Kasula, Kekatolikan Dan Imamat

0
2822

Oleb: Pastor Tuan Kopong, MSF

Gempar dan viral ketika Pendeta Gilbert mengenakan kasula yang biasa dikenakan oleh para imam Katolik Roma. Berbagai pernyatan muncul dan juga ada pernyataan-pernyataan “nyinyir” dari sebagian umat Katolik.

Ketika membaca berbagai komentar dan ada yang terkesan “nyinyir dan bully” saya bisa memahami karena belum atau tidak lazim di Indonesia seorang pendeta mengenakan kasula.

Sayapun menyadari posisi saya bahwa jika saya tidak menjadi misionaris di Pilipina dan berjumpa dengan berbagai “keanehan” di sini dalam arti jika saya hanya berkarya di Indonesia mungkin saya juga salah satu dari mereka yang sedang nyinyir dan membully pak Pendeta Gilbert.

Namun saya bersyukur karena boleh menjadi misionaris di Pilipina dan bisa menemukan banyak hal yang salah satunya penggunaan kasula oleh denominasi gereja lain sehingga membuka wawasan saya dan lebih dari itu justru menjadi pemacu bagi saya untuk mengargai martabat imamat saya yang terungkap dalam pemakaian stola dan kasula sebagai pakaian resmi liturgi sekaligus menantang kekatolikan saya untuk tidak cepat-cepat menghakimi apalagi membully.

Pada tahun 2018, saya ke tempat jahit jubah, kasula dan baju collar untuk para frater, bruder, imam dan uskup di Mandaluyong. Di sana saya berjumpa dengan tiga orang yang juga dipanggil padre yang datang untuk menjahitkan jubah dan kasula uskup mereka yang baru. Saya mengira mereka bertiga adalah imam Katolik karena dipanggil padre, maka saya memperkenalkan diri kepada mereka.

Setelah saya bertanya dari keuskupan mana, saya akhirnya tahu dari jawaban mereka bahwa mereka bukan imam Katolik Roma. Mereka dari salah satu denominasi gereja tertua di Pilipina yaitu Aglipay Church yang uskup dan imamnya boleh menikah dan tidak mengakui infalibilitas Paus serta tidak berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik Roma.

Namun pakaian uskup dan imam mereka serta tata perayaan “misa” mereka sangat mirip dengan Katolik.

Bahkan beberapa kali ketika menonton televisi saya melihat beberapa orang seperti imam dan uskup yang mengenakan kasula, stola, solideo, mitra dan memegang tongkat, awalnya say mengira mereka adalah imam atau uskup Katolik ternyata mereka adalah “imam” dari LGBT Church dan Apostolic Catholich Church (ACC) sama sekali tidak ada hubungan dengan Gereja Katolik Roma.

Bahkan dalam salah satu poster nampak seperti patung Bunda Maria, ternyata itu bukan Bunda Maria sebagaimana yang diakui dan diimani oleh Gereja Katolik melainkan itu adalah ibu pelindung ACC yang diberi nama Santa Maria Virginia.

Dari pengalaman perjumpaan dengan berbagai denominasi gereja yang menggunakan pakaian “liturgi” mirip dengan busana resmi liturgi Gereja Katolik, saya hanya bisa berdoa semoga mereka dibukakan hati untuk menerima Kristus dalam Gereja Katolik.

Namun lebih dari itu, hal ini menjadi sebuah permenungan yang mendalam bagi saya sebagai seorang imam Katolik untuk menghargai pakaian resmi liturgi seperti kasula dan stola sesuai dengan makna dan fungsihnya. Karena harus diakui bahwa ada oknum imam juga yang tidak “menghargai” kasula dan stola yang dikenakan.

Di sisi lain bahwa dari pengalaman perjumpaan yang “aneh” itu, saya justru disadarkan untuk menghidupi martabat imamat dan pelayanan saya sebagai seorang imam Katolik melalui kasula dan stola yang dikenakan dalam semangat kerendahan hati dan pengorbanan. Karena harus diakui juga bahwa ada oknum imam Katolik juga yang hanya mengenak stola tanpa jubah atau alba bahkan stola diselempangkan pada pakaian adat daerah tertentu ketika perayaan Ekaristi dirayakan yang katanya misa inkulturasi.

==========

Pastor asal Adonara dan berkarya di Manila
RP. Tuan Kopong MSF

Komentar ANDA?