JURNALISTIK DAN BAHASA

0
231

Oleh: Dra. Christina Purwanti, M.Pd.

Aktivitas utama seorang jurnalis adalah selalu mengabarkan berita aktual tentang sesuatu yang terjadi di sekitar dan sangat penting diketahui oleh lingkungam masyarakat. Aktivitas seorang jurnalis juga adalah aktivitas komunikasi yang sengaja didesain setiap hari, untuk mendistribusikan informasi dari segenap wartawan kepada para pembaca. Dalam hubungan dengan apa yang dinyatakan di atas, peran bahasa menjadi sangat sentral sebagai instrumen terjadinya penularan sebuah informasi. Walau dalam aktivitas praktisnya, seorang jurnalis selalu saja menggunakan hal yang bersifat visual atau audiovisual, dan juga berupa pesan-pesan dalam sebuah berita yang harus terus disampaikan dan selalu menggunakan bahasa.

Sebuah pertanyaan besar yang perlu dijawab oleh masyarakat pengguna bahasa termasuk para jurnalis, adalah: Apakah ada keraguan bahasa yang digunakan dalam aktivitas seorang jurnalis telah berkembang dan membentuk sebuah ragam bahasa tersendiri, atau belum memenuhi syarat untuk sebuah ragam bahasa?

Jawaban atas pertanyaan di atas; Di satu sisi, peran bahasa yang digunakan oleh seorang jurnalis selalu hadir menjadi bahasa pada umumnya. Para jurnalis tentu harus taat kepada ketentuan berbahasa yang lazim pada sistem bahasa yang digunakannya, mulai dari aspek ejaan, morfologis, sintaksis atau pun juga logika pembentukan dan penggunaan bahasa sesuai kaidah bahasa yang lazimnya bagi seorang jurnalis. Di sisi lain, bahasa yang digunakan oleh para wartawan atau sang jurnalis sering berbeda dengan ragam bahasa Indonesia dalam aspek linguistik, dalam artian berbeda dalam ragam resmi, hukum, ilmiah, maupun bahasa sastra. Dalam konteks ini, selalu saja terdapat hukum-hukum berbahasa yang telah dikembangkan secara internal oleh para jurnalis itu sendiri.

Dalam aktivitas pemberitaam oleh seorang jurnalis yang tidak lepas dari peran bahasa, terdapat paling kurang tiga sebab utama yang sangat berpengaruh langsung terhadap pemberitaan yakni: Pertama, laporan dari seoramg jurnalis. Seorang jurnalis berupaya melaporkan sebuah pemberitaaan sedemikian rupa agar dapat dikomsumsi oleh pembaca dengan baik dari segala lapisan dan golongan, mulai dari kelompok terpelajar-akademis, sampai pada masyarakat populis di setiap level kehidupan pada umumnya. Segala pilihan kata dan seluruh bentukan gramatikal, diupayakan agar terlihat sederhana dan langsung menyapa masyarakat pembaca pada setiap level.

Kedua, laporan seorang jurnalis, bisa disebut berada dalam “kondisi tergesa-gesa,” agar pemberitaan yang dimaksud sesuai target terbitan berkala dan dapat tercapai. Setiap realitas harus dipahami oleh sang jurnalis selama liputan berlangsung dalam waktu yang relatif singkat.

Hal ketiga yang juga penting untuk diperhatikan dalam sebuah pemberitaan adalah setiap wartawan atau sang jurnalis, selalu dibatasi oleh waktu atau durasi bertutur yang diatur secara ketat. Seorang jurnalis media cetak pun selalu dibatasi secara ketat jumlah halaman, jumlah kolom, bahkan jumlah kata pun telah ditetapkan dalam sebuah pemberitaan. Pembatasan yang kian ketat seperti ini selalu ada dalam sebuah pemberitaan, yang sebetulnya membuat seorang jurnalis harus bisa terampil dalam menghidangkan di setiap berita sesuatu yang kompleks, disajikan dengan sangat singkat dan bernas.

Bahasa seorang jurnalis dalam menyampaikan sebuah berita selalu saja menyisakan problem yang terikat pada dua hal utama yakni pertama, kode etik seorang wartawan yang harus dijunjung tinggi adalah melaporkan suatu fakta dengan jujur walaupun itu dalam bentuk opini sekali pun. Kedua adalah eksistensi bahasa selalu bersifat simbolik dan simplifikasi dalam merepresentasikan sebuah realitas aktual. Dalam artian bahasa seorang wartawan selalu mengandung penyederhanaan karena keberadaan sebuah bahasa tidak dengan sempurna menggambarkan sebuah realitas aktual dengan sempurna. Dari sinilah munncul juga apa yang disebut sebagai; Bahasa selalu tunduk atau taat pada penggunanya.

Karakter sebuah berita sangat ditentukan oleh seorang jurnalis. Jika seorang jurnalis memiliki kecenderungan berpikir secara positip maka lazimnya dapat dipercayai, bahwa realitas tersebut dapat dipotret dan juga dapat disajikan ulang dengan sama persis secara positif melalui bahasa yang merepresentasikannya. Seperti terdapat warna langit yang jingga dan sekawanan burung yang terbang di atas permukaan laut yang teduh-tenang. Demikian juga sebalilnya, seorang jurnalis yang memiliki kecenderungan untuk berpikir secara negatif maka hampir dipastikan bahwa berita yang disampaikan pun cenderung negatif dan menjadi konsumsi mayarakat yang terus juga berdampak negatif.

Yang perlu diketahui dan diperhatikan di sini adalah optimisme seorang jurnalis cenderung meningkat naik karena cenderung mengabaikan hakikat bahasa sebagai sistem tanda dalam sebuah pemberitaan. Dalam artian ini, para penganut paham bahasa pemberitaan seperti ini, selalu mendapat tantangan hebat dari jurnalis yang berkencenderungan berpikir kritis (critical thinking).

Afirmasi tentang jurnalistik dan bahasa, terus saja terjadi dalam setiap dimensi pemberitaan, dan juga terus saja hadir dalam sosok sang jurnalis yang secara sadar membuat sebuah pemberitaan yang melibatkan peran bahasa secara eksistensial, dalam menyampaikan sebuah pesan. Pesan itu pun terus dikonsumsi oleh publik secara luas dalam berbagai level kehidupan sosial. Oleh karena itu, para pembaca dan juga masyarakat luas, perlu mengetahui dan juga perlu memahami hal tersebut secara baik dan benar.
S e m o g a.

=========
Penulis adalah dosen Bahasa Indonesia, Universitas Pelita Harapan Jakarta

Komentar ANDA?