Kekeringan Landa 13 Kecamatan di TTS

0
162

KUPANG. NTTsatu.com – Kekeringan tengah melanda 13 kecamatan di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Akibat kekeringan yang terjadi sejak Agustus lalu, warga di 24 desa yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mengalami kesulitan air bersih.

Asisten Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten TTS, Epy Tahun yang dihubungi melalui telepon dari Kupang ke Soe, ibu kota Kabupaten TTS, Senin, 02 November 2015 menjelaskan, kondisi hingga Minggu ketiga bulan Oktober 2015 terdapat 24 desa di 13 kecamatan dinyatakan kekurangan air bersih. Wilayah yang krisis air sudah mendapat pelayanan berupa air tangki atas kerjasama Bank NTT dan Pemerintah Daerah Kabupaten TTS.

Sedangkan kondisi minggu keempat bulan Oktober, sudah ditangani yakni tim yang diutus pemerintah daerah guna melakukan pendataan desa-desa yang kekurangan air bersih untuk diberikan bantuan.

“Apabila sudah didata maka akan diberi bantuan karena pemerintah daerah sudah mengalokasikan dana lewat perubahan anggaran untuk pengadaan fiber dan air bagi desa-desa yang kekurangan air bersih,” kata Epy.

Calvin Tefbana, warga Desa Kiufatu, Kecamatan Kualin menceritakan sejak bulan Mei hingga Juli 2015 mereka sudah mengalami kesulitan air bersih, namun tidak separah seperti sekarang ini. Sejak Agustus hingga sekarang mereka terpaksa membeli air dengan harga Rp 500 per jerigen ukuran lima liter.

“Kami beli air yang dijual oleh orang yang punya uang dan memiliki mobil pick up untuk mengangkut air keliling kampung. Warga berlomba-lomba membeli untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Calvin.

Kendatipun ratusan warga mengalami krisis air, namun hingga saat ini pemerintah tidak memberi bantuan berupa pelayanan air tangki. Semua  sumur sudah kering sehingga warga hanya berharap air yang dijual oleh orang-orang yang merasa peduli terhadap sesamanya.

Menurut Calvin, warga di wilayah itu sering mengalami krisis air pada musim kemarau. Namun, pemerintah belum melakukan intervensi seperti pembangunan sumur dangkal maupun sumur bor. Warga di wilayah itu juga sering dilanda kekurangan pangan karena gagal panen setiap tahun.

Warga berharap secepatnya pemerintah memberikan bantuan berupa pelayanan air tangki agar bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dalam satu minggu, warga membeli air sebanyak tiga kali. Untuk menghemat, air yang dibeli hanya untuk masak dan minum. Sedangkan untuk mencuci, mereka menggunakan air asin.

Calvin menyampaikan, dalam satu minggu ia harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp 15.000 untuk membeli air 30 jerigen berukuran lima liter. Air yang dibeli itu hanya bertahan dua sampai tiga hari saja, itu pun sudah termasuk menghemat.

Ia mengatakan, hanya tiga unit mobil pic up yang dipakai untuk menjual air khususnya di tiga kecamatan yang bertetangga yakni Amanuban Selatan, Kualin, dan Kolbano sehingga agak sulit untuk menjangkau seluruh masyarakat. Meski begitu, warga tetap bersyukur karena air yang dijual tergolong murah yakni hanya Rp 500 per jerigen.

Calvin menilai, pemerintah sudah mengetahui bahwa wilayah Selatan Kabupaten TTS adalah daerah yang tandus dan sering mengalami krisis air. Anehnya, setiap tahun warga yang dilanda kekeringan tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

Wakil Ketua DPRD TTS Alex Kase menegaskan pemerintah pusat menyiapkan bantuan berupa seribu sumur bor dan seribu sumur dangkal untuk wilayah yang krisis air. Tetapi nyatanya belum terrealisasi sehingga ini merupakan kelemahan pemerintah daerah untuk memberikan bantuan kepada masyarakat.

Selain itu, masih ada sumber-sumber air di wilayah itu yang semestinya dimanfaatkan oleh pemerintah untuk melayani masyarakat. Adapun sumber air yang tidak kering dan terletak di atas ketinggian yang seharusnya dikelola oleh pemerintah melalui program perpipaan untuk kebutuhan masyarakat.

“Pemerintah pusat sudah berjanji bangun seribu sumur bor dan seribu sumur dangkal di wilayah selatan TTS sebagai daerah yang krisis air, tapi nyatanya pemerintah daerah yan kelemahan dan tidak respon,” tegas Alex.

Menurut Alex, pemerintah daerah Kabupaten TTS tidak berniat membantu masyarakat yang dilanda kekeringan dan krisis air. Buktinya, pemerintah pusat sudah berjanji akan memberikan bantuan berupa pembangunan seribu sumur bor dan seribu sumur dangkal, namun hingga saat ini tidak satupun yang direalisasi.(bp)

=====

Foto: Ilustrasi kekeringan

Komentar ANDA?