Kategori Gawat Darurat, Indonesia Urutan Ketiga Akses Situs Pornografi

0
191
Foto: Islustrasi

KUPANG. NTTsatu.com – Indonesia saat ini masuk kategori darurat pornografi untuk anak bahkan Indonesia masuk urutan ketiga yang paling banyak mengakses situs-situs pornografi. Karena itu, Gereja dan pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap masalah ini terutama dalam pelayanan terbaik bagi anak.

Ketua Badan Pengurus Nasional Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB), Haryati Kristianto menyampaikan hal itu pada Seminar Kajian Teologi Anak Kontekstual dalam rangka Hari Anak Nasional 2016 yang diselenggarakan Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) Regional NTT bekerjasama dengan Yayasan Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kupang, Selasa (19/7/2016).

“Saat ini Indonesia darurat narkoba, pornografi dan kekerasan seksual anak juga mengancam anak-anak di Indonesia. Selain itu Indonesia juga darurat pornografi. Indonesia urutan ketika paling banyak mengakses pornografi dan itu dilakukan oleh anak-anak kita,”katanya.

Menyikapi kondisi ini katanya, Gereja perlu mendorong pemerintah untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang mengatasi pornografi anak, maupun kekerasan seksual terhadap anak. Gereja juga perlu berupaya menghentikan penyalahgunaan anak dalam politik juga adalah tindakan kekerasan.

“Gereja perlu peduli terhadap kekerasan terhadap anak dalam politik. Eksploitasi anak untuk kepentingan politik adalah kekerasan pada anak,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pdt. DR. Mery Kolimon pada kesempatan tersebut mengatakan, Alkitab secara jelas menegaskan bahwa anak itu adalah milik pusaka Allah, yang diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah sendiri. Karena itu, dalam diri anak terdapat kapasitas Illahi serta Tuhan mempunyai rencana khusus untuk kehidupan setiap anak dan rencana Allah itu adalah rencana damai sejahtera.

Namun dalam kenyataan kata Kolimon, Gereja saat ini justru harus bergumul dengan pandangan budaya tentang anak. Bahkan tambahnya, pandangan budaya ikut mempengaruhi sikap gereja terhadap anak.

“Anak di NTT masih dianggap sebagai manusia kelas 3. Kelas teratas adalah laki-laki dewasa dan ditengahnya adalah perempuan dewasa dan anak berada pada level terendah. Bahkan anak masih ada pembedaan lagi yakni anak laki-laki yang dianggap lebih tinggi nilainya disbanding anak perempuan,” katanya.

Secara terpisah General Manager WVI Zona Timor dan Sumba, Eninofa Rambe dan Manager WVI ADP Kupang, Raditya Paramandaru menjelaskan kegiatan ini diharapkan dapat membantu para pelayan di Gereja agar dapat memiliki pemahaman yang komperhensif tentang pelayanan yang berperspektif anak.

Pelayanan bagi anak kata Rambe diharapkan komperhensif baik dari aspek teologis, budaya maupun hukum formal.

“Para hamba Tuhan, pendeta, pastor dan para pelayan di Gereja selama ini bukan tidak memiliki pemahaman tentang anak, tetapi kita berharap dengan kajian theologis anak kontekstual melalui materi-materi yang didiskusikan selama dua hari ini dapat membuat pemahaman dan pelayanan mereka menjadi lebih komperhensif lagi bagi anak,” tambah Raditya.

Kegiatan ini dihadiri utusan gereja-gereja dan organisasi peduli anak dari wilayah Timor, Sumba dan juga Alor. (bp)

Komentar ANDA?