Gibran Dalam Debat Cawapres: Sebuah Catatan Politik

0
1414

Oleh: Thomas Tokan Pureklolon

Isi debat Cawapres malam tadi secara substantif dan teknis tentu mendapat beragam tanggapan yang berasal dari beragam kalangan, yang asyik menyaksikan jalannya sebuah debat Cawapres yang spektakuler dalam pesta demokrasi Indonesia.

Utamanya, sebuah debat dapat berjalan seru kalau bejalan lancar, tanpa masalah dalam membangun dialog pada setiap pertanyaan yang sangat berbobot dan juga memberikan respon atau jawaban yang mengalir lancar yang diikuti dengan tanggap-menanggap antara satu Cawapres terhadap Cawapres lainnya.

Dalam debat Cawapres, seperti juga model debat dalam komunikasi politik lainnya yang berjalan seru, kerap kali terlihat kemasan lebih menarik dan menggoda ketimbang perhatian terhadap substansi dari debat Cawapres itu sendiri. Hal itu terlihat dan tak bisa disangkal sepanjang perdebatan berlangsung malam tadi.

Dalam perilaku politik selalu saja ada sebuah momen politik yang dilihat dan terus dinanti adalah hentakan politik dalam perilaku politik (political behaviour).
Hentakan politik dalam perilaku politik di sini adalah antara substansi debat dan teknik debat, dikemas dengan cerdas oleh ketiga Cawapres. Bagi saya, terlihat pada Pak Gibran Rakabuming Raka.

Substansi debat yang disampaikan oleh Pak Gibran adalah sebuah hentakan politik yang sukses karena dikemas secara cerdas dengan teknik debat dalam pembahasannya secara menyatu.
Kategori utama yang menjadi perhatian adalah kemasannya harus bisa masuk ke bawah sadar pemirsa. Banyak kemasan substasi yang sungguh mendalam dari Pak Gibran yang bagi saya, para ilmuwan dan generasi milenial sangat menerima (baca: tercerahkan) karena bisa mengerti dengan sangat baik substansi penyampaiannya dan terserap sangat baik, baik gang berasal dari Pak Gibran sendiri atau pun terhadap publik penikmat debat.

Substansi tanggapan Gibran atas seluruh pertanyaan Cawapres lainnya, terlihat matang, linier dan tidak beresonansi pada kalangan orang muda yang sebelumnya dianggap sepi dan tidak mengerti deraan asumsi politik publik bahwa Pak Gibran masih terlalu mudah dalam aspek berpolitik, bahwa Pak Gibran masih terlalu mudah, belum berpengalaman, masih anak ingusan. Semua asumsi hipotetis itu dipatahkan oleh Pak Gibran dalam hampir keseluruhan debat Cawapres berlangsung.

Ada sebuah terminologi dengan pembahasan yang beragam dari Cak Imin mencoba menghempaskan ke publik penikmat debat dengan menggunakan istilah “slepet” utk menyelinapkan ke bawah sadar. Gaya bicaranya terdengar sangat datar dan betul terlihat kurang eksentuasi. Berbagai premis “Slepetnya” pak Pak Imin dengan ujung-ujungnya adalah membangun 40 kota mirip kota Jakarta, langsung mengundang respon dari Pak Gibran dan juga Pak Mahfut.

Pak Gibran tampil berwibawa dan sangat percaya diri menyampaikan visi misi yang dikemas dengan bahasa yang sangat kuat plotnya. Ada banyak hal aktual yang disampaikan sebagai afirmasi atau penegasan dalam berbagai argumen menarik dibuka dengan sepenggal kalimat: “Cak Imin lupa bahwa pernah ada di sana memotong tumpeng.”

Respon, tanggapan dan
Jawaban-jawaban dari Pak Gibran pun selalu dimulai dengan built up narasi besar bahwa Indonesia itu bangsa yang besar.

Dalam perilaku politik dalam perdebatan Cawapres malam tadi, tak dapat dihindari bahwa ada kemungkinan yang timbul dalam memaknai sebuah perilaku:
Mungkin ada juga yang menilai bahwa Pak Gibran belum terlalu berjalan jauh membicarakan hal baru karena hampir semuanya adalah represetasi dari Pak Joko Widodo. Terlepas dari kemungkinan seperti itu, bagi saya, pada bagian ini pak Gibran tampil memukau, humble dalam penuturannya, bermental (stay positive) dan selalu stay on fire. Pak Gibran dalam dirinya sendiri ketika menyampaikan tanggapan dan respon pada umumnya adalah “kemasan isi dan teknik” yang bisa menguat dengan orang muda yang terus terkuak dalam sanubarinya. Problem ini adalah soal penguasaan keseluruhan aura panggung perdebatan di malam tadi secara spektakuler. Mungkin inilah dalam perilaku politik disebut orang cerdas dalam berpolitik.

Mungkin perlu digarisbawahi bahwa, setiap paparan visi dan misi, serta tanggapan yang diberikan oleh pak Gibran atas pertanyaan dari kedua Cawapres lainnya, sangat terlihat kemantapan di setiap jawaban dan berbagai respon yang tidak perlu diragukan. Saya percaya bahwa orang muda tentu akan tertarik padanya dalam debat keseluruhan pada malam tadi.
Bagaimana pun, tentu team debatnya perlu diangkat jempol atas persiapan yang diberikan kepada pak Gibran dalam debat Cawapres kali ini.

Di samping itu kepribadian pak Gibran juga sungguh terlihat kokoh, dalam menguasaan materi debat karena bagi saya apa yang disampaikan dalam keseluruhan pemaparan gagasan dan ide serta respon yang diberikan atas berbagai dialog berpasangan dua, atau dialog berpasangan tiga, adalah sungguh mantap dan matang mendapat kredit poin yang sangat signifikan. Semuanya pertanyaan direspon dengan tenang, berisi dan penuh penghargaan.

Tampaknya hal menarik lain dari Pak Gibran adalah gaya menjawabnya yang dimulai dgn “saya jelaskan ya”, atau “Tampaknya Bapak-Bapak tidak paham”. Dalam perilaku politik: Nada- nada atau terminologi seperti itu berasal dari orang yang terlihat rileks saja dan tidak berbeban dalam berdebat. Inilah sebuah kekuatan di dalam perilaku politik. Dengan kata lain, nada-nada seperti itu sebenarnya menunjukkan Pak Gibran sangat menguasai topik dan tampil percaya diri dan meyakinkan. Perlu digaris bawahi sebagai afirmasi bahwa Pak Gibran memang cerdas, terlihat pada jawaban-jawabannya dimulai dgn build up narasi bahwa, “Indonesia itu bangsa yang besar”. Satu hal yang baik dari Pak Gibran dalam bentuk “gigitan politik pembangunan” yang berdampak positif adalah Pak Gibran mengucapkan: Selamat Natal dan Tahun Baru secara terbuka, tanpa beban apa pun terkait politik identitas”.

Terima kasih.

Penulis adalah : Dosen Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan

Komentar ANDA?