Hoaks ‘Tsunami’ Lewoleba (Dan Nasib Literasi Digital)

0
626

Oleh : Robert Bala

Bisa dibayangkan begitu besarnya kegalauan masyarakat Lewoleba di ujung 16/4. Sekitar pukul 23.00, tersebar isu akan adanya ‘tsunami’. Sebuah isu yang tentu tidak ada salahnya juga. Bunyi gemuruh dari gunung Ile Lewotolok membangungkan orang dari tidur. Lalu muncul berita hoaks tentang akan terjadinya tsuanmi.

Kegalauan itu tentu tidak bisa dilepaskan dari tragedi yang barusan berakhir: badai seroja yang menewaskan sekitar 45 warga dan belasan yang masih hilang. Tetapi yang jadi pertanyaan: begitu kuatkah sebauh berita hoaks? Apakah ‘si pembuat’ berita harus dipersalahkan atau rendahnya literasi digital yang dirisaukan?

Menurut American Library Association (ALA’s), literasi digital diartikan sebagi kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencari, mengevaluasi, membuat, dan mengkomunikasikan informasi yang membutuhkan keterampilan kognitif dan teknis.

Dari pengertian ini maka kepemilikan gawai digital (seperti HP, smatphone hingga laptpo) hanya bermanfaat ketika keempat elemen di atas digunakan secara penuh. Orang tidak hanya punya gawai untuk mencari, menemukan, atau bahkan juga menuliskan informasi yang diingingkan (dalamnya termasuk berita hoaks), tetapi perlu disertai tiga keahlian dasar lainnya. Butuh kemampuan mengevaluasi untuk dapat membuat dan mengkomunikasikan sesuatu secara berguna.

Dalam banyak hal, seperti yang terjadi secara ‘massal’ di Lewoleba – Lembata adalah mandeknya literasi digital dan hanya berada pada tahapan menemukan informasi. Jelasnya semua orang yang punya HP hanya memiliki kemampuan menerima kabar apa adanya dan tidak saja meneruskan tetapi bahakn mengambil tindakan ‘penyelamatan’ diri dengan beramai-ramai mengarah ke daeah yang lebih tinggi.

Yang jadi pertanyaan terutama kepada warga yang mestinya punya kemampuan analisis (oleh karena memiliki kualitas pengetahuan di atas rata-rata, termasuk para pegawai, guru, dan para lulusan perguruan tinggi lainnya) ternyata juga tidak memiliki kemampuan melampaui masyarakat pada umumnya. Jelasnya, ruang evaluasi sebagai jalan menuju kepada keputusan melakukan sesuatu ternyata tidak digunakan sama sekali.

Dalam kaitan dengan teluk Lewoleba, sebenarnya tidak perlu mendengar berita apapun (apalagi hoaks), pengenalan akan geografi wilayah mestinya menjadi pijakan. Jelasnya, kalau isu tsunami bagi Lewoleba maka dari mana asal Tsunami? Di kedalaman berapa meter atau kilometer? Dari sisi geografis, Lewoleba merupakan kota yang ‘paling terlindungi’. Kalaupun ada tsunami dari arah Utara, maka Lewoleba memiliki ‘tembok’ penahan yaitu Tanjung Tuak dan Adonara. Dari sebelah Barat kalaupun ada, Lembata terlindungi dari Pulau Solor dan Adonara. Lalu akankah tsunami itu berasal dari teluk Lewoleba? Berapa banyak kuantitas air laut yang berada di Lewoleba sehingga harus menghayutkan Lewoleba?
Kalau kepanikan berkaitan dengan gemuruh dari Ile Lewotolok, maka mengapa masyarakat lari ke daerah yang lebih tinggi? Bukankah terhadap letusan gunung orang harus mencari tempat tertutup menyembunyikan diari dari sisa letusan yang bisa menngenai? Singkatnya kepanikan itu terjadi dalam suasana yang tak logis. Memang dianggap logis bagi masyarakat tak berpendidikan. Tetapi bila kepanikan itu juga tidak sempat dilerai orang berpendidikan maka di sinilah kegalauan yang mestinya menjadi perhatian.

Literasi Geografis
Kepanikan Lewoleba yang bahkan dua korban membawa empat pemikiran yang mestinya kita tindaklanjuti bersama.

Pertama, Lewoleba dan masih banyak daerah lain di Indonesia masih lemah dalam literasi digital. Kepemilikian gawai ternyata tidak disertai kemampuan evaluasi. Hal ini membenarkan bahwa di Indonesia, meski 98% orang sudah tahu membaca, tetapi dari tingkat pemahaman (literasi), menempati nomor 60 dari 61 negara yang diteliti.

