Jaghur Stefanus dan Seni Memuat Pilihan

0
866
Foto: Jaghur Stefanus bakal calon bupati Manggarai Timur yang akan mendampingi Agas Andreas dalam Pilkada tahun depan

POLITIK adalah seni membuat pilihan. Setiap pilihan menciptakan risiko. Sebagai seni, politik tidak hanya berhenti pada pilihan, tetapi mengelola pilihan itu untuk membuahkan berkah dan kebaikan bagi semua orang.

Di antara banyak orang yang membuat pilihan berpolitik di Manggarai Timur (Matim), adalah seorang tokoh bernama Jaghur Stefanus, tinggal di Borong. Ia mengenal Borong (sekarang  ibukota Kabupaten Manggarai Timur) sejak usianya masih remaja. Tahun 1973, ia belajar di SMP Pancasila Borong (sekarang SMP Negeri 1 Borong). Tamat kuliah pada tahun 1986 dari Universitas Cendana Kupang, Jaghur Stefanus kembali kampung halamannya untuk mengabadikan ilmu.

Di usia mudanya, ia menjadi pendidik di SMA Pancasila Borong. Borong pun menjadi rumah kedua setelah kampung halamannya di Manus, Kecamatan Kota Komba.

Di kampung, ketika masa kecil sebelum menamatkan SD Mukun I pada tahun 1973, Jaghur Stefanus disapa Fanus. Di Borong, Jaghur Stefanus sering disapa bapak Stef atau bapa Tatan atau om bapa Tatan. Tatan dengan nama panjang Yonathan Agustino Fandri adalah anak  “papa ngasang atau anak pertama” dari bapak Stef.

Setelah mengajar di SMA Pancasila Borong, bapak Stef cukup lama berkerja di BKKBN sejak tahun 1992-2004. Statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Sebagai Ajun Program Keluarga Berencana (KB), ia mengenal baik para orang tua dan perkembangan masyarakat di wilayah Borong dan Ranamese melalui sosialisasi dan penyuluhan.

Pada tahun 2004, Bupati Manggarai Antonius Bagul Dagur mengangkat Jaghur Stefanus sebagai Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Borong. Dua tahun berselang, Bupati Christian Rotok melantiknya menjadi camat Borong dalam rangka menyiapkan terbentuknya Kabupaten Manggarai Timur. Saat itu, Kecamatan Borong menjadi starting point demi melancarkan terbentuknya sebuah kabupaten baru, yakni Manggarai Timur.

Sejak terlantik sebagai camat Borong pada tahun 2006, Jaghur Stefanus menjadi camat paling sibuk di Kabupaten Manggarai. Sebagai camat, ia harus menjamu para tamu baik pejabat pemerintah maupun politik yang datang ke Borong dalam rangka pembentukan Kabupaten Manggarai Timur. Jamuan dan penginapan harus dipersiapkan atas  koordinasi camat Borong. Dengan ketersediaan dana yang terbatas, camat Borong harus memberikan kesan terbaik bagi para tamu tersebut.

Demi antusiasme masyarakat akan terbentuknya Kabupaten Manggarai Timur, Jaghur Stefanus menjalani perannya dengan penuh tanggung jawab. Pikiran, keringat dan dana dicurahkan demi terwujudnya Manggarai Timur. Nyaris semua warga Borong dilibatkan dalam membantu menjamu tamu-tamu terhormat. Semua jeripaya itu terbayar tuntas. Tahun 2007, di Jakarta, palu terbentuknya Kabupaten Manggarai Timur dibunyikan. Jaghur Stefanus bersama para tokoh dan elite politik hadir di sana dan menyaksikan itu dengan penuh rasa gembira.

Jaghur Stefanus adalah figur penting yang ikut membentuk Kabupaten Manggarai Timur. Ia bukan saksi sejarah, tetapi pelaku sejarah terbentuknya kabupaten Manggarai Timur. Sebagai sebuah sejarah, Kabupaten Manggarai Timur lahir dari perjuangan dan keyakinan, bukan sebuah pemberian cuma-cuma (pro deo).

