Gibran Pemenang Debat Cawapres?

0
586

Oleh: Robert Bala

Baru pada sesi awal pemaparan visi dan misi, seorang pecinta berat Gibran (dan Prabowo) langsung mengungkapkan kebanggaannya. Bisa terlihat betapa besar rasa kagum pada Gibran yang selama ini jadi obyek olokan apalagi dianggap takut debat. Mungkin karena itu, baru di awal debat, sang pecinta berat itu langsung memberikan statemen yang cukup jitu. Ia sudah meramal, seluruh panggung akan dikuasai oleh Gibran.

Yang jadi pertanyaan: mengapa pengagum Gibran mengklaim bahwa jagoannya memenangkan debat? Kesimpulan itu bisa didapatkan setelah melihat Gibran begitu mengalir menjelaskan tentang visi dan misinya. Sebuah uraian yang sangat detail dan tentu saja mudah dipahami oleh orang berpendidikan. Penggunaan istilah-istilah maupun singkatan digunakan secara tidak langsung untuk menunjukkan bahwa berhadapan dengan orang berpengalaman (seperti Mahfud MD dan Gus Muhaimin), Gibran perlu tampil beda dengan pengetahuan beda.

Dalam perspektif ini maka dari sisi Public Speaking, uraian visi dan misi tidak lebih merupakan uraian yang bagus dan terstruktur dan sangat runtut mengikuti panduan. Itulah pidato 𝐭𝐞𝐱𝐭 𝐛𝐨𝐨𝐤 yang sangat bagus.

Sebagai pidato yang berdasarkan buku teks, maka pidato Gibran disusun dengan baik sesuai masukan para pakar dalam bidang yang dilengkapi dengan struktur yang sangat jelas. Sayangnya buku teks seperti itu di satu pihak menarik untuk beberapa orang berpendidikan tetapi bagi khalayak akan kesulitan.

Pada sisi lain, Gibran kecolongan dengan menggunakan istilah bahasa asing atau singkatan hanya mau menunjukkan diri lebih tahu istilah asing sambil mengklaim bahwa pertanyaan itu sulit.

Bila Gibran menjadi seorang guru dan menyusun soal maka ia tidak lolos pada pelajaran paling awal sebagai guru. Ia keliru karena pertanyaan sulit bukanlah pertanyaan yang tidak diketahui. Contohnya: seorang guru bertanya tentang berapa jumlah gundi yang pernah dimiliki Raja X? Bila tidak diketahui maka hal itu bukan pertanyaan sulit. Ia tidak diketahui karena istilah itu terasa asing.

Sebuah pertanyaan dianggap bagus bukan karena tidak diketahui tetapi harus merupakan uraian mencari sebab musebab serta memberikan jalan keluar. Dalam arti ini pertanyaannya kepada Gus Muhaimin dengan menggunakan singkatan SGIE tanpa menjelaskan bahwa itu merupakan singkatan dari 𝐒𝐭𝐚𝐭𝐞 𝐨𝐟 𝐭𝐡𝐞 𝐆𝐥𝐨𝐛𝐚𝐥 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦𝐢𝐜 𝐄𝐜𝐨𝐧𝐨𝐦𝐲 atau bertanya tentang regulasi terhadap 𝑪𝒂𝒓𝒃𝒐𝒏 𝑪𝒂𝒑𝒕𝒖𝒓𝒆 𝑺𝒕𝒐𝒓𝒂𝒈𝒆 (CCS) adalah pertanyaan yang perlu diuraikan.

Hal seperti ini sekaligus perlu menjadi evaluasi bagi moderator agar terhadap pertanyaan seperti itu harus dihindari. Dalam arti ini ketika Gus Muhaimin tidak paham, maka seharusnya Gibran yang masih punya kesempatan menjelaskan pertanyaan dan bukan memotong kesempatan Gus Muhaimin dalam menjawab. Tetapi Moderator pun tidak bisa dipersalahkan karena ia pun hanya menjadi moderator ‘text book’ yang melaksanakan perintah tanpa kreativitas yang semestinya.

Gibran menggunakan beberapa istilah untuk menanyakan istilah. Dalam konteks pertanyaan untuk ujian dikategorikan sebagai pertanyaan yang menguji daya ‘ingatan’ dan merupakn pertanyaan yang paling rendah karena menguji kemampuan untuk menghafal. Karena itu dari segi pedagogik, kualitas pertanyaan Gibran sangat rendah dan dikategorikan dalam 𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓 𝒐𝒓𝒅𝒆𝒓 𝒕𝒉𝒊𝒏𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒔𝒌𝒊𝒍𝒍 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒈𝒉𝒆𝒓 𝒐𝒓𝒅𝒆𝒓 𝒕𝒉𝒊𝒏𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒔𝒌𝒊𝒍𝒍.

Tetapi 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐆𝐢𝐛𝐫𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐫𝐮. 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐞𝐛𝐚𝐭 𝟐𝟎𝟏𝟒, 𝐉𝐨𝐤𝐨𝐰𝐢 𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐏𝐈𝐃 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐢𝐤𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐢 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐏𝐫𝐚𝐛𝐨𝐰𝐨. 𝐏𝐚𝐝𝐚𝐡𝐚𝐥 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐉𝐨𝐤𝐨𝐰𝐢 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐬𝐮𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚: ’𝐓𝐢𝐦 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐢 𝐢𝐧𝐟𝐥𝐚𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐞𝐫𝐚𝐡,’ maka hal itu akan dengan mudah dijawab oleh Prabowo. Kebiasaan bertanya seperti inilah yang barangkali diwariskan dari Jokowi ke Gibran. Lebih lagi kemudian Gibran berseloroh, ‘maaf Gus, ini pertanyaan yang sulit’, sebuah ejekan yang sebenarnya merendahkan diri Gibran yang hanya tanya istilah yang dihafal dan bukan uraian yang menguji kecerdasan.

