Jalan di Wilayah Selatan Lembata Rusak Parah

0
764
Foto: Inilah potret kondisi jalan di lintasan Lewoleba – Boto- Puor – Lamalera yang sangat menyedihkan. Keluhan dari tahun ke tahun tidak ditanggapi padahal daerah ini merupakan salah satu kantong ekonomi Lembata

NTTsatu.com – LEWOLEBA – Perjalanan darat melintasi kantong-kantong ekonomi di wilayah Barat dan Selatan Kabupaten Lembata hingga saat ini dalam kondisi rusak parah. Kondisi seperti ini akan menyulitkan upaya pemerintah untuk mensejahterakan rakyat melalui program yang dicanangkan Bupati dan dan wakil bupati yang begitu indah bermakna.

Kondisi jalan dari Lewoleba menju Boto, Puor hingga ke Lamalera saat ini alam kondisi yang sangat para. Pengguna jalan harus ekstra hati-hati jika melewati jalur Lewoleba hingga ke Lamalera yang merupakan destinasi wisata yang selama ini didengungkan Pemda Lembata sebagai leading sektor di daerah ini.

Sejumlah warga yang ditemui mengaku, kondis jalan di lintasa ini sungguh menyedihkan. Pengendara kendaraan baik sepeda motor4 maupun mobil selalu berjuang keras untuk bhisa tiba di tempat tujuan dengan selamat. Pasalnya, ada kolam di tengah jalan, ada reruntuhan yang nyaris menghabisi badan jalan dan sejumlah keluhan lainnya yang sangat menyedihkan.

Foto: Inilah potret kondisi jalan di lintasan Lewoleba – Boto- Puor – Lamalera yang sangat menyedihkan. Keluhan dari tahun ke tahun tidak ditanggapi padahal daerah ini merupakan salah satu kantong ekonomi Lembata

“Betapa sulit dan susahnya melakukan perjalanan di musim hujan kalau melewati jalur Lewoleba- hingga ke Boto, Puor dan sampai di Lamalera. Kendaraan harus benar-benar siap dan pengenara juga harus berhati-hati untuk melewati sejumlah ruas yang sangat menantang,” kata Marianus Doron, salah satu warga desa Belabaja.

Setiap tahun, warga masyarakat di wilayah Selatan dan Barat Lembata mengeluhkan jeleknya jalur jalan jurusan Lewoleba – Lamalera itu. Akibatnya, para pengusaha jasa angkutan pun selalu mengeluh kalau pemasukan tidak proposional dengan pengeluaran bahkan mereka cenderung menaikkan tarif angkutan yang akhirnya menyusahkan warga sendiri.

Pengusaha angkutan seperti Yoseph Prasong Baon dan Fidelis Baran dalam percakapan dengan media ini beberapa hari lalu di Lewoleba mengakui, mereka sudah sampai pada tingkat putus ada untuk mengoprasikan angkutan mereka di jalur ini karena pemasukan selalu lebih kecil dan tidak bisa menutupi pengeluaran mereka untuk kendaraan angkutan itu.

“Bayangkan saja, pemasukan sangat tidak proposional dengan pengeluaran, belum lagi seringnya kecelakaan kendaraan yang kita alami karena jeleknya jalan,” kata Fidelis dan dibenarkan Yoseph. (yos/bp)

Komentar ANDA?