Ini Kronologi Tiga Pertemuan Dengan Freeport versi Setya Novanto

0
189

Ketua DPR RI, Setya Novanto

 

NTTsatu.com – Polemik pencatutan nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla oleh Ketua DPR Setya Novento (SN) tak kunjung usai. SN dilaporkan Menteri ESDM Sudirman Said pada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR atas dugaan meminta 20 persen saham perseroan dan meminta jatah 49 persen saham proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Urumuka, Papua pada PT Freeport Indonesia (PTFI).

Seorang berinisial SN dalam transkrip yang beredar diduga adalah Setya Novanto. Sedangkan seorang yang berinisial MS diperkirakan ialah Direktur Utama PTFI Maroef Sjamsuddin. Kemudian pengusaha minyak besar M Riza Chalid diduga ialah yang dilaporkan Sudirman berinisial R.

Melalui penasihat hukumnya, Lucas SH, SN menjelaskan rangkaian pertemuannya dengan Direktur Utama PTFI berinisial MS. Pertemuan tersebut terjadi sebanyak tiga kali.

Lucas menjelaskan bahwa pada Senin (27/04) ketika pukul 14.00 WIB, MS datang menemui SN di Ruang Ketua DPR, Kompleks Parlemen DPR, Senayan, Jakarta. MS hadir dengan tujuan meminta bantuan agar SN dapat meyakinkan pemerintah untuk dapat memperpanjang kontrak dengan Freeport.

Menurut Lucas, pertemuan itu menghasilkan kesimpulan bahwa kontrak PTFI tidak dapat diperpanjang karena bertentangan dengan Undang-Undang.

Jika Ketua DPR dapat membantu perpanjangan kontrak Freeport maka ada imbalan, namun sebaliknya jika kontrak Freeport tidak diperpanjang maka akan ada arbitrase internasional terhadap Indonesia di bulan Juli 2015, kata Lucas dalam pesan singkatnya, Selasa (17/11).

Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, SN menemui Presiden Jokowi untuk menanyakan sikap Jokowi terhadap perpanjangan kontrak PTFI.

Lucas mengungkapkan bahwa saat itu Jokowi dengan tegas menyampaikan bahwa, kontrak PTFI tidak dapat diperpanjang karena melanggar Undang-Undang.

Kalaupun mau diperpanjang harus diubah dengan kondisi yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia dan Papua. Selain itu, seharusnya hal ini tidak perlu dibahas sekarang karena baru akan jatuh tempo 2021, sehingga kalau mau dibahas nanti pada tahun 2019, terangnya.

Lucas menilai setelah pertemuan dengan Jokowi, SN menjadi penasaran dan khawatir, mengapa Freeport begitu antusias. Selain itu, SN juga ingin mengetahui lebih jauh mengenai ancaman arbitrase internasional.

Oleh karena itu, menurut Lucas, SN meminta bantuan seorang pengusaha berinisial R yang berkelas internasional untuk ikut dalam pertemuan agar mendengar, memberikan masukan, dan menjadi saksi dalam pertemuan tersebut.

Sebelum pertemuan kedua terjadi, Lucas menuturkan bahwa SN dan R terlebih dahulu sepakat bahwa kontrak PTFI tidak mungkin bisa diperpanjang. Dasar pemikirannya ialah karena melanggar Undang-Undang, merugikan Indonesia dan Papua.

Perpanjangan Freeport harus dicegah, namun dalam sisi lain tetap harus memperhatikan ancaman arbitrase internasional, ulasnya.

Kemudian pertemuan kedua terjadi pada Rabu (13/5/2015) pada pukul 17.00 WIB. Dalam pertemuan di Ritz Calton Pacific Place Lantai 21 Board 1 itu, sikap dari PTFI tidak berubah, malah semakin bersemangat.

Apalagi ketika dipancing oleh SN seolah-olah ada jalan untuk perpanjang kontrak Freeport, namun pembicaraan tersebut belum juga tuntas dan dilanjutkan dengan pertemuan yang ketiga, ungkapnya.

Lucas tak merinci secara jelas apa topik obrolan dan kesimpulan dalam pertemuan kedua itu. Selanjutnya sebulan kemudian dalam pertemuan yang ketiga di Ritz Calton Pacific Place Lantai 21 Board 1, Senin (08/6/2015) pukul 16.00 WIB, MS begitu antusias dan bersemangat.

Sementara ketika itu, Lucas mengklaim bahwa SN dan R sama sekali tidak tertarik dengan segala iming-iming dari PTFI. Setelah pertemuan ketiga tersebut, Lucas menjelaskan bahwa tidak ada pertemuan lagi.

Melihat gelagat (MS) yang tidak beres dan setelah mengetahui siapa yang ada di balik semua ini, maka SN dan R mengakhiri pertemuan tersebut dan sebelum pertemuan ini diakhiri, SN membisiki MS dengan kalimat kita orang Indonesia, harus cinta Indonesia, bela kepentingan Indonesia dan tidak hanya berdiri di atas kepentingan Freeport, pungkasnya. (sumber: merdeka.com)

Komentar ANDA?