Ini NTT, Bung! (Tanggapan terhadap Ciutan Herman Musakabe)

0
546

Oleh: Robert Bala

Cuitan Herman Musakabe (gubernur NTT 1993-1998) di WA Group, tentang kekecewaan karena identitas NTT tidak diakomodir dalam penetapan Penjabat Gubernur NTT bisa dipahami. Dengan mengangkat analogi Jabar dan Banten yang tidak mungkin mengangkat gubernur yang bukan Islam untuk ditempatkan di sana, bisa dimengerti. Penempatan seseorang harus juga memerhatikan ‘identitas’ daerah.

Pada sisi lain kekecewaan akan 3 nama yang diusulkan oleh DPRD NTT (Irjenpol Rudy Rodja, Dr Umbu Paty, dan Dr Inosensiu Samsul) pun masih bisa diterima. Yang jadi pertanyaan, apakah kekecewaan itu begitu kuat hingga orang sekelas Musakabe meminta Ketua DPRD NTT Emilia Julia Nomleni untuk meneruskannya ke Jokowi?

NTT sebagai Nusa Teratas Toleransi sudah banyak menyajikan kisah-kisah menawan. Hal itu kerap kita ceritakan dengan bangga untuk teman-teman di luar NTT ketahui. Kepanitian Pembangunan Masjid atau Gereja yang diketuai oleh orang bukan seagama menjadi hal yang terasa aneh tetapi nyata di NTT. Hal seperti itu tidak bisa dipahami karena yang terjadi di daerah lain justru IMB yan bisa terkatung-katung. Izin yang sudah diperoleh digugat lagi dan nasibnya dibiarkan begitu saja. Ketika ditanya, mengapa bisa begitu, jawaban ringan: “Ini NTT, Bung!”

Kehadiran group Kasidah dalam acara gerejani khususnya dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) merupakan hal yang sering disaksikan. Demikian juga Orang Muda Katolik (OMK) kerap membawakan acara dalam acara yang diadakan teman-temannya dari “REMAS’ (Remaja Masjid) adalah hal biasa. Kalau ditanya, mengapa bisa begitu, maka jawabannya pasti: “Ini NTT, Bung!”.

Dalam acara prosesi salib keliling Lembata pada tahun Yubliem misalnya justru dikawal oleh kaum muslim. Acara serupa di Larantuka saat prosesi Jumat Agung, kaum muslim begitu kontributif. Kalau pun ada kekacauan, merekalah yang pasti akan menjadi terdepan membela saudara-saudaranya Nasrani yang tengah beribadah. Kalau ditanya, mengapa bisa seperti itu, jawabannya tegas: “Ini NTT, Bung!”.

Ini belum cukup kalau dikaitkan dengan jabatan pemerintahan. Kalau kantor dinas lain tentu masih bisa dipahami. Di Lembata, saat ini, Kepala Kemenag adalah seorang muslim. Agak aneh karena orang Katolik adalah mayoritas dan menyangkut urusan agama, harusnya tidak ada kompromi. Tetapi di kabupaten pulau ini, Kepala Kemenag seoragn muslim. Kalau ditanya, mengapa bisa seperti itu? Jawabannya tak bisa dibantah: “Ini NTT, Bung!”.

Lalu mengapa latar belakang agama dari penjabat gubernur NTT bisa dipersoalkan oleh seorang sesepuh yang semestinya sudah melampaui kegalauan seperti ini? Memang, sebagai seorang yang telah kembali menajdi sipil (setelah pensiun tentara dan sudah tidak menjadi gubernur lagi) Musakabe adalah warga sipil punya hak untuk bersuara. Ia juga punya hak mempertanyakan Jokowi yang tidak menghargai aspirasi dari DPRD.

