GURUKU WIHELMUS WEDONG WATUN TELAH PERGI

0
2176

Oleh: Thomas Tokan Pureklolon

RIP. Requescat in Pace – Ad Vitam Aeternam.

“Guru gali-guru gali
Suka goen guru gali
Guru ata gaji belen
Suka goe guru gali.”

Demikian sepenggal syair pantun yang pernah terngiang di telingaku pada tahun 1970 an, oleh sekelompok muda-mudi Tokojaeng yang berlaga di medan dolo, persis di halaman tengah sekolah lama, SDK Tokojaeng, yang terletak tidak jauh dari pantai indah Tokojaeng.

Terminologi atau kosa kata “guru” ketika itu terdengar dengan lantang diucapkan dan menjadi kosa kata mewah dalam kalangan masyarakat karena menyangkut selera kesenangan anak muda dalam memilih jodoh. Bahwa kalau mau memilih jodoh, sebaiknya pilihan pada yang berstatus guru. Seorang guru sangat dihargai dalam status kehidupan sosial, bukan saja karena dia berpendidikan tetapi lebih dari itu, ia mempunyai gaji besar yang bisa menghidupi keluarganya dan istimewah ya adalah terus berbagi dalam ilmu pengetahuan. Pokoknya, masa depan cerah kata orang medern sekarang kalau mendapat pasangan seorang guru.

Ternyata makna dan nilai kata “guru” mengalami perkembangan yang luar biasa menjadi lebih mulia, yang bukan hanya sebagai seorang guru yang bergaji besar tapi lebih dari itu, mendapat kehormatan mahkota pengabdian sebagai patriot dan pahlawan tanpa tanda jasa. Indah sekali ketika lagu baru itu hadir dengan syair tentang “Guru”:
“Terpujilah wahai engkau ibu bapa guru,
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.
Engkau patriot pahlawan bangsa,
tanpa randa jasa.”

Dua model syair lagu tersebut yang biasa didengungkan oleh muda-mudi Tokojaeng di medan dolo ketika itu ( yang sekarang sudah jadi ibu dan bapa, bahkan ada yang sudah jadi oma dan opa ), dan dalam syair lagu kedua tentang arti pentingnya sebuah pengabdian dan pelayanan sebagai seorang guru dalam makna modern, bahwa menjadi seorang guru adalah sungguh pahlawan tanpa tanda jasa.

Menjadi seorang guru berperan mengubah pola pikir dari “batu kayu” yang tidak tau huruf A-Z, tidak tau membetuk huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat-kalimat menjadi paragraf, dan paragraf menjadi sebuah teks. Kumpulan teks-teks itulah menjadi sebuah buku teks, buku ajar, buku referensi, buku ilmiah, dan lain sebagainya.

Uraian saya sampai pada bagian ini; saya sungguh tertegun, dengan memandang diriku sendiri sebagai seorang yang berasal dari Tokojaeng, yang sudah sekian jauh dan jauh sekali melangkah dalam bidang pendidikan.

Aku menyadari bahwa aku dididik dan dibentuk oleh seorang Guru Hebat, Yth. Ama Guru Wilhelmus Wedong Watun, secara khas ala Tokojaeng yang penuh dengan segala keterbatasan: sejak TK Model dulu ( namanya: “Kelas Kambing”. Ada lagu yang diajar oleh Ama Guru: “Mo dai hala, go pai hala, pere beto behin ngo. Manu tai nogo matan, tai sero wetoto”). Ada istilah khasnya Guruku: “Geri mai wawe tai, mule pito!!” Semua orang Tokojaeng tau baik, ungkapan khas Ama Guru, yang sangat rileks, unik dan penuh dengan berbagai nilai kehidupan sosial.

Nilai pendidikan yang dibentuk ketika itu, penuh dengan berbagai keterbatasan itu, kini telah tumbuh dan menjadi mozaik indah bagi semua anak didiknya yang tersebar di penjuru dunia: Jerman, Mexico, Angola, atau di tersebar di seluruh Nusantara dan Tanah Air Indomesia, dan sebagian besar ada di kampung tercinta Tokojaeng. Itu semua adalah hasil didikan dan bentukan Ama Guru goen Ama Wilhelmus Wedong Watun, lewat pendidikan dan “wejangan” kotbah rohani yang dibawakan di Gereja buat segenap umat stasi Tokojaeng tercinta.

Yth. Ama Guruku Wilhelmus Wedong Watun. Hari ini Ama Pergi Menghadap Sang Khalik.
Hari ini, saat ini Ama Guru “terbaring manis dan indah di hadapan Tuhan Yesus Kerahiman Ilahi yang penuh kasih dan sayang.” Jenazahmu disaksikan oleh Mama Oa Anna ( Ina Oa ) yang sangat setia padamu dalam ziarah hidupmu, bersama keluarga dan orang-orang kesayanmu. Hari ini Ama Guru diantar ke tempat peristirahatan terakhir bersama Sang Khalik Pencipta Langit dan bumi serta segala isinya. Dan Mahkota ciptaan hari ini, Ama Guru dan Segenap Umat Stasi Tokojaeng, Bao langun, Lamawolo yang kini menghadap hadirat Tuhan, kami mendoakan secara khusus.
Mahkota Kerajaan Surga sudah menjadi bagian hidupmu yang penuh damai, bahagia dan sukacita dalam Tuhan untuk selamanya.

Ama goen Yth. Ama Guru Wilhelmus Wedong Watun. Beristirahatlah dalam damai bersama Tuhan.
Masuklah dalam Kerajaan Surga oh Ama Guruku yang baik, yang sungguh luar biasa besar jasamu dan pengabdianmu buat segenap orang/warga dan umat stasi Tokojaeng, secara khusus dalam bidang pendidikan.

Aku berdoa:
Ya Tuhan…
Terimalah hambamu Ama Guruku Willem Wedong Watun untuk bergabung dalam Cahaya WajahMu di Surga.
Amen..

=======

Thomas Tokan Pureklolon.
Dosen Ilmu Politik FISIP, Universitas Pelita Harapan, Jakarta.

Komentar ANDA?