Jaghur Stefanus tentu bersyukur telah terlibat dalam sejarah awal terbentuknya Kabupaten Manggarai Timur. Ia bukan penonton atau pelaku pasif, tetapi salah aktor utama dalam membidani lahirnya kabupaten Manggarai Timur.

Demi kesejahteraan bersama, masyarakat Kabupaten Manggarai Timur memulai menentukan nasib dan pemimpinnya. Pasca 30 Oktober 2008, Pilkada Kabupaten Manggarai Timur dimenangkan oleh pasangan Yosep Tote dan Agas Andreas atau Paket Yoga. Dalam periode lima tahun pertama atau Paket Yoga Jilid I, Jaghur Stefanus menjadi Kasat Pol PP. Di Kesatuan Pol PP itu, kepemimpinannya diterima dan diakui oleh anggota kesatuan Pol PP. Dalam banyak pengakuan, Stef Jaghur adalah pemimpin yang tegas dan bijaksana.

Setelah menjabat sebagai Kasat Pol PP, pada tahun 2013, Jaghur Stefanus dilantik menjadi Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Manggarai Timur.  Pasca Pilkada Manggarai Timur 2014, Paket Yoga Jilid II mempercayai dan melantik Jaghur Stefanus menjadi Kepala Bagian Kepegawaian sejak tahun 2015 hingga saat ini.

Jaghur Stefanus yang lahir pada tanggal 16 Agustus 1958 memasuki usia pensiun nyaris bertepatan dengan akhir masa kepemimpinan Bupati Yosep Tote dan Wakil Bupati Agas Andreas periode 2014-2019. Sementara, gong Pilkada Serentak Kabupaten Manggarai Timur jatuh pada  tanggal 27 Juni 2018. Calon-calon pemimpin pun mulai bermunculan untuk mengikuti kontestasi politik Pilkada 2018. Nama Drs. Jaghur Stefanus masuk dalam bursa bakal calon pemimpin Kabupaten Manggarai Timur.

Sebagai wakil bupati, Agas Andreas, SH., M.Hum ikut maju sebagai bakal calon bupati Kabupaten Manggarai Timur di Pilkada 2018. Sebagai pemimpin yang berbudaya, Agas Andreas memegang sumpah adat yang pernah diucapkan dalam ritual syukur paki kaba di Mukun, Kota Komba pasca Pilkada Kabupaten Manggarai Timur 2014. Saat itu, di hadapan para tetua adat dan masyarakat Kota Komba terucap sumpah: “poli hoo, ngger eta ulu. Tapi neka hemong ketiak dite!” Artinya, setelah Yoga Jilid II, bupatinya Agas Andreas dari Lambaleda Raya (dari Poco Pene sampai Nanga Lirang), wakil bupatinya  orang Kota Komba. Kalimat sumpah tersebut terbaca sekaligus sebagai pesan dan kearifan politik para tokoh adat dan masyarakat Kota Komba. Kearifan politik itu mungkin bermakna “balas budi” atau “leko leles” (dodo) politik. Tujuannya, pola kepemimpinan di Manggarai Timur terdistribusi secara adil.

Atas dasar sumpah itulah Agas Andreas mencari “pasangan” politiknya dari wilayah Kota Komba. Dari tokoh-tokoh adat dan masyarakat Kota Komba menyembut nama yang belum terpikirkan olehnya. “Sa kaut damin, Stef Jaghur”, begitu kata mayoritas mereka. Di Kota Komba, nama Jaghur Stefanus disebut-sebut, sementara “camat manga” Borong itu sibuk dengan urusan birokrasi kepegawaian. Sama sekali, ia tidak pernah tahu namanya diusulkan sebagai bakal calon wakil bupati Kabupaten Manggarai Timur, mendampingi Agas Andreas.

