Kejati NTT Tangani Delapan Kasus Trafficking Tahun ini

0
343
Asisten Tindak Pidana Umum (Aspidum) Kejati NTT, Budi Handaka

KUPANG. NTTsatu.com – Sejak Januari hingga Agustus 2016 ini, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah menangani sedikitnya delapan kasus perdagangan orang (Traffcking) di daerah ini.

Dari depalan kasus tersebut, dua kasus diantaranya sedang dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kupang. Sedangkan enam kasus lainnya belum naik ke persidangan.

“Ada delapan kasus yang kami tangani tahun ini,” kata Asisten Tindak Pidana Umum (Aspidum) Kejati NTT, Budi Handaka, Rabu, 31 Agustus 2016.

Menurut dia, dari jumlah kasus traffcking yang ditangani baru sebanyak dua kasus yang dinyatakan P21, sedangkan enam kasus lainnya masih P19, sehingga belum dinaikan ke persidangan.

“Dari delapan kasus yang ditangani, baru dua kasus yang P-21 dan dalam persidangan, sisanya masih P-19,” katanya.

Kejati NTT, kata Budi, sangat serius mengusut tuntas kasus trafficking yang marak di NTT, dan menjadi sorotan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar penegak hukum di daerah serius menuntaskan kasus trafficking. “Dalam penanganan kasus traficking, jaksa bekerja secara profesional dan sesuai SOP,” tegasnya.

Terkait dengan kasus Adolfina Abuk, salah TKW asal NTT yang tewas di Malaysia dan dipulangkan dengan penuh jahitan, jelas Budi, kasus itu sementar dalam proses dan berkasnya masih perlu diperbaikan (P19). Apalagi kasus ini baru ditangani sejak Juli 2016. “Baru dinyatakan P-19 oleh jaksa peneliti berkas,” ujarnya.

Dia menegaskan, jaksa akan menuntut pelaku human trafficking secara maksimal yakni selama 15 tahun penjara dan ini juga berlaku di seluruh Kejaksaan Negeri (Kejari) se-NTT. “Saya tegaskan bahwa pelaku kasus human traficking kami berikan tuntutan maksimal selama 15 tahun penjara. Kami tidak main-main,” tegas Budi. (rdm/bp)

Komentar ANDA?