Kerukunan Beragama Benteng Masuknya Radikalisme di NTT

0
177

KUPANG. NTTsatu – Kerukunan di daerah ini benar-benar terjaga karena masyarakat daerah ini sangat menghargai perbedaan. Perbedaan ini justru menjadi benteng untuk menangkal aliran jahat atau radikalisme

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengungkakan hal itu saat membuka dan memandu Dialog Pemerintah Provinsi NTT dengan pimpinan Lembaga keagamaan tingkat provinsi NTT Tahun 2015 di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Senin, 27 April 2015. Tema dialog tokoh agama tersebut yakni Sehati, Sesuara Menciptakan Kerukunan Umat Beragama Se Nusa Tengara Timur.

Pada dialog ini Drs. Frans Lebu Raya hadir memberikan materi tentang Strategi Percepatan Pembangunan Melalui 6 Tekad Pembangunan NTT Dengan Spirit Anggur Merah Serta Masuknya Aliran Agama Tertentu dan Ancaman ISIS.

Kondisi Ekonomi di NTT pada tahun 2014 mengalami pertumbuhan ekonomi lebih tinggi yakni 5.04% dibandingkan dengan pertumbuhan nasional 5,02%. Inflasi NTT 7,76 lebih rendah dari nasional 8,36 dan penurunan penduduk miskin pada 2010-2014 sebesar 3, 43%.

Selain itu berpedoman pada Tri Sakti yakni berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkripadian dalam bidang kebudayaan. Pemerintah Provinsi terus menerus bersinergi untuk memperjuangkan kemajuan dari hari ke hari dan tentu menjadi harapan bersama untuk bisa mewujudkan NTT menjadi lebih baik. Hal itu disampaikan oleh Frans Lebu Raya saat memaparkan materi pada dialog pagi itu.

“Kami telah mengadakan rapat bersama Forkompimda dengan Tiga (3) Provinsi yakni Bali, NTB dan NTT untuk mendiskusikan persoalan terkait ISIS dan telah menetapkan strategi antisipasi” lanjut Gubernur.

Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang SVD, mengatakan, Kerukunan di NTT cukup baik dan sangat menjanjikan. Penghargaan terhadap perbedaan, kesadaran menghormati, menghargai sangat tercermin dalam keseharian masyarakat NTT. Jika tidak ada penghargaan maka akan memicu munculnya radikalisme. Disamping itu selain itu kemiskinan juga bisa menjadi pintu masuk untuk radikalisme.

Terkait Swasembada Pangan, Pemerintah provinsi diharapkan untuk memperhatikan dan memperbaiki irigasi di Oepoli,Bena dan yang ada di Benanain, lanjut Petrus Turang.

Sementara Kapolda NTT, Brigjen Endang Sunjaya mengapresiasi kerukunan agama di NTT, hal ini yang menjadi kekuatan untuk dan harapan bersama melalui diskusi, sharing antar agama ini diharapkan kerukunan agama ini tetap terjaga.

“Anak-anak dari dini harus diberi kemahiran, agar tidak menambah jumlah pengangguran,tidak terlibat dalam Human traficking dan ancaman narkoba. Itu yang harus kita hindari, ungkap Endang Sunjaya.

Sekretaris Sinode GMIT menambahkan bahwa ancaman yang saat ini kita hadapi bukan saja ISIS melainkan kemiskinan, HIV, tracfiking. Radikalisme datang dari masalah sosial. Oleh karena itu melalui pendekatan keagaman dan program-program pemerintah untuk menangkal ancaman tersebut.

Acara ini dilanjutkan dengan penyerahan Bantuan Sosial secara Simbolis Kepada Pimpinan Lembaga Keagamaan Dalam rangka Pemberdayaan Ekonomi Umat/jemaat dan diahkiri dengan makan siang bersama.

Turut hadir pada kesempatan itu Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT, Nelson Matara, Forkopimda Provinsi NTT, Pimpinan SKPD Provinsi NTT, Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang, Uskup Larantuka, MGR, Fransiskus Kopong Kung, Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Vikjen Keuskupan Agung Ende Rm. Cirilis Lena. Pr, Vikjen Keuskupan Agung Ruteng Rm Canisius Ali Pr Ketua Pdt Sinode Gereja Masehi Injil di Timor Boby Litelnoni, Sekretaris Gereja Kristen Sumba Pdt. Benyamin Nara Lulu, Sekretaris Umum MUI NTT, Drs. H. Mandarlangi Pua Upa, perwakilan dari Perisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Made Tusan Suraya.Tokoh-tokoh Agama, Senat Mahasiswa UNWIRA, UNDANA dan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). (ayu)

Komentar ANDA?