Kejati NTT Kantongi TSK Baru Kasus PDT Flotim dan Alor

0
207

KUPANG. NTTsatu.com – Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) saat ini telah mengantongi nama calon tersangka baru dalam kasus proyek dua dermaga di Flores Timur (Flotim) dan Kabupaten Alor tahun 2014 lalu senilai Rp 43 milyar. Dalam kasus ini telah ada estimasi kerugian negara sebesar Rp 11 miliar.

Kajati NTT, John W Purba, SH, MH yang dikonfirmasi melalui Kasi Penkum dan Humas, Ridwan Angsar, SH, Selasa (25/8) mengatakan, penyidik dalam perkembangan telah mengantongi calon tersangka baru dalam kasus tersebut. Namun, untuk menetapkannya sebagai tersangka masih perlu dilakukan gelar perkara dihadapan Kajati NTT.

Dijelaskan Ridwan, dalam kasus itu Kejati NTT akan membidik lagi sekitar 10 tersangka baru dalam kasus pembangunan dermaga di Flores Timur (Flotim) dan di Alor. Dalam kasus ini penyidik diminta melakukan penyelidikan dan penyidikan secara radikal.

Menurut Ridwan, dalam kasus korupsi proyek pengerjaan dua dermaga di NTT dengan menggunakan dana APBN dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Kejati NTT masih akan membidik calon tersangka lain. Calon tersangka itu sekitar 10 orang lagi.

Sebelumnya diberitakan Kejati NTT menahan Kepala Bagian Keuangan Kementerian Transmigrasi dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Maprih Unggul Purwanto terkait kasus korupsi proyek pembangunan dermaga program PDT di Kabupaten Alor dan Flores Timur. Purwanto sendiri saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam pembangunan dua pelabuhan di provinsi kepulauan ini pada 2014 tepatnya di Pamakayo Kabupaten Flores Timur serta di Bangkalan Kabupaten Alor.

Pembangunan dua dermaga tersebut jelas Ridwan, mengeluarkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2014 sebesar Rp43 miliar. Ketika menandatangani kontrak tersebut, Purwanto sendiri merupakan pejabat pembuat komitmen.

Tersangka proyek dermaga di Flores Timur itu adalah Maprih Unggul Purwanto selaku pejabat pembuat komitmen, Mardjuki selaku kontraktor, dan Sjambas Chotib selaku konsultan supervisi.

Untuk nama tersangka proyek dermaga di Alor, Maprih Unggul Purwanto selaku pejabat pembuat komitmen, Ramlan selaku kontraktor, dan Sri Raharjo selaku konsultan supervisi. (dem/bp)

Komentar ANDA?