‘Hadir di saat yang Tepat’ Inspirasi Berbagi di tengah Bencana Alam Lembata

0
450

NTTsatu.com — LEMBATA –  “Ketika ada saudara yang menderita, apalagi berduka, maka keputusan untuk hadir itu sangat penting. Meski ada urusan pribadi dan keluarga, tetapi keluhan saudara-saudara yang menderita memiliki panggilan yang lebih kuat,” demikian Paulus Doni Ruing yang memutuskan untuk berada di Lembata selama 22 hari melayani para pengungsi meletusnya Ile Lewotolok.

Setelah mendengar dan meyaksikan letusan perdana pada 29 November, Polce tidak tinggal diam. Polce memang tengah bergerak dengan beberapa teman di Lembata yang secara khusus fokus menangani para ibu hamil dan anak balita. Tetapi hal itu belum cukup. Kebutuhan riil di lapangan terlalu besar.

Di beberapa forum lain juga telah dibuat aksi untuk membantu tetapi masih belum cukup. Dana yang diperoleh sedikit. Hal itulah yang mendorong pria kelahiran Lamtuka 25 April 1965 untuk bersinergi. “Saat bencana seperti ini, yang terbaik adalah semua bahu membahu dan bukan secara pribadi. Hal itu untuk menjamin bahwa para pengungsi tidak lapar karena ditangani secara rapi dan menjangkau semua orang”, demikian suami dari Elisabet Jaga Tolok.

Hanya jadi ‘Kaki dan Tangan’

Berkisah tentang pembentukan FML, Polce menuturkan apresiasi dan kekagumannya kepada tiga tokoh sentral. Keluarga Brigjen Anton Tifaona, Sulaiman Hamzah, dan Dr Roy Rening.

Bernard Tifaona, putera Anto Tifaona mengambil kendali memimpin forum. Saat yang genting seperti itu, wajah sang ayah yang selalu peduli hadir mendorong semua putera dan puterinya untuk terlibat. Semua anaknya paham bahwa Lembata itu seperti ‘anak’ dari bp Anton. Di saat perjuangan otonomi, Anton Tifaona menjadi Ketua Delegasinya.

Atas kesdaran itu, semua anak sangat proaktif. Dengan jaringan yang dimiliki, mereka menyapa banyak orang untuk ambil bagian. Dalam waktu relatif singkat, bantuan obat, hingga dua orang dokter relawan dikirim ke Lembata. Malah bantuan yang sukses dikumpul berkat kerja keras dari Brigjen Daniel Boli Tifaona, bisa sampai ke Lembata. Di Lembata, peralatan yang ada kemudian disumbangkan juga untuk 3 RS di Lewoleba (RS Bukit, RS Damian, dan RSU).

Sulaiman Hamzah, anggota DPR RI Dapil Papua merupakan figur lain yang sangat allout membantu pengungsi. Ia tahu, Ile Ape tetap menajdi kampung halaman, tempat lahir. Karenanya, pria yang berjuang untuk otonomi itu berjibaku membantu para korban karena tahu mereka yang bergabung dalam FML adalah orang yang ingin membabdi secara total.

Dr Stef Roy Rening, merupakan figur inspiratif. Meski bukan putera Lembata, tetapi ia malah mendorong agar semua orang perlu mengambil bagian. Keterlibatan Roy Rening bahkan membuat orang terpanggi untuk berbuat sesuatu.

Kalau figur mereka sangat penting, lalu di mana Paulus Doni Ruing yang biasa disapa “PDR?” Polce tidak memungkiri bahwa orang-orang seperti yang disebutkan yang harus ditonjolkan. Sementara Polce sendiri hanya sebagai ‘kaki dan tangan’ tidak lebih tidak kurang.

Maksudnya, ia bekerja di belakang layar untuk menggerakan dan mengumpulkan. Polce bahkan tidak mau agar namanya ada dalam jajaran FML. Bagi ayah dari Claudia Febriari Tuto Ruing dan Gerald Junior Pedang Ruing, ada momen di mana orang bisa ‘berpolitik’ untuk mencari dukungan. Namun dalam keadaan bencana seprti ini lebih baik melebur dan berbuat sesuatu dan dirasakan ketimbang mengorbitkan diri tetapi tidak berbuat apa-apa.

Baginya, lebih penting menyebutkan peran tem Jakarta yang merelakan waktu untuk turun ke Lembata: Ina Tifaona, Gabriel Goa, Wilem Lodjor, dan Rio da Silva yang tiba bersamanya di Lewoleba 8/12. Juga jauh lebih penting menyebut tema Lewoleba yang sangat proaktif: Richard Chandra, Norbenta da Silva, dan Kor Sakeng.