Pada suatu ketika, mekas Ande, sapaan untuk Agas Andreas, datang bertamu di rumah Jaghur Stefanus; rumah yang pintunya selalu terbuka untuk menerima setiap orang dari yang tidak pakai sendal sampai yang berdasi. Singkat cerita, Agas Andreas meminta Jaghur Stefanus menjadi pasangan “the next leader”  Manggarai Timur dalam Pilkada 2018, atas rekomendasi tokoh adat dan masyarakat Kota Komba.

Jaghur Stefanus tak menyangka ia dipercaya dan bahkan tak mampu menjawab. Bingung datang memenuhi rongga pikiran. Ia merasa belum siap. Baginya, menjadi serorang abdi masyarakat dan pegawai negeri sipil (PNS) sudah lebih cukup. Ia sangat bersyukur sudah menjadi bagian dari pelayanan masyarakat dan dengan bonus menjadi kepala dinas. Belum terlintas dalam pikirannya untuk menjadi politisi dan menjadi wakil bupati.

Saat itu, Jaghur Stefanus belum bisa menjawab. Ia mesti berkonsultasi dengan semua anggota keluarganya: istri dan ketiga orang anak. Sebelum berkonsultasi, ia bahkan mengusulkan agar Agas Andreas berpasangan dengan beberapa tokoh Manggarai Timur baik yang ada di Borong maupun di luar wilayah. Jaghur Stefanus mengambil inisiatif untuk mengontak (via telpon) para tokoh tersebut. Jawabannya, semuanya maju di Pilkada 2018, tetapi tidak ingin jadi wakil. Kini mereka maju dalam Pilkada 2018 Manggarai Timur sebagai bakal calon bupati.

Tak ada pilihan lain bagi Jaghur Stefanus. Kepercayaan para tokoh adat dan masyarakat jatuh pada dirinya. Atas kepercayaan itu juga, keluarga memilih sikap ikut mendukung. Dalam keyakinan dan mental siap bertarung, Jaghur Stefanus belajar memuat pilihan. Pilihan itu seperti bundu orang Rongga, “wengga watu, tei wula”.  Bela batu, dapat bulan.

Pilihan berpolitik itu berat dan berisiko. Tetapi dengan keyakinan dan dukungan, pasti ada ada terang di langit gelap. Keputusan sudah dibuat. Ludah sudah jatuh di tanah. Drs. Jaghur Stefanus akan pensiun dini di akhir tahun 2017. Ia siap maju  dalam Pilkada 2018 sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Agas Andreas, SH., M.Hum sebagai calon Bupati di Kabupaten Manggarai Timur.

Pasangan Agas Andreas dan Jaghur Stefanus mulai mengibarkan bendera sebagai siap berkontestasi. Bendera paket “ASET”, akronim Ande-Stef berkibar dan menyebar di berbagai dataran, lembah dan gunung di Manggarai Timur.  Para tim kerja, simpatisan, “ASETlovers” dan semua orang yang memilih Agas Andreas-Jaghur Stefanus berjibaku, berbondong dan berkerja sama dalam semangat “Sahabat ASET”.

Sahabat ASET mendesain bendera berlambang “burung Lawelujang” yang menjadi simbol khas Manggarai Timur dan berfilosofi “terbang mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Manggarai Timur”. Bahwa bersama Paket ASET, masyarakat Manggarai Timur pasti “Sejahtera, Berdaya dan Berbudaya” (Matim SEBER).

Di dalam Paket ASET, Jaghur Stefanus akan mencetak sejarah perubahan Manggarai Timur yang lebih baik. Bersama Agas Andreas,  Jaghur Stefanus sang putra Kota Komba terbaik sedang meramu sejarah kepemimpinan Manggarai Timur yang lebih berbakti, bersih dan bijaksana. Mereka pernah berbuat; mereka akan berbuat lebih untuk Manggarai Timur. Semoga. (hironimus dale)

Komentar ANDA?