Kader Posyandu di NTT Harus Dibekali Dengan Baik

0
247
Foto: Dokter Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Ahmad Suryawan ketika memberikan keterangan kepada wartawan di Kupang, Sabtu,11 November 2017

NTTsatu.com – KUPANG- Untuk bisa memberikan hasil maksimal kepada bayi dan anak-anak balita, para kader yang bertugas di setiap  pos pelayanan terpadu (posyandu) harus mendapat bekal yang cukup terkait pelayanan kepada ibu hamil dan anak-anak balita.

Dokter Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Ahmad Suryawan kepada wartawan di Kupang, Sabtu,11 November 2017  mengakui, posyandu di NTT sudah berjalan maksimal, namun perlu diperhatikan dengan baik terutama pendidikan ketrampilan bagi para kader sehingga pelayanan mereka lebih maksimal.

“Posyandu di NTT sudah bagus selama ini. Namun para kader harus mendapatkan pendidikan dan latihan sehingga mereka bisa memberikan pelayanan yang maksimal,” katanya.

Dokter Ahmad mengaku melakukan penelitian bertajuk ‘Pengaruh Suplementasi dan Edukasi Nutrisi pada Kesehatan Ibu Hamil dan Tumbuh Kembang Janin, Bayi dan Anak Prasekolah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur’. Penelitian itu dilakukan bersama 20 dokter dari Universitas Airlangga, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Timur, IDAI Cabang NTT, dan dokter dari Kalbe Nutritionals-Morinaga sejak Juli 2017-Agustus 2018.

Hasil penelitian sementara kata dokter Ahmad,

anak prasekolah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup berisiko alami gangguan pertumbuhan. Ketika masih bayi, mereka tumbuh dengan baik, tetapi begitu masuk usia sekolah, terjadi penurunan tinggi dan berat badan.

Dalam penelitian itu, mereka meniliti tiga kelompok yakni ibu hamil dengan usia kehamilan 3-6 bulan, bayi usia 6-9 bulan, dan anak prasekolah usia 3-5 tahun. Dari 32 bayi yang diteliti, berat badan normal atau sesuai usia yakni 81,3% dan tinggi badan normal sebesar 93,8%. Akan tetapi begitu sang anak masuk TK, berat yang tadinya normal berkurang jadi 44,9%. Tinggi badan juga berkurang sampai 48,7%.

“Ini kondisi yang kami dapatkan hampir di seluruh wilayah Indonesia dan negara-negara berkembang, bukan hanya di NTT saja,” ungkapnya.

Dia mengatakan, penelitian itu akan mencari tahu

faktor-fafktor penyebab gangguan pertumbuhan anak. Setelah itu hasil penelitian itu akan diserahkan kepada pemerintah setempat untuk ditindaklanjuti. (bp)

Komentar ANDA?