22 Hari di Lembata

Polce dan team awal tiba di Lembata pada 8/12 atau seminggu tepat sesudah letusan gunung. Yang dilakukan awalnya adalah memastikan kedaan di lapangan dan memetakan kondisi para pengungsi. Dari sana terlihat bahwa sekitar 3000an pengungsi ditampung di barak umum tetapi sekitar 6000an tinggal di kebun dan juga bersama keluarga.

Hal lain yang segera mengevaluasi pola penanganan pengungsi. Bagi Polce, sejak awal, para pengungsi seakan dianggap sebagai ‘orang sakit’. Padahal mereka adalah orang-orang sehat. Mereka sendiri mesti mengambil bagian dalam menolong dirinya dengan bekerja membantu mengolah mempersiapkan makanan dan bukannya dianggap seperti orang sakit yang hanya diberi makan.

Tetapi keadaan itu tidak mesti dijadikan alasan untuk mengkritik pemerintah. Bagi pembina Yayasan Koker Niko Beeker ini, apa yang dianggap keliru tidak dikritik tetapi langsung dihadirkan dalam pola kerja baru yang bisa menjadi pembelajaran. Polce misalnya memanggil semua kepala desa dari zona merah ke base camp FML. Mereka yakin, setiap kepala desa pasti paham tentang warganya, tempat menginap, sehingga akan lebih mudah memastikan bahwa semua warganya (baik yang di barak umum maupun di rumah-rumah keluarga) mendapatkan bantuan.

Selain itu kepastian data pengungsi menjadi sebuah target strategis yang ditangani FML. Dibantu Feby, puterinya, Polce memastikan agar semua orang dapat memperoleh pelayanan sebaik-baiknya. Dengan data itu, dipastikan juga bahwa masyarkat yang sakit bisa memperoleh bnatuan secara tepat pula.

Pekerjaan yagn marathon. Polce akui, selama 22 hari itu ia tidak berada 100 % di lapangan. Ia lebih mengambil jalur kontrol dan manajerial untuk memastikan bahwa semua pos diisi oleh relawan tepat sehingga dapat dipastikan bahwa semua bantuan itu tepat pada waktunya.

Saat ditanya, mengapa begitu lama ia berada di Lembata karena kalau demi tujuan politis seseorang biasanya hanya ‘mampir’ sebentar lalu pulang. Lebih lagi seperti banyak politisi, mereka akan lebih suka tampil di depan agar dapat memperoleh dukungan.

Menurut Polce, di situlah letaknya. Memang pilihan untuk hanya tampil sesaat itu jalan paling mudah dan mungkin saja dipikirkan oleh banyak orang sebagai saat mendulang dukungan. Tetapi itu tidak terpikir sama sekali olehnya. Baginya, ketulusan dan dedikasi utuh untuk ada di lapangan selama etapa darurat itulah komitmennya. Ia hanya memastikan bahwa ia ada dan hadir secara tepat pada masa tanggap Darurat yang besama teman-teman ditetapkan dari tanggal 8 – 30 Desember 2020.

Pada periode yang hampir bersamaan, team juga telah menginsiasi proses rehabilitasi (Kesehatan dan trauma healing) yang dilaksanakan mulai dari tanggal 20/12 sampai 3 Januari 2021. Selanjutnya dalam waktu dekat, team akan terus bekerja mengadakan rekonstruksi dengan memilih satu desa sebagai contoh. Rumah warga akan dibantu terutama mereka yang rumahnya sangat merasakan dampak abu vukanik yang merobohkan atapnya. Tidak hanya itu. Tahap pemberdayaan dengan membantu memberikan kecakapan hidup akan menjadi langkah strategis yang akan dilaksanakan.

Semua kerja hebat di atas bagi Polce bukan kerja pribadi. Hal itu lebih merupakan buah dari kerjasama. Dari Jakarta, koordinasi dan peran sekretaris forum, Mikael Laba Kleden sangat diparesiasi. Ada begitu banyak orang bukan dari Lembata yang dengan sukarela ingin bergabung meringankan beban sauda-saudaranya di Ile Ape.

Mengakhiri wawancara ketika ditanya, apakah kegiatan itu tidak bertujuan ‘politis?’ Polce menatap dan mengatakan ini: “Banyak orang terlalu memolisir kegiatan. Biarlah kita bicara politis di saat kampanye. Di saat saudara-saudara kita menderita, mari kita bicara tentang kepedulian kita yang tulus. Jangan semuanya dikaitkan dengan politik. Lupakan itu politik. Yang paling penting adalah hadir tepat di saat saudara-saudara kita menderita. Itulah politik yang sebenarnya”. (rb/gan)

Komentar ANDA?