Berbicara tentang Diri

Kalau ulasan ini mengingkari judul bahwa sebenarnya bukan Gibran yang jadi pemenang debat lalu siapa pemenangnya dari sisi Public Speaking dan evaluasi semantik atas bobot pembicaraan?

Gus Muhaimin sebenarnya merupakan capres yang tidak hadir dengan pemikiran yang sangat standar. Ia berusaha menyerang Gibran dengan penjelasan tentang IKN yang denga cepat dijawab Gibran bahwa ia menjadi bagian dari peresmian IKN saat itu. Leibh lagi penjelasan tentang komitmen membangun 40 kota setingkat DKI Jakarta dianggap sebagai proyek berlebihan yang nota bene mengagetkan Gibran dan Mahfud MD.

Pada sisi lain pertanyaan tentang penguasaan lahan yang sangat besar yang tidak seimbang semestinya diajukan ke Gibran untuk meminta berpendapat tentang orang-orang yang punya lahan yang sangat luas. Gus Muhaimin sebenarnya bisa mengingatkan Gibran bahwa 5 tahun lalu, Jokowi menanyakan hal itu ke Prabowo. Pertanyaan itu yang diajukan ke Mahfud yang jawaban Mahfud akan lebih menguntungkan Mahfud.

Dalam arti ini maka wacana debat dari Gus Muhaimin menurunkan kualitas debat yang telah dicapai dengan cemerlang oleh Anies Baswedan dalam debat perdana. Dalam arti ini maka pemenang tentang bukan pada Muhaimin Iskandar yang bergerlar Doktor Honoris Causa.

Lalu bagaimana dengan Mahfud MD? Sejak presentasi visi dan misi, Mahfud telah hadir dengan dirinya sendiri. Berhadapan dengan Gibran yang sangat text book dengan uraian pikiran yang sangat runtut dan lancar, bisa terlihat bahwa beberan itu bukan terutama tentang apa yang sudah dilaksanakan tetapi pemikiran yang dirampung dari berbagai ahli sehingga bisa dihadirkan sebagai sebuah pemikiran ilmiah yang logis.

Mahfud hadir berbeda dengan mengerucutkan persoalan ekonomi pada kepercayaan akibat penerapan hukum yang belum meyakinkan investor untuk datang ke Indonesia. Kebocoran yang telah ditemukan selama ini dianggap Mahfud sebagai kontribusi teramat besar. Dalam arti ini maka Mahfud menjawab persoalan dari kapasitas diri dengan mengukur apa yang bisa dilaksanakan. Tak pelak Mahfud bicara tentang kapasitas dirinya dan itu merupakan sebuah kekuatan.

Mengapa merupakan kekuatan? Karena ia berbicara tentang apa yang ia sadari sebagai persoalan dan menggadaikan dirinya sebagai orang yang bakal memperjuangkannya. Dengan kiprahnya memperjuangkan penerapan hukum sebagai jaminan investasi, maka banyak persoalan ekonomi dapat terselesaikan dan kebocoran akan menjadi modal bagi pemerataan pembangunan.

Bila ditinjau dari sisi ini maka judul artikel ini bisa dijawab. Bukan Gibran yang menjadi pemenang debat. Secara kecakapan berbicara, bisa disebut ya. Tetapi bahkan terhadap pertanyaan panelis yang tentu disusun dengan kriteria yang sangat tinggi tentang keseimbangan antara infrastruktur fisik dan infrastruktur sosial, terlihat Gibran kabur menjelaskannya.

Atas pertimbangan ini penulis berkesimpulan (dengan catatan kesimpulan ini debatable, alias bisa diperdebatkan, bisa diterima dan tidak), bahwa pemenang Debat Cawapres adalah Mahfud MD. Jaminan hukum sebagai rahim yang bisa melahirkan kepercayaan dan kepastian investasi menjadi topik yang bisa dikerjakan Mahfud hal itu menempatkannya sebagai pemenang debat Cawapres (22/12/23). ***

Penulis adalah:

𝐌𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦𝐢 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐜 𝐒𝐩𝐞𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 (𝐄𝐥 𝐀𝐫𝐭𝐞 𝐝𝐞 𝐇𝐚𝐛𝐥𝐚𝐫 𝐞𝐧 𝐏𝐮́𝐛𝐥𝐢𝐜𝐨), 𝐅𝐚𝐜𝐮𝐥𝐭𝐚𝐝 𝐅𝐢𝐥𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢𝐚, 𝐔𝐧𝐢𝐯𝐞𝐫𝐬𝐢𝐝𝐚𝐝 𝐂𝐨𝐦𝐩𝐥𝐮𝐭𝐞𝐧𝐬𝐞 𝐝𝐞 𝐌𝐚𝐝𝐫𝐢𝐝 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥

𝐏𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐛𝐮𝐤𝐮 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐅𝐚𝐬𝐢𝐥𝐢𝐭𝐚𝐭𝐨𝐫 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐤𝐭𝐮𝐚𝐥, 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤, 𝐄𝐟𝐞𝐤𝐭𝐢𝐟, 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐤𝐭𝐮𝐚𝐥 (𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐛𝐢𝐭 𝐊𝐚𝐧𝐢𝐬𝐢𝐮𝐬, 𝐂𝐞𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞-𝟑)

Komentar ANDA?