi(Dishukuminfo) Manggarai  justru sibuk dengan tugasnya mengatur parkiran di pinggir Jalan Pasar  persis di depan para penjual ikan yang lagi mangkal berjualan  dan kios kompleks pasar.

Nampak wajah yang begitu bersahaja menyapa para pengendara kendaraan bermotor baik itu mobil maupun motor yang hendak parkir di lahan parkirnya. Dia pintar mengatur parkiran dengan rapih sehingga tidak Nampak seperti tumpukan kendaraan.

Pria kelahiran 32  tahun silam itu bernama lengkap Frans Darma, merupakan ayah dari dua  orang anak hasil penikahan dengan istrinya bernama Asni Dina. Lelaki ini telah bertugas sebagai tukang parkir di Pasar  inpres  Ruteng  sejak 1  tahun yang lalu.

“Saya bekerja sebagai tukang parkir di sini sejak 1  tahun yang lalu, setelah memiliki dua anak. Tugas saya di sini bukan hanya memarkirkan kendaraan, kadang saya juga membantu warga untuk menyeberang jalan,” ucapnya sambil tersenyum.

Di kawasan pasar  ia mengumpulkan uang parker sebesar Rp 1000 untuk kendaran roda dua dan Rp 2000 untuk kendaraan roda empat.

Baginya, pekerjaan ini dilakonkan dengan penuh kegembiraan karena sudah menjadi sebuah lahan kerja  yang dapat memberikan penghasilan baginya. Dari kucuran keringat dan harus relah dibasahi hujan, Frans menjalani pekerjaan ini dengan selalu bersyukur.

Menurut Frans, dari gasil kerjanya di tengah teriknya sinar matahari dan juga guyuran hujan dapat penghasilan sekitar Rp 20.000 hingga  Rp 40.000 setiap hari di luar jumlah setoran karcis ke Dishukuminfo  Kabupaten Manggarai.

“Penghasilan berapa pun saya   terima saja, yang penting masih bisa makan” ujarnya dengan penuh semangat.

Profesi Frans  sebagai tukang parkir jalanan justru kontradiktif dengan kebijakan pemerintah tentang ketersediaan ruang parkir dalam Undang-undang No. 22 tahun 2009 Pasal 34 ayat 3. Undang-undang tersebut menyatakan bahwa fasilitas parkir di dalam Ruang Milik Jalan hanya dapat diselenggarakan di tempat tertentu yaitu pada jalan kabupaten, jalan desa, atau jalan kota yang harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas dan atau Marka Jalan.
Tentang peraturan tersebut Frans  tidak mengetahuinya sama sekali, ia selama ini nyaman-nyaman saja sebagai tukang parkir di Jalur Pasar Inpres Ruteng. Tidak pernah ada petugas keamanan atau polisi yang menegurnya. Karena itu dia merasa tidak melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya selama ini.

“Selama saya bertugas, saya tidak tahu dan tidak ada yang memberi tahu sama sekali tentang peraturan-peraturan lalu lintas hanya apel bersama yang diadakan seminggu sekali bersama  Polantas, malahan saya disalut  sama petugas polisi karena dianggap pekerjaan saya telah membantu tugas polis.”.

Frans  mengaku semakin bersemangat dalam menjalankan tugasnya. Baginya itu sebuah tanda bahwa pekerjaan yang digelutinya selama ini telah berjasa bagi orang lain dan telah diakui oleh instansi kepolisian.

Di era sekarang dengan daya persaingan yang tinggi, Frans  tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. Pendidikan terakhirnya yang tidak sampai tamat sekolah dasar membuatnya sulit mencari pekerjaan. Walau dengan penghasilan yang sangat pas-pasan ia tetap bertahan dalam pekerjaannya. Tak terbayangkan olehnya jika harus kehilangan pekerjaan sebagai Petani  yang telah bertahun-tahun ia geluti.

Meskipun di sisi lain, keberadaan lahan parkir di sepanjang Jalan  pasar Ruteng  sedikit-banyak berkontribusi terhadap kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di parkiran , namun menurut Frans, para sopir angkutan yang berhenti menunggu dan menurunkan  penumpang di tengah jalan yang menyebabkan kemacetan yang begitu lama di jalur pasar.

“Para sopir angkutan yang menunggu penumpang dan menurunkan penumpang di tengah jalan bukan di  area parkir yang menyebabkan macetnya kendaraan di pasar. Inilah kebiasaan para soir, ketika ditegur mereka malah melakukan perlawan,” ungkapnya.

Karena pekerjaannya ini, Pak Frans  begitu dikenal oleh warga yang berjualan di sekitar pasar  bahkan ia dikenal oleh para petugas Polantas.

Penduduk sekitar pun sangat menghargai tugas Frans , karena membantu mereka dalam menyeberang jalan serta mengatur lalu lintas seperti halnya yang diutarakan oleh Andi, tukang ojek di dekat lahan parkir Frans.

“Ya, beliau sangat berjasa buat kita. Dia sering membantu orang-orang sini menyeberang jalan. Tahu sendiri pasar ini ramai  sekali,” ujar Adi.

Frans seringkali membantu Polantas yang bertugas di dekat lahan parkirnya dalam mengatur lalu lintas jika ada kemacetan. Tidak ada harapan untuk mendapat imbalan apapun dari petugas polantas tersebut. Baginya itu juga merupakan tugasnya sebagai orang yang mendapat uang di jalanan.

Jasa seorang tukang parkir sepertinya mungkin memang tidak akan pernah dianggap besar oleh orang lain. Namun baginya, semua yang dilakukan atas dasar ikhlas akan memiliki manfaat bagi orang lain. Tak mengenal hujan, atau bahkan di saat sakit pun ia akan berusaha bekerja semaksimal mungkin selama ia bisa melakukannya.

“Istri dan anak saya adalah segalanya bagi saya. Mereka lah yang selama ini mendukukung saya dan menjadi tonggak semangat saya. Di jalanan orang tidak peduli akan kondisi saya. Saya bekerja untuk orang lain dan untuk membantu bukan untuk melanggar,” tegasnya.

Frans kemudian berharap, jika memang ada kebijakan dari pemerintah yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai tukang parker. Dia berharap pemerintah bisa memberikan penghasilan mengahasilkan yang pantas.(hironimus dale)

Komentar ANDA?