Kembali ke Akar

0
649

Oleh: Robert Bala

Kadang-kadang saya berpikir, apakah anak saya merasakan penderitaan yang dulunya ayah dan ibunya rasakan? Apakah ia tahu bahwa dulu bahkan untuk makan saja susah didapatkan?

Ada sebuah pengalaman masa kecil. Saat itu di kampung, tinggal beberapa pekerja dari sebuah CV yang tengah menerjakan Gedung SD Inpres. Saya melirik mereka makan nasih putih (dari beras), makanan yang sangat langka buat kami. Karena saking inginnya, saya mendekati mereka biar mendapatkan kerak nasih. Biar kerak tetapi itu dari nasih putih dan punya kebanggaan tersendiri.

Begitu menderitanya hal mana berbeda dengan saat kini, saya kadang bertanya, apakah anak saya dan anak-anak seumurannya memahami penderitaan orangtuanya waktu itu?

Itu tentang makanan. Kalau tentang perjalananapakah ia tahu bahwa orang tuanya dulu harus bersusah-susah dengan perayu layar dan kemudian dengan Kapal Motor yang berjalan perlahan menyilih ombak dan harus berjam malah berhari-hari? Saya ragu. Pikiran saya, ia merasa hidup itu semudah naik pesawat: ‘chusss, sampai di tempat tujuan’ itulah yang sudah kami lakukan bersama 4 kali. Takutnya dia pikir semudah itu hidup, padahal tidak demikian bukan?

Kali ini karena sepupunya ingin pulang kampung, dia mau ikut. Saya lalu berbicara hal-hal yang menakutkan biar bisa membatalkan niatnya, apalagi baru sebulan sebelumnya (23 April – 8 Mei 2022), kami bersama ibunya pulang ke kampung. Berbagai alasan coba dikemukakan terutama karena harsu bearda di kapal 4 hari 4 malam, tetapi ia tetap pada pendiriannya, meski sesekali hampir saja terpengaruh.

Tetapi setelah berunding, akhirnya niat itu pun terwujud. Sabtu 18 Juni, setelah bunyi terompet besar di kapal berbunyi 3 kali, ia pun bertolak. Ia angkat tangan dari atas kapal. Sebelumnya ia memeluk erat ayah dan ibunya. Air mata berlinang karena dia rasa akan berpisah cukup lama dan harus berada dalam kesabaran di atas air laut.

Generasi Rebahan

Kisah kecil di awal tulisan ini tidak diharapkan mendramatisir sesuatu. Apalagi ada orang yang jauh lebih menderita. Tetapi saya menulisnya sebagai sebauh pengalaman pribadi yang tentu implikasinya pada pembaca berbeda-beda. Terbuka juga untuk masukan agar cerita ini bisa menjadi model pendidikan (kalau dirasa perlu).

Pertama, berada di Kapal untuk waktu lama tentu saja membebaskan mereka dari gawai (HP). Hidup anak zaman now adalah 24 jam. Kini mereka harus akrab dengan ‘susah sinyal’ (ini macam film saja).

Ini pengalaman yang tidak mudah. Banyak anak yang lahir di millennium ini bisa disebut sebagai generasi rebahan. Semuanya dilaksanakan sambil rebahan: makan, main, belajar dan tidak tahu apalagi. Ada positifnya di mana waktu mereka bisa sangat efektif. Tetapi tidak sedikit juga berefek negatif. Mereka jadi malas gerak. Kalau gerak saja malas, lalu apakah mereka mau ‘bergerak’ alias pulang ke kampung orang tuanya yang jauh di ‘udik’ sana? Atau kalau selagi orang tuanya masih hidup saja jarang atau malah tidak pernah pulang, lalu bagaimana mereka bisa bergerak ke sana? Apakah bsia berharap? Ya, mau berharap bagaimana ya? Karena itu ketika anak minta pulang naik kapal sangat berat mengizinkan. Rasanya tidak mau membuat anak menderita. Tetapi kalau ingat nilai di baliknya, agak tegah memang, tetapi akhirnya (terpaksa) ikhlas.

Kedua, jarak justru membaut kualitas hubungan semakin baik. Ini sebuah kontradiksi: menjauh untuk mendekat. Apa yang saya maksud di sini berdasarkan kata ahli yang terpaksa saya ikuti dengan harapan bisa mendapatkan apa yang diharapkan.

Kata orang, kita baru akan menghargai sesuatu ketika hal itu hilang. Kehadiran orang tua dan anak pada jarak dekat tak jarang diepenuhi omelan. Hal itu wajar saja. Setiap orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Setiap saat mereka terus mengignatkan hal mana kadang sangat membosankan. Tak heran anak menunjukkan reaksi yang kurang baik yang kemudian dimeteraikan oleh orang tua sebagai tindakan ‘kurang ajar’.

