GEMPITA Harus Jadi Pioner Pemanfaatan Lahan Tidur

0
207

NTTsatu.com – LEWOLEBA – Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Kabupaten Lembata harus menjadi pioner yang mampu mendorong para pemuda untuk membuka lahan tidur untuk ditanami jagung sebagai komoditi pangan yang dikenal sejak dulu.

Upaya ini juga dilakukan ini juga untuk menyukseskan program Kementerian Pertanian yang terus  mendorong ketahanan pangan Indonesia dan Dunia tahun 2018.

Gempita merupakan program Kementrian Pertanian RI. Sesuai Surat Mentri Pertanian Nomor : B.1083/SR.420/A/03/2017 tanggal 15 Maret 2017 yang ditandatangani oleh Sekjen Mentri Pertanian Hary Priyono.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Gempita bukan organisasi, bukan pula LSM tapi Gempita adalah program Mentri pertanian untuk menjagungkan lahan tidur melalui pemuda. Pemuda tidur dan lahan tidur dibangunkan.

Koordinator Gempita kabupaten Lembata, Stanislaus L.B.  Ramos menjelaskan, Gempita Lembata sudah dibentuk dan Gempita akan mengolah lahan yang selama ini belum eksis, lahan tidur yang tidak pernah diolah. Gempita akan kerjasama dengan pemilik lahan.

“Nanti ada MoU antara Gempita dan pemilik lahan dengan sistem bagi hasil. Petani siapkan lahan, gempita siapkan bibit, alat tanam, hand traktor, pompa air, pupuk, obat, dan lain-lain. Pasca panen, pihak ketiga sebagai pembeli disiapkan oleh Mentri Pertanian melalui Bulog dan pihak lainnya,” kata Ramos.

Gempita kabupaten Lembata telah diterbitkan Surat Mandat Nomor : SM.002/Gempita NTT/III/2017 dengan menunjuk Stanislaus L.B Ramos selaku kordinator kabupaten. Surat Mandat ditandatangani oleh Daniel Nalle dan Albertho Mangu masing-masing selaku Kordinator dan Sekretaris Gempita Propinsi NTT.

Mandat yag diberikan itu untuk kordinasi dengan pemerintah kabupaten, membentuk pengurus, dan membentuk gempita di sembilan  kecamatan di Lembata.

“Kami siap mensukseskan program mentri pertanian RI untuk menopang ketahanan pangan nasional,” kata Ramos.

NTT ditargetkan untuk mengelolah 100 ribu hektar di 23 kabupaten/kota dari 3 juta hektar se Indonesia yang ditargetkan kementrian pertanian. Program ini diberlakukan sejak Mentri Pertanian mengeluarkan kebijakan menghentikan impor jagung. Konsekwensinya perlu penambahan lahan. Lahan yang dikelolah adalah lahan yang belum eksis, belum disentuh.

“Di Lembata untuk perdana kita siap uji coba perdana dengan 20 hektar lahan tidur, dalam waktu dekat kita akan kordinasi dengan dinas pertanian,” kata Emanuel Bataona,  kader Serikat Tani Nasional di Lembata dan juga Korwil Kabupaten Lembata.

Dia menjelaskan, sejauh ini sudah membantu kordinator Gempita menginventarisir lahan, untuk 5 kecamatan dan banyak berdiskusi dengan kelompok tani serta mengandeng kaum muda dimana calon lahan itu ada tanggapan positip untuk calon petani tinggal bagimana pemantapan serta eksen lapangan saja.

Selanjutnya, Emanuel Bataona menjelaskan, untuk mendapatkan langkah lain, komunikasi ke Dinas terkait sudah sedang dilakukan.

“Kita berharap pemerintah bersama Pimpinan Dinas terkait dapat bergandengan tanggan dan melihat hal ini sebagai sesuatu yang sangat positip, apalagi melibatkan kelopok tani dan para Pemudai  demi membangun Lewotana Lembata dan tentunya Indonesia untuk Swasembada Jagung,” kata Emanuel Bataona. (*/bp)

Komentar ANDA?