Justru Karena Ketegaran Hatimulah Maka Musa Menuliskan Perintah Ini Buat Kamu

0
649

Oleh: Rm Ambros Ladjar, Pr

Hari Minggu Biasa XXVII*, 03 Oktober 2021. Bac. Kejadian 2: 18 – 24 dan Ibrani 2: 9 – 11 dan Mk. 10: 2-16.

Kenyataan saat ini begitu banyak kasus perceraian yang terjadi. Alasan dasar paling menyolok adalah KDRT terhadap istri. Kalau sudah kena pukul maka ada kelanjutannya. *Sakit yang dirasakan secara fisik juga membawa luka batin* dan dampak psikologis lainnya. Jika perbuatan itu terus diulangi maka ada alasan bagi istri untuk minta cerai. Memang salah perilaku KDRT demikian, karena bukan era kawin paksa lagi,. Kalau sudah saling gugat maka sejatinya orang lupa akan Janji suci yang pernah diikrarkan saat nikah.

Bacaan hari ini mengajak kita memegang komitmen hidup kita. Ikatan yang dibuat itu tak boleh diubah oleh siapapun. Sebab *perkawinan katolik adalah panggilan menuju kekudusan* dan tak bisa diputuskan lagi selain oleh kematian. Orang Farisi dengan enteng tanya Yesus dalam dialog. Apakah suami diperbolehkan menceraikan istrinya? Yesus tanya: apa perintah Musa kepadamu? Mereka menjawab: Musa memberi izin dengan buat surat cerai. Yesus tegaskan: Justru karena ketegaran hatimulah, Musa menuliskan perintah ini kepadamu.

Di dalam kisah penciptaan manusia pertama, Tuhan bawa dan katakan kepada manusia itu: Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!. *Dia akan dinamakan Perempuan*, sebab dia diambil dari laki- laki. Sebab itu suami akan meninggalkan orangtuanya dan bersatu dengan istrinya. Sangat jelas bahwa sejak awal Allah menciptakan *perempuan itu sebagai teman hidup yang setara* yang harus dicintai. Bukan seenaknya diperlakukan sebagai obyek pelampiasan yang diperlakukan semaunya.

*Membuat Acara Pernikahan jadi indah itu mudah, tapi membuat perjalan nikah jadi indah adalah sesuatu yang sulit*. Ritualnya cuma satu jam lebih tapi soal tata rias dan persiapan fisik butuh waktu lama. Kadang pesta pun berhari-hari. Syukur jika jalan hidup mereka langgeng. Tapi kalau RT broken maka sana sini hanya penuh gosip. Alasan serupa ini maka orang harus kembali kepada hakikat cinta mereka. *Kejujuran cinta harus dipertanyakan*. Apakah pernikahan yang diteguhkan itu sungguh dibangun atas dasar cinta atau materi? Apa kah cuma untuk kesenangan sesaat atau abadi karena kasih Tuhan?

Orang harus pegang teguh komitmen sesuai penegasan injil tadi bahwa yang telah dipersatukan oleh Allah, tak boleh diceraikan manusia. Ajaran gereja harus menjadi rujukan kita mengarahkan putra putri memilih masa depan. Mereka harus bebas menentukan teman hidup. Tak perlu pasang rupa-rupa kriteria yang sulit. *Intinya bahwa ada rasa cocok dan saling setia*. Jikalau sudah saling setia maka akan saling mengasihi. Akibatnya ada saling mengalah demi kebaikan. Apabila orang sungguh saling memiliki maka ada penyesuaian diri dalam segala situasi, baik untung maupun malang.

Jadilah pasangan hidup yang menyenangkan hati, Bukan karena Uang, namun *karena Kasih sayang*. Berikanlah pasanganmu Hati yang nyaman, Bukan karena ada kedudukan melainkan *karena Pengertian*. Milikilah hati yang tahu bersyukur, Bukan karena hidup makmur, tapi *karena hidup Jujur*. Ciptakan semangat yang berkobar, Bukan karena kelimpahan Harta tapi *karena Setia dan Sabar*. Jadikan hidupmu bersukacita Bukan karena setumpuk berlian tapi *karena Cinta*. Sebab pasanganmu adalah teman dan pelengkap hidupmu. Dialah tulang rusukmu, pendamping dan penolong setiamu.

Salam sehat di Hari Minggu untuk semuanya. *Tetap taat menjalankan Prokes*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing-masing dengan kelimpahan kasih sayang, kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita hidup. Amin 🙏🙏🌹✝️🌹🍇🫐🔥🔥🇮🇩🇮🇩

*): Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?