GOLKAR NTT, ANGIN SEGAR ?

0
1353

Oleh : Robert Bala

Saat menulis artikel ini, bayang-bayang masa kecil hadir secara alamiah. Tepatnya di tahun 1977. Ada seorang jurkam Golkar yang cukup kreatif. Ia memodifikasi sebuah lagu popular dengan syair berikut: “Angin dai, baopukang, wai mata” (Marilah angin, kami lagi berteduh di bawah beringin). Sebagai anak kecil, ungkapan itu begitu kuat terekam.

Hal ini memunculkan pertanyaan yang menjadi latar belakang tulisan ini: Apakah angin segar itu masih ada untuk di Golkar NTT kini?

Terjungkal

Bila melihat perjalanan Golkar era Orde Baru, maka situasi kini bisa disebut ‘terjun bebas’ alias terjungkal. Bisa dibayangkan. Sejak pemilu 1971 Golkar berada di atas 62%. Malah sejak 1987, 1992, dan 1997, di atas 70%.

Angka itu tentu lebih fantastis di NTT. Secara nasional, ketercapaian Golkar cukup ‘diganggu’ oleh PPP. Di NTT, meski PDIP masih bisa hunjuk taring tetapi itu pun tidak seberapa. Karenanya pencapaian Golkar luar biasa, di atas 80an%. Singkatnya Golkar ‘seng ada lawan’.

Karena itu tepat anekdot berikut tentang kepastian kemenangan Golkar saat pemilu. Disebutkan di Jerman hanya butuh 2 hari untuk mengetahui hasil pemilu. Amerika Serikat 1 hari dan Singapura hanya dalam hitungan jam. Di Indonesia lebih dari itu. Sebelum pemilu sudah diketahui hasilnya: Golkar jadi pemenang mutlak.

Kini keadaan sungguh kontradiktoris. Kejayaan itu dihadirkan secara ironis. Pada pemilu legislatif 1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019 Golkar hanya meraih belasan persen. Itu sudah bagus. Sebuah angka yang mengejutkan. Bagi yang terbiasa dengan kemenangan mutlak, harus berjuang dengan hasil yang belum bisa dipastikan.

Meski demikian, tetapi ketercapaian Golkar tidak ‘jelek-jelek amat’. Selama masa reformasi, Golkar masih tetap bertengger di antara 3 besar. Malah pada tahun 2004 sempat menjadi partai pemenang pemilu.

Untuk NTT, keadaan tentu tidak beda jauh dengan pencapaian nasional. Analisis terhadap pencapaian pemilu legislatif terakhir, 2019 (baik DPR RI maupun DPRD NTT) bisa dijadikan bahan refleksi.

Golkar NTT mendulang 365.226 dari 2.971.216 suara sah. Artinya hanya 12%. Angka yang sama terjadi di tingkat nasional meskipun berbeda. Kenyataan yang sama terkonfirmasi juga dalam pemilihan DPRD Propinsi. Setelah proses yang melelahkan, Golkar NTT perlu berpuas diri dengan memiliki 10 dari 65 togal anggota DPRD.

Itu berarti, meski ada penurunan drastis, tetapi secara umum Golkar masih ada. Hal itu dibuktikan juga dari hasil pemilu legislatif NTT. Golkar NTT hadir di semua (8 dapil) dengan memiliki minimal 1 anggota. Malah di Dapil 1 Kota Kupang dan Dapil NTT V (Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka) terdapat dua wakil.

Bukan Konspirasi

Bagaimana memaknai HUT KE 56 Golkar? Apa yang bisa dilakukan agar ke depan?

Pertama, perlunya komitmen pada pengembangan ideologi. Untuk Indonesia, diferensiasi ideologi antar partai politik disinyalir nyaris ada. Ideologi lebih dikaitkan dengan sejauh mana isu agama ditempatkan di parpol. Ada yang secara nyata mengangkat simbolis agama. Yang lainnya lebih nasionalis. Artinya proporsi agama diangkat secara proporsional.

Dalam arti ini, bisa saja merupakan sebuah keuntungan bagi Golkar. Jelasnya, ideologi nasionalisme yang melekat bisa menjadi sebuah keuntungan. Ia tidak terlibat dalam menggulirkan isu-isu agama yang bisa saja memberikan keuntungan momentan-sporadis. Sebaliknya, ia lebih fokus kepada pengembangan ideologis yang nasionalis.

