Gubernur Boyong Semua Pejabat Rayakan HUT di Watoone

0
206

WITIHAMA – NTTsatu.com – Gubernur NTT, Frans Lebu Raya memboyong hampir semua pejabat eselon II dan sebagian eselon III Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Nusa Tenggara Timur ke kampung halamannya di Watoone, Witihama, Adonara Flores Timur. Tujuannya selain kunjungan kerja juga merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) nya yang ke 55.

Kepala Biro Umum Setda NTT, Zakarias Moruk kepada NTTsatu.com menjelaskan, Gubernur mempunyai agenda ke Adonara untuk melakukan kujungan kerja dan meninjau sejumlah tempat terutama calon lokasi Bandara Adonara di wilayah Lewo Buto, kecamatan Witihama dan lokasi pembangunan Bendungan di Adonara.

“Gubernur pergi untuk tujuan itu sehingga harus bersama sejumlah pejabat dinas terkait. Kebetulan bertepatan dengan HUT ke -55 sehingga mereka bersama-sama merayakannya di Watoone, Witihama. Jadi bukan HUT itu yang menjadi tujuan utama,” kata Zakarias Moruk di Witihama, 17 Mei 2015.

Para pejabat yang datang bersama Gubernur Frans Lebu Raya menggunakan jasa Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Feri Ile Boleng antara lain Kepala dinas Perhubungan NTT, Richard Djami, Kepala Badan Kepegawaian Daerah NTT, Emanuel Kara, Kadis Pariwisata Ekonomi dan Kreatif NTT, Marius Ardu Jelamu, Kadis Pemuda dan Olahraga NTT, Nahor Talan, Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi NTT, Kepala Biro Umum, Zakarias Moruk dan sejulah pejabat eselon III lainnya.

Sementara yang sudah mendahului rombongan Gubernur antara lain Kadis Pertambangan Provinsi NTT, Thobias Uly dan beberapa pejabat lainnya. Sedangkan yang akan menyusul siang dan sore ini menggunakan pesawat dari Kupang antara lai Kadis Perindustrian dan Perdagangan NTT, Burono Kupok, Kadis Kehutanan, Benediktus Pulo Mahing, Kadis P dan K NTT, Sinun Petrus Manuk, Kadis PU NTT, Andre Kore, Kepala Biro Humas, Lambertus Ibi Riti dan sejulah pejabat lainnya.

Menurut Zakarias, kegiatan hari ini adalah peninjauan calon lokasi Bandara Adonara di Lewo Buto dan calon lokasi pembangunan Bendungan. Lokasi calon Bandara seluas 25 hektar itu merupakan tanah ulayat masyarakat suku Lamabelawa yang diserahkan untuk lokasi pembangunan Bandara itu. (bop)

Komentar ANDA?