Hutan Sudah Menjadi Sejarah Adat Orang Manggarai

0
322
Foto : Yuvens Janggat Ketua LSM Sejahtera Desaku (Tengah bajuh Putih) saat diskusi bersama elemen penting budaya dan pariwisata

BERBICARA soal hutan yang sekarang menjadi salah satu fokus perhatian dunia sebagai salah satu paru-paru dunia,  sebelumnya sejarah   filosofi adat  menghargai hutan sudah terjadi pada abad-abad lalu diperlakukan sebagai Anak Rona.  Anak Rona dalam bahasa Manggarai diartikan secara harafiah  artinya anak  laki-laki  sebagai sumber atau akar kehidupan yang dapat  membawa berkah maupun rejeki  untuk kehidupan.

Hal ini dikatakan Yuvens Janggat Ketua Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) Sejahtera Desaku yang  juga fokus dalam pelestarian hutan dan lingkungan di Manggarai dalam diskusi bersama NTTsatu.com di Dapur D-Marta, Kamis, 16 Juni 2016.

Dia mengatakan ,sebelum dunia mencanangkan program  pelestarian hutan di dunia, masyarakat Manggarai memberikan penghargaan terhadap hutan sebagai Mori atau Tuhan.

“Molas poco tiang penyangga utama rumah gendang rumah adat Manggarai dipilih dari hutan sebagai anak rona,” katanya.

Siri bongkok Tiang penyangga utama rumah adat masyarakat Manggarai dipilih gadis cantik  dari hutan dijadikan  penyangga utama rumah adat dalam  satu kampung sebagai pelindung lawa beo warga kampung adat, dapat  dibuktikan adanya ritus roko molas poco sebuah seremonial  memilih gadis atau molas diartikan sebagai pohon rindang, kokoh dan kuat untuk dijadikan tiang penyangga utama rumah adat orang Manggarai

Selain itu, dalam acara adat persembahan Hese Ngando ritus pemasangan tiang utama rumah warga ataupun acara persembahan lainya, torok seorang jubir adat sering mengatakan senget le meu Le sebuah ungkapan doa adat sebagai bentuk penghargaan terhadap anak rona hutan.

Le diartikan Poco atau hutan sebagai bentuk penghargaan terhadap anak rona,” jelas Juvens Janggat.

Sementara Melki Pantur Ketua LSM Studi dan Sejarah Budaya masyarakat Manggarai mengungkapkan, selain sebagai molas poco, hutan juga dihargai dengan memberi nama-nama kampung adat Manggarai berdasarkan nama-nama pohon di hutan misalnya nama kota Ruteng diambil dari nama kampung adat Ruteng Pu’u.

“Ruteng artinya pohon beringin, pohon nan rindang kuat dan kokoh tak tergoyahan,” katanya.

Selain itu nama kampung adat lain seperti Waso, Kenda,  dan masih banyak  kampung  lainya di Manggarai. “Yang tidak memberikan  nama  dari nama jenis pohon di hutan, pasti mempunyai sejarah khusus  tetapi tetap menjadikan hutan sebagai anak rona,” tandas Pantur. (hironimus dale)

 

Komentar ANDA?