Jelita, Lolita, dan Sialan

0
1357

Oleh: Rober Bala

Jumat 17 Juni 2022, di Starbucks Atrium Senen, saya duduk sambil memperhatikan dengan penuh fokus kepada seorang teman saya: Johny Amsikan. Saya perhatikan teman kelas di STFK Ledalero yang kini menjabat sebagai Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda TTU.

Sebagai teman yang sudah lama bertemu, tentu banyak sekali tema yang dibicarakan. Tetapi harus saya akui, bahwa tema yang menjadi judul tulisan ini begitu menarik pehatian saya. Teman yang jadi pendiri PS Caecilia Kefamenanu dan menulis berbagai buku sejarah TTU berbicara tentang lansia yang tengah dilaksanakan di TTU.

Perhatian saya semakin menarik sehingga acuh saja terhadap orang yang berseliweran di Atrium. Saya merasa tempat itu bahkan menjadi meeting point bagi orang dari Timur. Hampir setiap jengkal saya temui orang berkulit ‘warna-warni’. Kadang mereka memanggil dari balik kaca menyela pembicaraan kami. Tetapi bagaimanapun, saya tetap fokus pada pembicaraan.

Dalam pembicaraan sekitar 45 menit itu, lulusan pascasarjana Antropologi UGM itu menyampaikan 3 istilah yang bagi saya menjadikan pembicaraan kami kian sengit. Ada ‘jelita’ yang artinya jelang 50 tahun, ‘lolita’ yang artinya lolos lima puluh tahun, dan lansia yang dibalik menjadi ‘sialan’.

Apa makna tiga kata itu yang menjadi inti dari tulisan ini?

Sebelum menjawab tiga arti dari kata-kata itu, rupanya alam memanggil bahwa ketika seseorang menjelang lima puluh tahun (jelita) atau bahkan sudah ‘lolos 50 tahun’ (lolita) berbicara tentang tema ini. Kami dua berada pada tahapan lolita.

Secara pribadi, tema itu menjadi perhatian saya persis pada saat memasuki tahapan ini. Di usia 50 tahun, saya menulis buku: BERBUAH DI USIA SENJA. Buku ini persis terbit menjelang usia 50 tahun (Penerbit Kanisius, 2017). Lalu saat ‘lolos lima puluh tahun’, (saat berusia 52 tahun), sebuah buku lagi “Successful Aging, Sukses di Usia Senja” terbit di Gramedia Pustaka Utama (2020).

Pada buku itu, saya persis membicarakan 3 hal yang disinggung kawan saya (demikian Johny Amsikan lebih sering menggunakan kata kawan). Banyak orang mengira bahwa lansia dimulai pada usia 60 tahun. Singkatnya umur pensiun. Karena itu waktu sebelumnya kurang mendapatkan perhatian. Padahal dalam berbagai tulisan, sudah dikategorikan bahwa usia 45 – 60 tahun adalah masa pralansia.

Pada masa ‘jelita’ ini seseorang (seharusnya) berada pada tahapan mempersiapkan hadirnya usia lanjut. Tetapi tidak banyak orang yang menyadari hal ini. Mereka malah mengira, akan hidup 1.000 tahun lagi (semikian WS Rendra dalam puisinya “Aku”). Akibatnya, ketika berada pada “Masa Persiapan Pensiun/MPP’, mereka terkejut. Mereka mengeluh karena gaji yang diterima hanya ‘gaji pokok’. Yang lain-lain yang ternyata jauh lebih besar, ‘raib’ begitu saja.

Belum lagi berbagai penyakit yang seakan menyambut di usia senja itu. Di sinilah terjadi bahwa ‘lansia’ ‘diplesetin’ menjadi ‘sialan’. Tidak hanya kesehatan. Banyak lansia yang bahkan di usianya seperti itu masih menjadi ‘kuda tunggangan’ bagi anak-anak yang ternyata selama hidup mereka terlalu keenakan dengan kekayaan orang tua. Bukan saja anak-anak, bahkan cucu-cucupun ikut menggerogoti sang kakek / nenek.

Masa lansia pun jadi ‘sialan’ oleh penyakit bahkan kematian. Aneka penyakit yang selama itu hanya didengar, kini jadi kenyataan pada dirinya. Seorang lansia yang tengah sakit mengatakan selama hidupnya ia sangat gencar menasihati para karyawan agar tidak menderita penyakit seperti: kudis (kurang disiplin), Asma (asal mengisi absen), TBC (Tidak Bisa Komputer), Asam Urat (Asal Sampai Kantor) dan lain-lain. Penyakit itu hadir bukan lagi sebagai singkatan tetapi sebagai kenyataan. Sialan.

Memberi yang dimiliki

Kalau hidup penuh derita (macam lagu para bujangan saja, hidup di gubuk derita, hehe), apakah masa lansia itu benar-benar kedengaran sadis dan menyeramkan? Apa yang perlu dilakukan agar tidak menghadapi kesialan seperti itu?