Model seperti ini akan menjadi keuntungan selagi fokus yang ditampilkan lebih pada kemampuan mengelola kekuasaan demi memberikan bobot yang besar kepada kesejahteraan rakyat. Artinya, sejauh mana ideologi politik itu dikelola yang berujung pada terasa nyatanya perwujudan kebaikan dan kesejahteraan dalam diri masyarakat.

Kedua, masa depan Golkar (dan partai lain) akan sangat ditentukan oleh kapasitas organisasional. Di satu pihak ditandai dengan jalur komando dan komuniasi yang tetata rapi yang secara eksternal dapat dilihat dari keteraturan organisasional.

Organisasi seperti ini akan kuat ketika dibangun di atas praktik kehidupan demokratis yang nyata. Sebaliknya, penerapan fungsi kepemimpinan yang otoriter akan dengan cepat menjadi biang kelagi bagi hadirnya aneka protes yang bisa berujung pada pemisahan diri.

Perjalanan Golkar yang kemudian melahirkan partai baru seperti Nasdem, Hanura, sekadar menyebut dua contoh bisa diartikan sebagai rentannya praktik demokrasi secara internal. Hal itu belum ditambahakn dengan lebih mengupayakan kepentingan pribadi ketimbang organisasi.

Sebaliknya, Golkar akan menjadi kokoh ketika lahir pemimpin alternatif yang mengapa tidak bisa hadir dari kaum muda potensial. Hadirnya Melki Laka Lena di pucuk kepemipinan bisa diartikan sebagai tonggak sejarah. Ia sekaligus menjadi momen bahwa kepemimpin baru perlu diikuti dengan strategi yang lebih jitu agar nilai-nilai itu bisa diwadahkan dan disebarkan menjadi budaya yang meresapi semua pengurusnya.

Ketiga, komitmen keberhasilan masa depan akan juga ditentukan oleh sejauh mana kebenaran dan kebaikan moral bisa dirasakan oleh masyarakat. Penekanan ini bisa dikategorikan sekadar sebuah seruan moral belaka. Tetapi dalam kenyataan, ingatan masyarakata tidak bisa dilepaskan dari sejauh mana kebaikan itu bisa dinikmati dari waktu ke waktu.

Inilah tujuan yang selain jadi arah juga hadir sebagai bukti kehadiran parpol bagi masyarakat. Sebaliknya, sebuah partai yang kehilangan tujuan yang benar dan bermoral maka ia akan gagap dan dengan segera dikategorikan sebagai trik penuh konspirasi, hal mana dikatakan Dwight D Eisenhower dalam pidatonya pada 6 Maret 1956.: If a political party does not have its foundation in the determination to advance a cause that is right and that is moral, then it is not a political party.”

Keempat, kekuatan simbolik. Bagi Golkar, kekuatan yang nota bene bersifat umum, masih diuntungkan oleh kekuatan simbolik. Sebagiamana dalam organisasi apapun, logo memiliki kekuatan karean bisa bercerita, tidak menimbulkan konflik, punya perspektif, memperjelas komunikasi, dan simbol yang dapat berintegrasi, maka Golkar telah memilikinya.

Golkar telah identik dengan simbol beringin tempat berteduh. Sebuah keteduhan yang bila diposisikan dalam keterikan matahari maka angin semilir menambah keinginan untuk terus berada di bawah naungannya.

Hal itu sudah terbukti selama 56  tahun. Selama periode ini Golkar tetap ada hal mana menunjukkan kekuatan simbolik itu masih sangat besar. Rasa cinta masyarakat dan rekaman akan praktik positif masih kuat tersimpan. Yang menjadi pertanyaan, sejauh mana Golkar bisa mengadakan transformasi agar lebih sanggup lagi menjawabi tantangan zaman yang kian hari kitan kompleks.

Semua harapan ini tentu tidak kosong. Minimal hal ini terbukti dalam diri penulis yang telah terjamah masa kecil dengan Golkar dan masih melihatnya kini. Selanjutnya keberhasilan selanjutnya tentu sangat ditentukan sejauh mana Golkar terus mentransformasi diri guna membawa angin segar bagi republik ini.

=======

Penulis: Pemerhati Sosial. Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Fakultas Ilmu Politik, Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Komentar ANDA?