Inilah Tubuh-Ku, inilah Darah-Ku. Mk 16: 22 – 26.

0
542

Oleh: Rm, Ambros Ladjar, Pr

Hari raya Roti Tak Beragi dan Paska Yahudi adalah paket perayaan yang sarat makna. Perayaan Roti tak beragi itu berlangsung selama tujuh hari, setelah Paska. *Roti besar yang dibakar itu tanpa ragi*, sebagai peringatan akan pembebasan dari perbudakan di tanah Mesir. Mereka berikrar agar kenangan ini akan terus diulangi. Sebab itu ketika Musa turun dari Gunung Sinai, dipersembahkan darah lembu jantan dan darah itu disiram pada mezbah lalu diambilnya Kitab Perjanjian dan dibacakan.

Seluruh jamaat dari ke12 suku Israel itu mendengar dan berkata: “Segala firman Tuhan akan kami laksanakan dan kami taati”. Musa mereciki mereka semua dengan darah dan berkata: *inilah darah perjanjian yang diikat Tuhan dengan kamu!*.

Jika dipahami baik semua kisah Injil, Yesus itu figur yang menarik. Ke mana pun pergi, Dia selalu diikuti oleh banyak orang. Sejak dari Galilea tanah asal-Nya dan sepanjang jalan dari wilayah utara sampai Yerusalem di Yudea. Paling heboh ketika IA masuk kota Yerusalem dan disambut orang banyak ibarat seorang raja.

Otomatis menggemparkan seluruh kota, yang ramai dipadati para peziarah. Hal ini yang dilihat para lawan Yesus dengan sebelah mata. Tuduhan mereka bahwa Yesus mau buat gerakan massa untuk berontak dan membangun kerajaan baru.

Anggapan ini kemudian diuji Pilatus lagi dalam pengadilan. *Apakah anda ini raja?* Yesus jawab: benar, Saya raja. Tapi kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. “Sekiranya kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku sudah melawan, agar Aku tidak diserahkan ke tangan orang Yahudi. Tapi kerajaan-Ku bukan dari sini” (Yoh 18,36).

Para murid memang tahu baik adat kebiasaan Yahudi. Di hari pertama Roti tak beragi, mereka tanya langsung kepada Yesus: dimana kami harus siapkan tempat perjamuan bagi-Mu? Kata Yesus: kamu akan bertemu orang yang membawa kendi berisi air dan tanyakan saja tempatnya.

Tampaknya bahwa tempat yang sudah tersiap itu, sudah diketahui Yesus. Memang jelas bahwa *Yesus datang bukan sebagai Mesias yang hendak membangun kerajaan-Nya di dunia dan melawan penjajah*. Mesias yang datang itu memperkenalkan Allah yang dapat mereka dekati. Allah yang bisa dijangkau orang banyak di Yerusalem. Bukan lewat ritual kurban, tapi lewat pribadi Yesus yang berani berkurban di atas Salib.

Yesus membuat Roti dan Anggur perjamuan pada malam itu menjadi pemberian diri-Nya; bagi mereka yang ikut makan minum bersama. Ketika sedang makan, Yesus mengambil Roti. Ia mengucap berkat, memecahkan Roti itu dan membaginya seraya berkata: *Inilah tubuh-Ku*. Lalu mengambil cawan, Ia mengucap syukur, memberi mereka semua minum dan berkata: *Inilah darah-Ku* (Mk 14: 22 & 24).

Apa yang dilakukan Yesus adalah sebuah ajakan bagi mereka yang ikut serta dalam perjamuan itu. Tujuannya agar selalu menyadari bahwa mereka bersatu dengan Yesus yang kini menjadi tanda keselamatan untuk banyak orang.

Jikalau saat ini masa normal, tanpa pandemi maka pasti hari ini sebagian besar gereja katolik adakan Komuni pertama. Hal ini bertepatan dengan HR Tubuh dan Darah Kristus. Kita kenangkan secara khusus peristiwa penebusan Yesus dengan mengurbankan diri-Nya di salib.

Bagi generasi bermakna agar terus memahami arti Sakramen Mahakudus itu dan menghayati dalam hidup. Pada akhirnya mereka akan menjadi pembagi berkat dan kasih Tuhan bagi orang lain. Di situ ada korekasi bacaan Injil sebagai penyempurna Perjanjian Lama dalam Kitab Keluaran. Karena itu kita bersyukur atas karunia khusus ini, sebab diri kita yang berdosa dimurnikan dan martabat kita diangkat ke hadirat Tuhan.

Marilah kita berlaku pantas, menghadiri perayaan Ekaristi ini. Tanda keselamatan dan persatuan kita dengan Yesus Kristus Putera Allah yang wafat di Salib.

Salam sehat di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus buat semuanya. *Tetap taat menjaga Prokes*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing- masing dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita hidup. Amin

======

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?