Hatiku Bersukaria Sebab IA Memperhatikan Kerendahan Hamba-Nya (Lk 1: 39 – 56)

0
369

Oleh: Rm.  Ambros Ladjar, Pr

Dalam hal pertemanan, saya ingat baik pesan bijak Kitab Putera Sirakh. Secara garis besar saya kutib demikian. *Ada kawan yang gunakan teman selama dalam Kesuka an. Saat Kesukaran, berubah jadi lawan. Ada yang bantu teman untuk keuntungan sendiri, tapi saat perang ia ambil perisai. Jangan lupakan kawan dalam per- juangan. Saat kau kaya, ia jangan lenyap dari ingatanmu* (Sir 37: 4-6). Jika ada yang salah pasti langsung sadar. Sebab kita diingatkan agar tak lupakan kebaikan orang. Bila lupa maka orang akan sindir lewat pepatah: habis manis sepah dibuang. Atau ibarat kacang lupa kulit, dll.

Gereja katolik hari ini rayakan Pesta santa Perawan Maria kunjungi Elisabet. Pesta ini sekaligus menutup rangkaian devosi gereja kepada bunda Maria di bulan Mei. Sebetul- nya praktek ini sudah lama dalam gereja sejak abad VI. Lalu Paus Urbanus VI menjadikan sebagai perayaan seluruh gereja.

Persahabatan Maria dan Elisabet bukan sarat kepentingan tapi *karena rasa peduli* satu sama lain. Dalam diri mereka ada beban hidup. Kepada Maria, malaikat Gabriel katakan, dia akan mengandung dari Roh Kudus. Tanpa ada hubungan dengan laki-laki siapapun. Lalu Elisabet sedang mengandung dalam bulan yang keenam di masa tua. Keduanya punya beban yang tak bisa dipungkiri.

Tempat kunjungan Maria kepada Elisabet di Yudea kini dikenal dengan nama *Ein Karem*. Ketika Maria memberi salam, anak dalam kandung- an Elisabet pun melonjak kegirangan. Dengan spontan kata Elisabet: Diberkati engkau di antara semua perempuan dan diberkati buah rahimmu.

Sungguh *bahagia orang yang percaya*, sebab firman Tuhan akan terlaksana. Pernyataan Elisabet membuat Maria rasa diri tanpa arti di mata Tuhan. Ia yang hina dina justru diperhatikan karena campur tangan Tuhan.

Setelah kunjungan itu, Maria tinggal tiga bulan lamanya baru pulang ke Nazaret di Galilea. Kunjungan Maria Ibu Yesus adalah kunjungan Tuhan kepada gereja, umat- Nya. Yesus mengajak kita agar memiliki *hati yang peka* agar bertindak tepat pada waktunya. Bukan daya dorong kepentingan di baliknya.

Pada akhirnya semangat kunjungan itu menjadikan kita duta kasih. Kita menjadi pembawa kasih Kristus ke dalam keseharian hidup sesama yang sulit, lantaran rasa peduli.

Salam sehat di Hari Senin buat semuanya. *Tetap taat menjaga Prokes*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing- masing dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita hidup. Amin

=======

Romo Ambros Ladjar, Pr , Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?