Indonesia Mudah Pecah Akibat Hoax dan Ujaran Kebencian

0
250
Foto: Anggota Komisi I DPR RI Andreas Hugo Parera sedang berbicara di depan ratusan mahasiswa IKIP Muhammadiyah Maumere pada Seminar Pahami ITE, Bijak Menangkal Hoax, Jumat (13/10) di aula kampus itu di Jalan Sudirman Maumere

NTTsatu.com – MAUMERE – Dunia digitalisasi kini sudah meluas di Indonesia. Banyak pengguna memanfaatkan secara positip, tapi tidak sedikit pun yang mengelola negatif. Berita hoax dan ujaran kebencian pun disebarluaskan dengan bebas untuk mempengaruhi opini orang lain. Indonesia bisa jadi mudah pecah akibat agitasi dan hasutan berita hoax dan ujaran kebencian.

Anggota Komisi I DPR RI Andreas Hugo Parera menyebut hoax dan ujaran kebencian bisa menjadi ancaman yang berbahaya bagi bangsa dan negara ini. Karena itu dia memberikan apresiasi atas ketegasan sikap pemerintah terhadap penyebar hoax dan ujaran kebencian.

“Kita membanggakan diri sebagai bangsa yang toleran, bangsa yang  bisa menerima orang lain, tetapi suatu saat bisa menjadi bangsa yang intoleran terhadap orang lain, kalau kita menyebarluaskan informasi hoax dan ujaran kebencian,” ujar dia di depan ratusan mahasiswa IKIP Muhammadiyah Maumere, Jumat (13/10) di aula kampus itu.

Negara ini, kata politisi PDI Perjuangan ini, menurut sebuah lembaga yang memantau perkembangan dunia maya, mendapat nilai 7,3 atau rangking yang cukup tinggi dalam penyebaran informasi hoax dan ujaran kebencian. Fakta ini menyebutkan, jika pengguna media sosial di Indonesia terus berperilaku hoax dan ujaran kebencian, maka masyaraktnya mudah pecah.

Sebagai negara keempat terbesar di dunia setelah Cina, India, dan Amerika, data menunjukkan tercacat 132,7 juta penduduk Indonesia yang mengakses dunia maya. Di antara par apengguna itu, sebanyak 106 juta yang aktif.

“Bayangkan, kalau setiap hari ada yang tulis sedikit saja, begitu ramainya lalulintas dunia maya. Begitu sibuknya kehidupan di dunia maya, lebih sibuk dari dunia nyata,” ujar dia.

Karena itu wakil rakyat asal Maumere Kabupaten Sikka ini menyarankan agar pengguna media sosial benar-benar memanfaatkan media sosial untuk kepentingan yang positip. Terhadap sebuah berita dan informasi di media sosial, perlu dilakukan klarifikasi yang tepat sebelum disebarluaskan.

Sementara itu Sataf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Sosial Kementerian Kominfo RI Gun Gun Siswadi menyebutkan antara lain 9 manfaat media sosial, yaitu media penyebaran informasi, pembentukan opini publik, sarana edukasi dan sosialisasi, mengklarifikasi isu, sebagai branding, pemasaran dan bisnis, mobilisasi publik, gerakan sosial, dan membangun komunikasi khusus.

Kementerian Kominfo telah mengantisipasi penggunaan media sosial yang melanggar aturan. Pada tahun 2016 lembaga ini telah memblokir kurang lebih 800.000 situs yang isinya berupa informasi negatif seperti pornografi, radikalisme, terorsisme, narkoba, dan perjudian. Upaya ini dilakukan agar pengguna media sosial memanfaatkan media sisoal secara benar dan tepat.
Gun Gun Siswadi dengan jumlah pengguna media sosial yang tinggi di Indonesia, maka lalulintas berita-berita hoax di media sosial juga cukup tinggi.

Karena itu kepada mahasiswa IKIP Muhammadiyah dia mengingatkan agar pandai-pandai menghadapi berita apa saja yang ditemukan di media sosial.

“Hoax berseliweran di dunia maya, karena itu harus pandai-pandai antisipasi, jangan sampai kita jadi korban hoax, atau justeru menjadi penyebar hoax. Jangan mau menjadi penyebar hoax, terutama mahasiswa, karena biasanya sasaran berita hoax adalah mahasiswa yang usianya 18-35 tahun, generasi milenial, generasi digital,” ujar dia.

Terkait berita hoax, Gun Gun Siswadi mengatakan pemerintah bekerjsama dengan DPR RI telah melakukan berbagai upaya untuk menangkal. Namun kerja dua lembaga ini tidak bisa sempurna jika tidak didukung oleh masyarakat. Dia mengajak masyarakat khususnya generasi muda, untuk ikut aktif mengambil peran menangkal berita-berita hoax.
Andreas Hugo Parera dan Gun Gun Siswadi tampil berbicara pada seminar yang mengangkat tajuk Pahami ITE, Bijak Menangkal Hoax. Selain dua pembicara ini, ikut sebagai narasumber adalah Rektor IKIP Muhammadiyah Roja Abdul Nasir. Literasi media soaial ini adalah kerja sama antara antara Kementerian Kominfo RI dan anggota Komisi I DPR RI. (vic)

Komentar ANDA?