KAMIS PUTIH : MARI KITA PUTIHKAN HATI

0
471

BAPAK,  ibu,  saudara/I umat beriman yang terkasih dalam Kristus.
Hari ini kita kembali merayakan Kamis Putih. Peristiwa iman yang menyejarah tentang Yesus Putera Allah yang memberi diri bagi umat manusia.

Pada malam ini kita menyaksikan Yesus yang sungguh-sungguh memberikan diriNya, memecah-mecahkan diriNya, mencuci kaki para muridNya dan memberikan satu transformasi total dalam pelayanan kepada sesama. Namun tahun ini di tengah pesta Iman ini, kita berhadapan dengan satu situasi yang amat mencekam. Virus Covid 19 sedang menghantam dunia. Covid 19 telah membuat dunia seakan-akan meninggalkan jati dirinya yang khas.

Kita dilarang untuk saling mengunjungi, kita dilarang bersalaman, kita dilarang bekerja di kantor, demi menghindari kerumuman, kita dilarang bersekolah, bepergian bahkan yang lebih ketat kita dilarang beribadah di Gereja/rumah2 Ibadah demi mencegah penyebaran corona virus.

Tindakan pencegahan jauh lebih baik dari pada pengobatan yang membutuhkan atensi ekstra yang membutuhkan banyak pengorbanan hingga berjatuhan korbannya.

Sedih tatkala menyaksikan Minggu Palma tanpa arak-arakan daun palma, tanpa melihat umat membawa daun palem di tangan berjubel masuk ke Gereja, Kamis Putih tanpa melihat umat di Gereja, tanpa melihat upacara pembasuhan kaki, Jumat Agung tanpa arak-arakan mencium salib, atau Sabtu Alleluia di saat bersama-sama membaharui janji baptis kita ditiadakan.

Semuanya dari rumah, tanpa kita pernah berpikir, kita harus mengikuti semuanya melalui HP ios dan android. Alat-alat ini yang sekarang menjadi teman kita, sahabat kita. Aneh tapi nyata, dari dunia nyata menuju online. Tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya demi kesahatan kita, semuanya demi dunia yang lebih baik. Sebab iman tanpa kewaspadaan sama halnya dengan kekonyolan.

Bapak ibu saudara/I umat beriman yang terkasih dalam Kristus…
Di tengah pandemi corona virus ini, apakah kita harus menyerah? Haruskah kita pensiun sebagai seorang beriman? Apakah kita harus menjadi apatis?

Tentu tidak. Justru di dalam situasi inilah, iman kita semakin diperteguh, semangat kita semakin berkobar-kobar, kita semakin percaya pada Tuhan bahwa Tuhan berkuasa atas apa yang terjadi dalam hidup kita.

Pada malam Kamis putih ini kita diajak untuk kembali membangun semangat, gairah yang mungkin semakin pudar, semakin kelam, semakin berada dalam titik nadir, lewat peristiwa iman ini kita menjadi hidup kembali, kita semakin percaya bahwa dalam lorong yang gelap, dalam pendemi corona virus yang jahat ini, kita tetap mampu berbuat sesuatu, kita tetap mampu berkarya, karena Kita punya Allah yang besar.

Kamis Putih mengajarkan kepada kita tentang pelayanan yang putih, melayani dengn suci, tulus tanpa modus apalagi dengan akal bulus. Oleh karena itu, memutihkan hati, menyucikan hati adalah keniscayaan. Sebab hati yang putih tanpa kelam niscaya melakukan kehendak Allah. Apa yang dikehendaki Yesus Kristus pada perjamuan malam terakhir? Menjadi hamba yang siap melayani tanpa kata tapi, tanpa tambahan kata jika. Contoh: Saya mau melayani tapi harus dibayar mahal. Saya mau kerja jika dia tidak ada dalam kelompok kerja ini. Jika menghambakan diri dalam pelayanan dengan mengajukan syarat melayani anda telah kehilangan chance of blessing. Anda telah kehilanga kesempatan penuh rahmat, kehilangan berkat.

Melayani tanpa syarat,, tanpa jijik, tanpa mengeluh, tanpa sungut, sebab semuanya akan ditambahkan kepadamu. sebab Ia melihat dan tahu pekerjaan yang memuliakan NamaNya di dunia dan menyelamatkan engkau dan sesama kelak.

Peristiwa Perjamuan Malam Terakhir adalah saat kerinduan Kristus yang mendalam bagi manusia. Apa yang dirindukan? Thomas Aquinas mengatakan lima kerinduan Yesus bagi manusia tuk merayakan Perjamuan Malam Terakhir adalah
1. Supaya kita tidak melupakan Yesus. (Lakukanlah ini sebagai kenangan akan daku)
2. Supaya kita tahu Yesus adalah santapan rohani yang menguatkan hidup kita (barang siapa makan daginKu dan minum darahKu ia akan hidup selama-lamanya)
3.  Supaya kita masuk dalam inti kehidupan Kristus yang paling dalam yang menyelamatkan kita (barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup)
4. Supaya kita tahu bahwa ekaristi adalah perayaan pengampunan dan penyucian atas segala dosa dan salah kita. (terimalah dan makanlah, inilah tubuhKu yahg diserahkan bagimh, terimalah dan minumlah inilah piala darahKu, yang menyucikan engkau).
5.  Supaya kita kuat dalam kehidupan rohani agar mampu menjalani kehidupan duniawi kita secara benar.

Inilah lima kerinduan Kristus bagi kita, kerinduan ini hanya bisa diamini dan diterima dan dihayati, dijalani dengan hati yang putih. Tanpa hati putih, semuanya menjadi kelam.

Kamis Putih membutuhkan hati yang putih. Putih bukan soal keputihan tetapi kesucian. Putih bukan soal pucat pasih tapi soal kesakralan. Kamis putih yang sakral harus hidup dalam hati dan tindakan kebaikan yang kekal selama masih mengenal Cinta. Sebab perjamuan malam terakhir adalah perjamuan cinta sakral nan kekal tuk kita semua. *Salam alekot*

Salam, Romo Jefri Nome, Pr

Komentar ANDA?