Pertama, di buku BERBUAH DI USIA SENJA, saya menyorot kedekatan pada Tuhan, sumber hidup. 70 renungan adalah refleksi tentang 70 ayat kitab suci yang paling menyentuh dan kalau dibaca para lansia akan terasa sangat mengena. Maaf terkesan berlebihan tetapi saat buku itu saya minta si inspirator (yaitu mama saya yang waktu itu menjelang 80 tahun) membacanya, ia justru ungkapkan hal yang membuat saya terdiam. Kata dia (emang ada orang tua yang tidak mendukung anaknya hehe), buku itu bukan saja untuk dia yang sudah ‘super lansia’, tetapi juga bagi anak muda untuk persiapkan masa tuanya nanti.

Pujian mama yang berada pada halaman ‘persembahan’ ini kedengaran berlebihan. Saya ingat sebuah peribahasa yang mirip seperti itu yang mengatakan ‘saya cantik / ganteng, kata mama saya’. (Emang ibu siapa yang mengatakan sebaliknya bahwa anaknya jelek, hehe). Tetapi bahwa buku ini sudah dicetak 3x, berarti apa yang dikatakan almarhumah ibunda itu juga tidak jelek-jelek amat.

Mendekati Tuhan yang adalah ‘Air Kehidupan’, bukan saja karena seseorang sudah menjelang kematian. Memang yang terjadi sering ada ketakutan seperti itu hal mana wajar adanya. Tetapi kembali kepada filosofi air, setiap apapun baik manusia, hewan, apalagi tumbuhan, yang hidup dekat air pasti mendapatkan kesejukan. Tanaman akan berbuah jika mendapatkan air secukupnya. Tanpa air hanyalah kekeringan. Karena itu, kunci untuk berbuah adalah dekat dengan ‘Sumber Mata Air ilahi’.

Kedua, kesuksesan masih terbuka lebar di usia senja. Banyak orang hebat justru mengalami kejayaannya pada usia lanjut. Karena itu pada bagian puncak dari buku SUCCESSFUL AGING, SUKSES DI USIA SENJA, sengaja ditampilkan 5 orang hebat yang sukses di usia senja. Musa terpilih memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir di usianya yang ke-80 (40 tahun pertama ia hidup di istana, 40 tahun sesudahnya hidup di luar istana, dan 40 tahun terakhir ia dipercayakan jadi pemimpin).

Pengalaman yang sama terjadi dengan Muder Teresa dari Calcuta yang mengirim para misionaris ke luar negeri saat memasuki usia 60 tahun. Ada juga JK Rowling yang menjadi miliarder menjelang usia 60 tahun. Kisah Harland Sanders, si pemilik KFC dan Bambang Hartono (pemilik BCA) justru sukses di usia yang sangat renta. Di buku ini saya juag menampilkan Yohanes Ola Enga, yang hampir 30 tahun menderita stroke tetapi ia menyaksikan 5 dari 7 anaknya menjadi sarjana. Artinya kesuksesan itu terbuka lebar. Kesempatan itu tetap ada, malah makin ‘ngeri’ (kata orang Maumere mengartikan sesuatu yang sangat luar biasa).

Kita tentu tidak bisa mengingkari bahwa banyak yang mengalami situasi yang sangat menyeramkan. Tetapi dnegan kisah sukses itu, kita tersadarkan bahwa aneka pengalaman selama 60 tahun pertama bisa jadi pembelajaran berharga. Dengan demikian ketika memasuki usia senja, seseorang bisa melihat apa yang masih menjadi kekuatan, pengalaman apa yang bisa dijadikan pembelajaran. Selanjutnya seseorang akan berusaha untuk memberi dari apa yang dimiliki.

Apa maksudnya? Para lansia tidak menjadi terlalu idealistis dengan merencanakan sesuatu yang kontradiktoris dengan kemampuan dirinya. Misalkan saja seorang lansia ingin menjadi instruktur gym sementara kondisi fisiknya sudah menurun. Yang dimaksud, apa yang ia miliki sebagai kekuatan? Kekuatan pada seorang lansia adalah kebijaksanaan dan pengalaman yang bisa ia bagikan kepada banyak orang. Dengan pengalaman itu ia bisa menjadi mentor. Ia bisa menjadi tempat bertanya.

Kekuatan yang ada bisa juga berupa pengalaman. Saat masuk pensiun, seorang lansia bisa saja membuat apa yang sudah pernah ia lakukan. Usaha yang sudah pernah ia mulai dan ia yakin bahwa usaha itu akan berjalan lancar karena ia telah menguasai pasarannya. Pada tapaan ini kesuksesan diartikan sebagai kemampuan mengoptimalkan apa yang sudah ia miliki dan menjadikannya lebih efektif dan efisien.

Jadi apa yang bisa jadi kesimpulan akhir? Kesuksesn itu terbuka. Namun hal itu perlu direncanakan dan dirancang agar menjelang lima puluh tahun (jelita) ataupun saat lolos lima puluh tahun (lolita), ia benar-benar manfaatkan untuk mempersiapkan masa lanjut usianya. Ia persiapkan agar tidak jadi ‘sialan’ yang terus mengeluh dan menjadikan alasan untuk meminta-minta tetapi malah justru menjadi sumber darinya orang lain bisa ikut hidup.

=======

(Robert Bala, Selasa 21 Juni 2022. Penulis buku BERBUAH DI USIA SENJA (Penerbit Kanisius, 2017) dan SUCCESSFUL AGING, SUKSES DI USIA SENJA (Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2020).

Komentar ANDA?