Harus Berani Ambil Resiko Jika Sudah Berjanji Dengan Tuhan

0
726

Oleh : Rm. Ambros Ladjar, Pr 

Hari Minggu IV Paska, 08 Mei 2022. Minggu Panggilan se Dunia 59*.

Bac. Kisra 13: 14, 43- 52, 40-41 dan Wahyu 7: 9, 14-17 dan Injil Yoh 10: 27-30.

Pada saat ini orang merasa prihatin melihat, mendengar atau membaca dari media. Di beberapa negara eropa ada banyak gedung gereja megah dan artistik terpaksa ditutup. Ada yang beralih fungsi jadi penginapan, resto, gudang, museum, dll. Ada beberapa faktor penyebab, seperti orang tak mau repot memiliki anak lagi. Mereka membatasi jumlah kelahiran anak dalam keluarga. Selain itu para orangtua beriman yang mewarisi kebiasaan baik kepada generasi hampir tak ada lagi. Pada gilirannya tinggal orang muda yang tak peduli. Karena lebih suka sibuk urus ternak, tour dan treveling keliling dunia.

Banyak keluarga dan orang muda kita saat ini juga jadi resah, galau dan bertanya: mengapa dan untuk apa harus ke gereja? Patutkah kita sesalkan pertanyaan orang serupa atau haruskah kita marah? Karena mereka tinggalkan gereja, tak mau baca Kitab Suci lagi, malah mau tinggalkan imannya akan Kristus. Mereka yang masa bodoh biar tunggu saja saatnya mereka beralih dari dunia. Di saat keluarga datang harus kita tanya balik, bukankah dia juga orang katolik? Biar kapok dan salah tingkah, karena diajak dengan cara yang baik tak mau ikut. Mereka menjauhkan diri dari jalan hidup yang benar.

Pada Minggu Panggilan ke 59 kita merenungkan tema: *Dipanggil guna Membangun Keluarga Manusia*. Poin ini menjadi substansi bagi bapa ibu umat yang berumah tangga. Dari hidup keluarga, barulah muncul panggilan khusus. Orang bebas pilih Klerikal atau Laikal (Tahbisan atau berkaul). Menjadi imam atau bruder, frater dan suster. Hal itupun mengandaikan keluarga punya beberapa anak. Tak cukup satu, dua atau tiga anak sesuai iklan KB di negeri kita. Pengajaran Rasul Paulus dan Barnabas atas dasar kasih membuat banyak orang di Antiokhia percaya. Dengan persekutuan yang akrab dan damai juga membuat hidup Paulus dan Barnabas terancam. Biarpun ada penganiayaan namun keduanya tetap setia dan berani mewartakan Injil.

Karya pewartaan kedua rasul perdana ini membanggakan. Seringkali kita enggan dan takut bila hadapi ancaman. Iman tak boleh kendur oleh reaksi orang lain. Harus tetap pegang komitmen akan pesan Yesus. Dia sudah katakan: Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, AKU kenal mereka dan mereka mengikuti AKU dan mereka pasti tidak binasa. Jikalau kita adalah kawanan milik Bapa yang diberikan kepada Kristus, maka kita dijaga dan dilindungi-Nya terhadap siapapun yang mau merebut kita. Sekiranya Yesus sudah tunjukan peran-Nya sebagai Gembala yang setia, kitapun perlu tanya diri: apakah saya juga termasuk doma yang setia atau tidak?

Dari tema Minggu Panggilan dan ajaran Yesus perihal Gembala yang baik ada tiga pokok penting yang kita contohi dari teladan hidup Yesus Sang Gembala Agung.

🍓 Domba yang setia artinya domba yang taat mengikuti tuntunan dan petunjuk Sang Gembala. Domba yang baik tak lain adalah orang yang selalu merasa berterima kasih atas pemeliharaan dan perlindungan Kristus Gembala Agung tiap saat.

🍓 Karena Sang Gembala selalu memperhatikan kita maka kitapun sebagai gereja, umat Allah, wajib mendoakan para gembala gereja. Paus, Uskup, Imam dan Diakon agar tetap setia membimbing umat beriman menuju ke jalan yang benar, biarpun banyak menghadapi rintangan di tengah jalan.

🍓 Yesus adalah Gembala sejati yang memperhatikan kawanan domba-Nya dengan cinta dan penuh pengorbanan luar biasa. DIA pasti bersukacita bila kita kawanan-Nya saling perhatikan satu sama lain tanpa diskriminasi.

Salam sehat di Hari Minggu IV Paska buat semuanya. *Tetap taat menjalankan Prokes*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing-masing dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin 🙏🙏🙏🌹✝️🌹🎁🛍️🍇🌽🔥🤝🤝🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?