Yang terlupakan bahwa ungkapan itu tidak melihat darah Adonara yang mengalir dalam diri Penjabat Gubernur. Hal ini akan mengingatkan kita pada alm Frans Lebu Raya yang mengangkat kadar toleransi dan penghargaan dari masyarakat Adonara saat makan semeja dengan saudaranya yang muslim. Di sana daging B2 yang tentu sangat diharamkan tidak ditolak ketika seseorang semeja makan dengan saudaranya yang Kristen. Adaat setempat hanya mengharuskannya membalikkan piringnya sebagai tanda ia tidak memakan daging babi. Kalau orang luar memerhatikan hal ini dan bertanya mengapa bisa begitu maka jawabannya telak: “Ini NTT, Bung!”

Jedah Positif

Masa jabatan penjabat gubernur NTT yang hanya 1 tahun lebih sebenarnya merupakan jedah. Kalau pun bisa diangkat dalam konteks ‘identitas agama’ (baik Protestan maupun Katolik), maka mestinya hal ini lebih dilihat sebagai sebuah jedah positif. Mengapa?

Pertama, meski tidak tertulis tetapi saat pilkada gubernur NTT, isu agama selalu hadir. Rakyat kemudian digiring untuk memilih gubernur yang ‘segereja’ entah Protestan atau Katolik (saya tidak gunakan Protestan dan Katolik sebagai agama berbeda karena keduanya itu sama-sama satu agama yaitu Kristen tetapi beda Gereja).

Tendensi seperti ini yang mestinya dipikirkan kembali di satu tahun ini. Penjabat Gubernur yang tidak segama justru memberi warna bahwa untuk menjadi pimpinan bukan soal kompetensi agama tetapi kepada kualitas kepemimpinan. Dengan demikian bukan soal agama tetapi sejauh mana kompetensi diri dan profesionalismenya bisa memimpin rakyat. Dengan demikian ketika seseorang gagal jadi gubernur maka tidak dikaitkan dengan agama tetapi itu hanyalah ‘identitas tambahan’ yang tidak ada kaitan dengan agama / gereja.

Kedua, kehadiran pimpinan yang bukan ‘seagama’ juga menjadi momen kritis terhadap kekristenan di NTT. Jadi pertanyaan, apa yang membedakan seorang gubernur yang Kristen (Katolik atau Protestan) dan bukan? Apakah kualitas kepempinan yang seagama terasa berbeda dalam kepemimpinan?

Kehadiran seorang pemimpin muslim di daerah asalnya mesitnya sekaligus menjadi sebuah otokritik terhadap sejauh mana kekristenan itu telah menyerap. Minimal kita mengingat kata-kata penuh arti dari Mahatma Gandhi: “I like your Christ, but not your Christianity” (saya suka Kristusmu tetapi saya tidak suka kekristenan (cara hidup). Artinya, kehadiran pemimpin Kristen (Katolik dan Protestan) telah menjadi sebuah kebanggan. Tetapi sejauh mana nilai-nilai kekristenan itu diwujudkan? Ini sebuah pertanyaan reflektif yang pas untuk setahun jedah ini.

Pada akahrinya dengan kesadaran seperti ini kita akan lebih mudah membuka tangan menerima kehadiran Ayodhia Kalake. Dengan pengalaman sebagai seorang birokrat handal hingga menduduki jabatan Sekretaris Kemenkomarkes, maka ia merupakan pemimpin yang mumpuni.

Lebih lagi dengan pengalaman di Kemenlu dan pernah bertugas di Jerman dan Spanyol, menunjukkan bahwa kualitas dirinya berada di atas rata-rata. NTT butuh figur yang bisa menyiapkan masyarakatnya untuk bersaing di dunia luar, hal yang selalu dijanjikan Victor Laiskodat.

Secara pribadi, saya malah optimis. Latar belakang sama-sama pernah belajar di Madrid Spanyol, saya justru optimis sambil mengucapkan Gracias (terima kasih) dan bienvenido (selamat datang), sambil berucap: Kalau ada sedikit kegalauan dan kekecewaan dari sesepuh maka anggaplah itu hanyalah harapan dari orang tua agar setelah setahun berada di tanah leluhur, kami lebih ‘pede’ berucap: “Ini NTT, Bung!”.

======

Penulis adalah  Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Facultad Ciencia Politica, Universidad Complutense de Madrid – Spanyol.

Komentar ANDA?