KALKULASI POLITIK ANAK MUDA UNTUK PEMILU 2024.

0
872

Oleh: Thomas Tokan Pureklolon.

“Bagaimana bentuk pemuda kini, begitu pula corak masyarakat yang akan datang.” ( Imam Ghazali ).

Survey Indikator Politik pada akhrir Maret 2021 merilis berita “Mengurai Pilihan Politik Anak Muda untuk Pemilu 2024 dengan problem utamanya adalah Preferensi Anak Muda Jelang Pemilu 2024 (http:theconversatio.com )
Yang menarik dalam hasil survey tersebut yang memiliki 1.200 responden, adalah pilihan politik anak muda dalam kisaran prosentasi pilihan yang menempatkan tiga figur politik secara berurutan adalah, Anis Baswedan: 15.2%, Ganjar Pranowo: 13.7%, Prabowo: 9.5%, Sedangkankan faktor tawaran kebijakan partai politik yang paling unggul adalah tiga parpol secara berututan: Gerindra: 16%, PDIP: 14.2%, Golkar, 5.7%.

Dengan berkaca pada perolehan prosentasi tentang figur dan parpol sambil melihat urutan tersebuh, sudah barang tentu kharakter pemilih millenial berfokus pada figur politik yang lebih oke sesuai dunianya anak muda, daripada faktor tawaran kebijakan politik sebagai institusi yang kaku dan bersifat birokratis. Perilaku politik dari seorang figur yang berpengaruh langsung, jauh lebih diperhitungkan secara dinamis oleh anak muda dalam pilihan politiknya, ketimbang perilaku politik dalam tataran parpol sebagai tatanan institusi yang beraksi dalam masyarakat politik secara kaku dan bisa berjalan secara sepihak.

Argumentasi politik yang dibangun adalah soal fungsi parpol yang sebetulnya adalah sebuah institusi yang sangat penting dan tetap dilihat sebagai conditio sine qua non, dalam sistem demokrasi modern yang terus dilirik oleh segenap masyarakat dalam dunia perpolitikan, pada aras ini secara serta merta beranjak menurun ke kelas bawah di mata publik walau belum sampai pada titik terendah.

Pola perpolitikan dewasa ini atau sekarang ini dan di sini ( hic et nunch ) terhadap anak muda pada zaman millenial, dalam menentukan pilihan politik tentang siapa yang paling berpeluang menjadi calon presiden 2024, tesis dasar tentang mimesis yang diserukan oleh Aristotelles pada zaman Yunano Kuno, kini nampak secara terang benderang untuk konteks perpolitikan sekarang. Anak muda membutuhkan dua hal penting adalah soal peniruan atau mimesis itu sendiri dan soal keteladanan atau panutan secara langsung. Dalam ilmu politik, aktivitas politik yang terjadi secara langsung dalam political action dinamakan aksesibilitas politik dengan nada dasarnya adalah percakapan langsung yang bersifat informal. Idealnya adalah setiap anggota ( baca: anak muda ) harus dan dapat dengan mudah berkomunikasi pada setiap waktu dengan figur politiknya sebagai teman yang tidak berjarak dan kerap hadir bersama dalam media sosial untuk membahas banyak hal tentang pembangunan politik.

Fakta politik dewasa ini pun terlihat ( baca: hasil survey Indikator Politik ), pilihan politik anak muda terhadap partai Gerindra memperoleh urutan teratas yakni 16%, namun figur ketua umumnya Prabowo untuk menjadi calon presiden berada pada urutan nomor ketiga dari pilihan politik anak muda yang sama; Dalam teori politik menunjukkan bahwa dalam berpolitik tetap ada preferensi berbeda antara partai politik sebagai institusi legal formal, dan figur politik dalam parpol sebagai calon presiden impian anak muda zaman digital. Sederhananya, pilihan politik anak muda di satu pihak pak Prabowo betul menjadi centra power dalam partai Gerindra, namun di lain pihak dalam berpolitik pada kaum millenial belum tentu menjadi pilihan politik pada urutan teratas pada kalangan millenial yang sama.

Dalam dunia perpolitikan ( baca: tertib politik di tengah pergeseran kepentingan massa ) piliham politik anak muda, selalu berwarna dan berubah-ubah sesuai kepentingan dan perjuangan politik yang juga tetap berubah sesuai pilihan politiknya. Dalam partai politik secara intrinsik pilihan politik harus sesuai dengan garis partai yang menjadi idealisme bersama yang tetap hadir sebagai visi- misi partai yang menuntun dan terus menuntut ketaatan absolut dari para anggotanya.

Sebuah catatan penting dalam berpolitik tentang figur politik dan partai politik ( parpol ) pada kaum millenial adalah soal ketokohan atau figur politik menjadi centra power daripada partai politik sebagai institusi atau instrumen politik untuk mendulang suara sekaligus meraih kekuasaan. Dari sinilah definisi politik secara baku yang terus dikumandangkan yakni politik adalah seni untuk meraih kekuasaan, mendapatkan kekuasaan, menjalankan kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan mulai lagi meraih kekuasaan; Sebuah lingkaran politik kekuasaan atau pun sebaliknya kekuasaan politik yang terus menerus berjalan dalam satu sistem politik sesuai arasnya dalam berpolitik pada sebuah negara..

Sebuah pertanyaan politik yang tidak mudah untuk dijawab secara tepat seperti kegelisahan Bung Muhammad Fajar, seorang peneliti gerakan politik di UGM, bahwa trent politik sekarang ini seperti gerakan anak muda baru, yang lebih menginduk ke figur, dibanding partai politik.

Salah satu jawaban yang saya duga atas kegelisahan tersebut adalah soal aksesibilitas komunikasi dan politik yang dibangun secara langsung terhadap kinerja pemerintah dalam menumbuh-kembangkan demokrasi sesuai arasnya; terlihat jelas dengan tidak berjarak dan terpampang secara terbuka lewat perilaku politik para elitnya ( baca: Anis Baswedan, Ganjar Pranowo, Prabowo) yang dijumpai setiap hari dalam dinamika politik ( Thomas Tokan Pureklolon, Perilaku Politik, Yayasan Obor Indonesia, 2020: 230).

Dalam sebuah negara, di mana pun dan kapan pun ( locus dan tempus ), isu sosial politik dalam perpolitikan dewasa ini sama sekali tidak terpisah dari anak muda zaman millenial karena seperti apa pemuda pada masa kini, begitu pula terpampang corak masyarakat yang akan datang. Dengan kata lain, anak muda dan kekuatan politik formal di negeri ini sebetulnya tetap diberi ruang yang strategis dan kebijakan politik yang sama dalam kehidupan sosial ( baca: pembangunan politik di segala bidang ).
Praise the Lord.

===========

Penulis: Dosen Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan Jakarta

Komentar ANDA?