IA Memberitakan Firman Kepada Mereka Sesuai Pemahaman

0
243

Oleh: Rm. Ambros Ladjar, Pr 

*Hari Minggu Pekan XI Masa Biasa, 16 Juni 2024*. Bacaan. Yeh 17: 22-24 & 2Kor 5: 6-10 dan Injil Mk 4: 26 – 34.

Pohon yang tumbuh sejak awal tidak saja ditanam bibit, benihnya, berupa biji-bijian melainkan juga bisa berupa stek, akar, umbi, dsb. Hal ini disinggung juga dalam Kitab Nabi Yehezkiel dan narasi Injil hari ini tentang benih yang tumbuh dan biji sesawi. Irama tumbuhnya pelan tapi pasti yang tak dilihat dengan mata telanjang namun setiap hari terus bertumbuh tanpa diatur. Yesus gunakan kenyataan hukum alam ini agar orang pada saat itu bisa memahami ajaran-Nya.

Menurut Yesus, Kerajaan Surga itu adalah ‘kenyataan hidup yang memberikan sukacita, kebahagiaan dan damai’. Nilai nilai ini ditopang oleh kemampuan bertumbuh dalam perjalanan hidup yang baik dan benar. Penanaman nilai itu lewat proses panjang semenjak awal. Tampaknya memang sederhana akan tetapi ada harapan agar kelak memberikan hasil ybk bagi semua orang. Benih yang ditaburkan atau ditanam itu bisa menjadi pohon besar yang memberikan manfaat. Tentu tak cuma memberikan naungan dan keteduhan dari panas tapi juga buah bagi mereka yang kelaparan.

Banyak orang ‘terobsesi untuk membuat hidupnya barguna’ bagi sesamanya. Hal ini dapat terwujud jika sejak awal hidupnya sudah ditanamkan sejumlah nilai iman, moral, etika dan segala nilai tradisi positif lainnya. Tanpa disadari segala nilai itu menjadi daya penguat yang mendorong orang agar mampu mengekspresikan arti kehidupannya. Sekiranya orang mampu mewujudkan hal itu sesuai situasi dan kondisinya yang tepat maka hidupnya pun bakal menjadi seperti pohon besar. Ia bisa memberikan perlindungan, menjadi pengayom dan sandaran hidup.

Dari perumpamaan Yesus ini, kita coba melihat diri kita masing-masing, apa yang sudah kita miliki. Menurut Nabi Yehezkiel, inisiatif yang baik selalu datang dari Tuhan Allah. Masalahnya apakah kita mempunyai kemauan merobah perilaku kita? Jika perilaku baik maka menginspirasi orang lain untuk berkembang, bahkan menjadikan pola hidup itu cerminan tingkahlaku. Di sisi lain, jika pola hidup kita jelek dan susah dirobah maka kita bakal takan berguna, biarpun diusahakan dengan cara apapun. Karena kita tak punya niat baik untuk berkembang menjadi pribadi yang baik dan berdaya guna.

Seturut rasul Paulus, hidup di bumi ini tak abadi. Sehebat hebatnya manusia, hidup itu ada masanya sebab segalanya akan ditinggalkan suatu ketika. Olehnya kita dipanggil agar menciptakan suasana hidup mirip kerajaan Allah. Kita berlaku menjadi pembawa suasana kesejukan hidup. Tak boleh jadi biang kerok perbantahan dalam jalinan relasi satu sama lain. Di situ kita wujudkan arti hidup yang bersukacita dan bergembira. Sikap serupa itu dapat terwujud bilamana kita memiliki inovasi dan kreativitas ibarat benih yang tumbuh dan berkembang seturut irama alam. Apakah kita sudahkah berkembang menyerupai benih yang baik yang mewarnai kehidupan masyarakat luas?

*Salam Seroja, Sehat Rohani dan jasmani* di Hari Minggu buat semuanya. Jikalau ADA, Bersyukurlah. Jika TIDAK ADA, BerDOALAH. Jikalau BELUM ada, BerUSAHALAH. Jikalau masih KURANG Ber- SABARLAH. Jika LEBIH maka BerBAGI LAH. Jika CUKUP, berSUKACITALAH. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga anda dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin🙏🙏🙏🌹🌹✝️🪷🪷🤝🤝🎁🛍️💰🍇🍇🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang 

Komentar ANDA?