Kecemasan ini bahkan semakin bertambah karena jumlah gawai di Indonesai ternyata 125% dari jumlah penduduk. Ada sekitar 300 juta HP (sementara jumlah penduduk hanya 270 juta).Sayangnya bertambahnya gawai tetapi tidak disertai kemampuan analitisi. Kita belum bicara tentang kemampuan menggunakan peralatan digital untuk membuat sesuatu yang bermanfaat dan mengkomunikasikan sesuatu yang bermakna. Karenanya sangat dibutuhkan penajaman kemampuan analitis saat menanggapi isu tsunami misalnya.

Kedua, mudah terkecohnya orang pada berita hoaks seperti yang terjadi di Lewoleba menunjukkan bahwa kita masih terlalu mudah percaya pada hoaks. Di baliknya terdapat sederetan alasan yang mestinya kita sadari. Banyak orang yang bahkan masih mau cari ‘pahala’ dengan ikut menyebarkan berita. Misalnya: Ketiklah “Amin” untuk sebuah gambar. Orangnya juga begitu percaya akan ‘sumber’ tanpa klarifikasi apakah itu benar atau tidak, Link yang digunakan kadang menjebak. Ia misalnya gunakan nama ‘florespost’ sekadar meminjam nama koran kepercayaan Flores Pos. Berita hoaks juga mudah menyebar karena orang memang malas membaca. Sesungguhnya hal-hal dasar inilah yang mestinya menjadi kesadaran orang bila mendengar adanya

Ketiga, kepanikan di Jumat tengah malam itu dengan segera diikuti upaya mencari ‘si penyebar’ berita hoaks. Untuk hal ini wajar adanya. Menyebarkan berita hoaks di tengah masyarakat yang tengah masih menderita akibat badai seroja dan terutama para pengungsi yang masih hidup traumatis di tenda-tenda, adalah tindakan yang sangat tidak terpuji. Sesungguhnya hal-hal dasar inilah yang mestinya menjadi kesadaran orang bila mendengar adanya

Sesungguhnya hal ini tidak terlalu sulit.Jejak digital bisa menjadi jalan ditemukan isu awal. Tetapi apakah kita juga perlu mencari orang-orang yang begitu cepat percaya yang memiliki daya literasi rendah? Kita bisa mengatakan bahwa di tengah era digital seperti ini begitu mudahnya memperoleh informasi. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan analitis untuk memverifikasi apakah sebuah berita itu benar atau tidak. Karenanya mencari penyebar itu wajar-wajar saja, tetapi seharusnya kita yang begitu mduah cepat percaya termasuk juga pelaku lapis kedua. Mereka yang dianggap berpendidiakn karena itu juga bertanggungjawab karena di tengah kepanikan, mereka juga tidak bisa melerai dengan sikap kritisnya.

Keempat, butuh literasi geografis. Muatan lokal kurikulum sebenarnya memberi ruang kepada sekolah menanamkan pengenalan yang mendalam tentang letak geografis wilayahnya. Harus diakui, para guru lebih fokus megnembangkan buku pelajaran yang didatangkan dari luar dan minim upaya pengenalan akan lingkungan. Sebuah kemunduran sebenarnya. Penulis di saat kecil di SD tahun 70an, guru Yohanes Baha Tolok mengajarkan tentang bukit, gunung, sungai, air yang berada di sekitarnya. Itulah pelajaran geografi awal. Dari sana baru kita belajar tentang daerah luar. Lalu apakah guru-guru di Lewoleba mengajarkan tentang letak Lewoleba? Apakah diajarkan tentang peran Tanjung Tuak? Apakah masyarakat di lereng Ile Lewotolok diajarkan tentang posisi tanah – hutan yang ada di atasnya yang bila semakin digunduli maka suatu saat bisa menyebabkan banjir bandang? Apakah anak-anak mengetahui tipe gunung api dari Ile Lewotolok, tipe gunung Ile Adowajo (kalau Batutara kejauhan) dan mengenal tanda-tandanya? Apakah orang mengenal bahwa Ile Hobal merupakan gunung dasar laut teraktif di Indonesia?

Pertanyaan ini sebenarnya hanya mengumpan bahwa bencana yang semakin banyak akan terjadi sesuai dengan kondisi gegorafis di wilayahnya masing-masing. Dengan mengenal secara geografis maka bisa ditentukan tindakan evakuasi. Tragedi 16/4 di Lewoleba karena itu menjadi pembelajaran yang sangat bermanfaat.

========

Penulis adalah Narasumber Literasi Digital MPK Keuskupan Agung Medang 4/3/2021. Penulis buku Pembelajaran Jarak Jauh yang Kreatif (Terbit E-book di Gramedia, Akhir April 2021).

Komentar ANDA?