Tetapi apa yang terjadi ketika ‘sumber omelan’ itu menjauh untuk sementara? Apa yang terjadi ketika omelan itu berjarak untuk waktu tertentu? Hal paling sering adalah munculnya rasa kangen. Itu yang saya lakukan dalam beberapa hari setelah berpisah dari anak. Saya tatap kamarnya yang kosong hanya meja, tempat tidur, kursi yang selalu membuatnya berlama-lama di kamar itu.

Di kamar kosong saya lalu merenungkan kembali kata-kata yang kerap terlanjur saya ucapkan kepadanya. Saya tidak tahu apakah rasa sedih ini disebabkan oleh rasa kosong atau karena saya tidak menemukan obyek lagi yang buat marah? Tidak berlebihan saya katakana itu karena rasa kosong.

Dalam rasa kosong itu saya tidak bisa berbicara selain diam. Sebuah diam yang oleh orang Spanyol disebut tempat melahirkan kata-kata. El silencio es la cuna de la palabra (diam adalah temapt lahir kata-kata). Saya sadar bahwa ketakhadiran anak bisa membuat kata-kata akan menjadi lebih baik lahir dan terucap dengan baik. Kata-kata itulah yang akan anak-anak rekam dan mereka ulang dalam hidup sebagai bekal dari orang tuanya. Oh, jadi kepergian anak justru j adi pembelajaran bagi kita orang tua.

Ketiga, di antara banyak makna, secara pribadi (dan saya kira tidak ditentang pembaca) bahwa sasaran terjauh adalah agar anak bisa kembali ke akar dari mana ia berasal. Inilah sebuah sasaran yang bagi saya (dan banyak orang tua) yang berasal dari kampung adalah pertanyaan, apakah anak-anak yang lahir di luar kampung bisa memiliki rasa cinta pada kampung halaman?

Hmm, inilah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Kalau selagi orang tuanya masih hidup mereka jarang (malah tidak pernah) pulang kampung, lalu apa yang diharapkan kalau orang tua sudah tidak ada? Kita tentu sepakat bahwa masalah ekonomi dan waktu sering menjadi penyebab. Tetapi apakah masalah ekonomi menjadi masalah yang seterusnya menjadi masalah, apalagi kalau masalah itu tidak diselesaikan selagi anak masih kecil. Ketika anak sudah besar, beban hidup makin besar dan kemungkinan untuk kembali ke kampung, kembali ke akar menjadi lebih sulit lagi.

Jadi bagaimana merencanakan agar ideal ‘kembali ke akar’ dapat terwujud? Tidak berlebihan kalau jawabannya adalah pada perencanaan. Sebuah keluarga besar merencanakan libur bersama tiap lima tahun. Kelihatan terlalu lama untuk sebuah pertemuan kekeluargaan di kampung sendiri. Tetapi sesungguhnya waktu itu terlalu cepat. Dengan berjalannya waktu, kadang semuanya cepat berlalu. Bila tidak direncanakan, seseorang bahkan sampai 10 tahun bahkan lebih tidak bisa pulang kampung.

Semuanya ini hanya mau mengingatkan bahwa kembali ke akar menjadi hal yagn sangat penting. Mengutip Dolly Parton, di tengah dunia penuh badai, kita butuh akar yang kuat. Akar itu ada pada kampung, budaya, orang-orang dari mana kita bersala. Karena itu Dolly benar ketika mengatakan ini: storms make tress take deeper roots: Badai membuat pohon berakar lebih dalam.

Kata-kata Dolly ini kemudian saya terjemahkan dan sampaikan ke anak saya. Saya sampaikan bahwa ada banyak pengalaman di mana orang sakit. Secara medis dikatakan tidak dapat disembuhkan. Tetapi mukjizat terjadi bahwa ketika ia pulang kampung, ada yang mengalami kesembuhan total. Para dokter merasa heran akan perubahan itu.

Hal ini hanya mau menekankan bahwa berada di antara semua sahabat masa kecil adalah sebuah bentuk penyembuhan. Kampung halaman merekam semua keakraban dan ketika berada di tengah orang-orang yang telah membentuk dan melahirkan kehidupan, maka segela yang menghalalngi menemukan jawabannya. Itulah makna kembali ke akar (Back to the roots).

=======

Robert Bala. Penulis buku: Memaknai Badai Kehidupan (Penerbit Kanisius, 2018)

Komentar ANDA?