Garam Sabu Raijua Kini Jadi Rebutan di Berbagai Daerah

0
343
Foto: Kegiatan petani garam di tambak garam Sabu Raijua

KUPANG. NTTsatu.com – Garam asal  Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini mulai menjadi rebutan beberapa wilayah di luar NTT. Di antara wilayah yang kini menjadi tujuan garam dari Sabu Raijua yakni Surabaya dan Makasar serta Pontianak, Kalimantan Barat.

Pengangkutan garam pun yang menggunakan Tol Laut serta kapal barang tujuan daerah-daerah tersebut.  Kali ini pesanan dari Pontianak  sekitar 2.000 ton dan siap diangkut.

“Sudah ada kapal yang angkut garam dengan tujuan Pontianak. Kapal Tol Laut itu sandar di dermaga Seba untuk mengangkut sekitar dua ribu ton garam curah,” kata Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome yang dihubungi, Selasa, 27 September 2016.

Dira Tome menjelaskan, ada perbedaan hasil produksi garam di pulau Sabu dengan garam di Raijua. Di pulau Raijua produksi garam berkisar antara 45-50 ton per hektar setiap bulannya. Hal ini terjadi karena suhu panas yang ada di Raijua lebih dari yang ada di Pulau Sabu. Demikian juga dengan kondisi angin. Kedua hal ini yang menyebabkan produksi garam di pulau Raijua lebih banyak bila dibandingkan dengan yang ada di Pulau Sabu.

Dikatakannya,  jika lahan 500 hektar berproduksi dengan rata-rata jumlah produksi berkisar 45-50 ton per hektar, dikalikan dengan 9 bulan masa produksi, maka ada 225.000 ton garam yang dihasilkan dari pulau Raijua. Dengan harga penjualan terendah Rp 550 ribu per ton, setidaknya sudah meraih penghasilan Rp 123, 75 miliar.

“Permintaan garam curah dari Sabu cukup tinggi namun ada kendala angkutan dan cuaca yang sering tidak stabil. Kami merasakan benar keuntungan transportasi Tol Laut maupun kapal barang yang memang sengaja datang untuk mengangkut garam,” katanya.

Dira Tome menekankan, saat ini permintaan garam Sabu Raijua, cukup tinggi terutama dari Pontianak dan Surabaya. “Tapi kami terkendala dengan angkutan serta sarana seperti dermaga yang belum bisa disinggahi kapal bermuatan besar,” ungkapnya.

Dia menjelaskan,  pihaknya telah meminta kepada pemerintah pusat agar dermaga yang ada di Sabu Raijua dikembangkan karena dengan panjang dermaga yang ada saat ini tidak memungkinkan kapal besar untuk sandar dan memuat komoditi dalam jumlah besar.

“Dermaga yang ada ini tidak bisa untuk kapal besar. Kalaupun dipaksakan, maka kapal bisa karam karena dermaganya terlalu dangkal,” katanya. (bp)

Komentar ANDA?