Kaleidoskop 2016: Kasus intoleran di Indonesia berakhir dengan perusakan rumah ibadah

0
176
Foto: Ilustrasi

Di negara Indonesia yang multikultural, kasus-kasus intoleran yang berwujud penyerangan dan perusakan rumah ibadah masih sering terjadi. Hal ini menjadi keprihatinan bersama.

Catatan Okezone sepanjang 2016, aksi penyerangan terhadap rumah ibadah di Indonesia dari perusakan hingga pembakaran selalu menyebabkan bangunan rumah ibadah rusak parah. Atas kejadian tersebut, aksi tersebut selalu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat.

Seperti di Bantul, Yogyakarta, perusakan kompleks Gua Maria di Dusun Semanggi, Bangunjiwo, Bantul, Selasa 7 Juni 2016. Komplek Gua Maria tersebut selama ini telah menjadi tempat peribadatan umat Katolik sejak tahun 1969 di daerah Padokan, Tirtonirmolo, Bantul.

Tempat ibadah tersebut tidak pernah sepi dari umat yang ingin berziarah dan melakukan ibadah. Namun, ada oknum yang justru merusak tempat doa umat Katolik tersebut secara anarkis. Hingga akhirnya Bupati Bantul Suharsono meminta aparat kepolisian menangkap pelaku perusakan tempat doa itu.

Dia mengatakan, selama ini pelaku perusakan tempat ibadah di Bantul bebas berkeliaran dan tidak satu pun tertangkap. Warga sekitar juga mendesak penangkapan terhadap pelaku.

Setelah itu, perusakan rumah ibadah terjadi di Tanjung Balai, Medan. Sebanyak delapan vihara, tempat ibadah umat Buddha yang berada di Sumatera Utara itu dirusak warga. Kejadian tersebut pada 29 Juli 2016.

Perusakan itu diduga lantaran umat Islam tersinggung akan protes salah satu warga mengenai kegiatan ibadah di Masjid Al Makshum di Tanjung Balai.

Masih di Medan, terjadi percobaan bom bunuh diri di Gereja Santo Yosef, Jalan Dokter Mansur, Medan, Sumatera Utara, pada Minggu 28 Agustus 2016.

Kejadian itu terjadi saat pastor berkhotbah, kemudian pembawa bom berlari sambil membawa ransel mendekati pastor ke Altar. Namun, sebelum sampai di Altar, percikan api keluar dari dalam ransel tersebut dan membakar pelaku.

Si pembawa bom terus berusaha mengejar pastor itu. Karena melihat gelagat tidak baik, pastor pun berlari menghindari si pembawa bom. Sedangkan umat yang berada di gereja tersebut terkejut dan mulai mengejar pembawa bom dan mengambil ransel yang sudah terbakar.

Pada peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa, hanya si pembawa bom mengalami luka-luka akibat ledakannya sendiri.

Kemudian di Jawa Tengah, namun bukan rumah ibadah. Melainkan isi yang ada di dalam rumah ibadah seperti patung Yesus dan Bunda Maria di Gereja Santo Yusuf Pekerja, Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah, yang diduga dirusak orang tak dikenal.

Kejadian serupa juga terjadi di tempat ziarah umat Katolik di Sleman, Yogyakarta. Kala itu patung Yesus berada di lantai. Patung dengan bobot 20 kilogram dan tinggi 1,75 meter itu roboh dengan kondisi tangan kanannya patah. Tak hanya patung Yesus saja, patung Bunda Maria setinggi 1,6 meter dan bobot 15 kilogram juga hilang. Ketika dilakukan pencarian oleh warga sekitar, patung Bunda Maria ditemukan di sungai Kali Ujung, Jogonalan.

Lanjut ke Samarinda, Kalimantan Timur, sekira pukul 10.00 Wita di saat jemaat sedang melaksanakan ibadah di Gereja Oikumene, jalan Cipto Mangunkusumo, Sengkotek, Loa Janan Ilir. Tiba-tiba seorang pemuda tak dikenal melakukan pelemparan sebuah benda yang diduga bom molotov.

Ketika itu, para jemaat gereja baru saja selesai melaksanakan kegiatan ibadah. Kemudian, mereka keluar melalui pintu depan menuju parkiran, lalu seorang pemuda yang tidak dikenal itu melemparkan sesuatu yang diduga bom molotov.

Bom meledak di parkiran kendaraan roda dua. Dalam aksi tersebut, lima orang terluka sebagian korban pun anak-anak mengalami luka serius.

Setelah dilakukan perawatan intensif, seorang bocah atas nama Intan Marbun meninggal dunia pada Senin 14 November 2016 di Rumah Sakit AW Sjahranie, Samarinda. Gadis berumur tiga tahun ini adalah satu dari empat anak yang menjadi korban pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene.

Pelaku diketahui seorang pria asal Demak dengan inisial J. Pemuda tersebut lahir pada 1 Februari 1978, dia menempuh pendidikan sejak TK hingga SMA di Demak. Namun, saat ke jenjang perguruan tinggi, ia berkuliah di Yogyakarta.

Hingga kini ancaman penyerangan rumah ibadah masih dibilang rawan terjadi. Pemerintah pun meminta kepada masyarakat sekitar untuk tidak terpancing provokasi. (Okezone.com)

Komentar ANDA?