Gubernur Siap Dikritik Tapi Dalam Koridor Yang Benar

0
300

NTTsatu.com – KUPANG – Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan dia siap dikritik asalkan kritik itu dilakukan dalam koridor yang benar.

“Saya selalu siap dikritik tapi dalam koridor kepemerihtahan yang benar. Jangan sampai urusan pemerintahan ini juga diintervensi,” hal ini diungkapkan dalam sidang paripurna DPRD NTT, Senin, 17 September 2018.

Sebelum membacakan nota keuangan atas perubahan APBD provinsi NTT tahun 2018, gubernur mengungkapkan hak itu terkait insiden yang terjadi ketika menanggapi interupsi seorang anggota DPRD dalam paripurna yang dipimpin Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno.

Saat menanggapi interupsi anggota DPRD, Noviyanto Umbu Pati Lende Gubernur dengan nada keras terhadap Noviyanto. yang menginterupsi saat sidang paripurna DPRD NTT dengan agenda Pengantar Nota Keuangan atas Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Saat itu Noviyanto Umbu Pati Lende menginterupsi ingin menyampaikan beberapa hal terkait materi sidang tersebut.

Aksi yang tak lasim itu lalu diredam oleh Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno yang memimpin paripurna tersebut dan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi.

Noviyanto Umbu usai sidang kepada wartawan, mengatakan bahwa aksi yang dilakukan gubernur kepadanya adalah yang pertama terjadi di dunia khususnya di Indonesia apalagi di NTT.

“Saya ini anggota dewan dan wakil rakyat, masa saya dibentak saat menyampaikan pendapat saya soal materi sidang. Kan aneh, dan menurut saya ini baru pertama terjadi di Indonesia,” katanya seperti dilansir Okezone.

Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengatakan, dari aspek mekanisme, ini gubernur baru bisa menyampaikan pernyataan atas pernyataan anggota dewan setelah mendapat kesempatan dari pimpinan sidang.

“Nah, yang terjadi tadi itu gubernur langsung lakukan aksi membentak saya. Bahkan dia menyapa saya dengan kata ‘kau’ yang tak lazim,” katanya.

Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno menyatakan terkejut dengan aksi spontan gubernur itu. Anggota Fraksi Golkar itu mengatakan karena aksi yang dilakukan spontan maka diapun secara pontan meredam situasi agar tak meledak.

“Saya lalu spontan memegang tangan kiri gubernur untuk menenangkan beliau,” kata Anwar. (*/bp)

 

Foto: Suasana Sidang paripurna DPRD NTT, Senin, 17 September 2018

Komentar ANDA?