KLB Partai Demokrat, Sebuah Pilihan Politik 

0
1321

Oleh:  Thomas Tokan Pureklolon

Hingar-bingar prahara politik yang kian kencang dalam Partai politik yang berlambang bintang troika di negeri ini, lagi memasuki masa romans dalam peta politik yang bisa ditakar.

Kilas balik masa romans politik partai demokrat di tahun 2015 ketika terjadi konvensi calon presiden, banyak kandidat internal partai dijaring untuk menggoncang panggung politik Indonesia. Kondisi politik partai demokrat ketika itu, yang nota benenya partai negara memiliki mayoritas anggota di parlemen kala itu berjuang mengadakan konvensi calon presiden. Sebuah pesta mewah dalam politik di sebuah negara yang sedang berkuasa yang lagi asyik memimpin sebuah negara besar. Inilah bagi saya, sebuah strategi eksternal politik partai demokrat di masa romans jilid satu ( 1 ), yang saya sebut sebagai kompas history.

Di tengah pergolakan pembangunan politik yang juga asyik dijalankan oleh regim Pak Joko Widodo, strategi bersaing jilid kedua ( 2 ) partai demokrat pun, telah diluncurkan dengam pola dan gaya yang sangat unik dalam politik yakni berlangsungnya KLB ( Kongres Luar Biasa ) partai demokrat. Inilah yang saya sebut sebagai kompas visionary pilihan politik ( rational choice politics ).

Kharakteristik dari kompas history dan kompas visionary, menyatu dalam proses politik kekinian partai demokrat yang lagi asyik membuat perhelatan pilihan politik ( rational choice ) yang bisa membuat “kerepotan politik baru” di negeri ini.

Sebuah pertanyaan yang nampaknya seperti cerbung ( cerita bersambung ) yang bisa ditelisik masuk dalam peta politik di negeri ini adalah: Entahkan KLB partai demokrat adalah sebuah upaya partai demokrat untuk merespon alur politik di negeri ini, yang hampir di setiap derap langkah pembangunan politiknya menyisipkan dan membidik sebuah ide sentral dan mendiskusikannya tentang siapa yang bakal menjadi orang nomor satu di partai demokrat, yang konsekuensi politiknya siapa yang paling tepat menjadi kandidat nomor satu di negeri ini yang bakal diusung dalam pemilu 2024 nanti, oleh partai politik peserta pemilu yang berlambang bintang troika ini?

Inilah kharakter politik jilid kedua ala partai demokrat sebagai cara elegan untuk masuk dan terlibat dalam perhelatan politik yang walaupun masih bersifat abu-abu.

Bagi saya, strategi eksternal yang sedang dijalankan oleh Partai Demokrat dengan peristiwa politik KLB ini bertujuan jangka panjang; yang bukan hanya mencari calon pemimpin yang berkualitas, melainkan lebih dari itu untuk meningkatkan bargaining power atau posisi tawar-menawar.

Perhelatan politik yang sedang terjadi di partai demokrat saat ini memiliki dampak politik yang sangat berpengaruh pada dua hal utama yakni terhadap rakyat ( baca: terlebih pemilih politik dari partai demokrat ), dan terhadap partai demokrat sendiri.

Eksistensi KLB ini berdampak pada rakyat ( publik ) di mana rakyat sendiri bisa menilai secara langsung dan terang-benderang sepak-terjang partai demokrat dalam membangun negara selama dua periode pemerintahan pak SBY, dengan pemerintahan yang sedang berlangsung sekarang. Bagaimana pun, tentu setiap anggota partai mempunya kalkulasi politik yang tidak sama dan unik yang tentu pula berbeda level untuk setiap kebijakan mulai dari hal yang paling umum mulai dari proses berdemokrasi sampai pada dinamika politik yang terjadi pada setiap perhelatan politik.

Sebuah konsekuensi politik yang tak bisa dielakan adalah rakyat dalam artian yang masih tertambat hatinya untuk melirik dan memilih partai demokrat bisa menentukan sendiri pilihan politiknya; apakah rakayat masih mengafirmasi pilihan politiknya agar menjadi lebih solid, atau sebaliknya bisa beralih “mengkhinati” pilihannya dan melirik serta mengafirmasi pilihan lain secara sepihak, karena kebebasan dalam memilih adalah salah satu azas pemilu yang tetap menjunjung tinggi kedalautan pemilihnya.

Demokrasi dan Mekanisme Politik.

Seperti apa eksistensi KLB dan bagaimama selanjudnya KLB dalam tubuh partai demokrat, tentu diuji dalam demokrasi dan mekanisme politik yang tentu tidak lepas dari mekanisme hukum yang berlaku di negeri ini yang terkait langsung dengan relasi kekuasaan dalam politik ( Thomas T. Pureklolon, 2020: 66 ). Pertanyaan lanjutan yang berkorelasi langsung dengan eksistensi KLB adalah apakah demokrasi sebagai sebuah sistem dalam pendekatan kelembagaan ( pendekatan statis ) yang selama ini terjadi dalam internal partai demokrat, sudah berjalan secara sehat dan dipratikan secara semestinya?

Terhadap pertanyaan politik ini mestinya dijawab secara adil oleh kedua pihak ( baca: partai demokrat versi KLB dan versi AHY) yang lagi berseteru secara hebat yang kini dibaca oleh publik.
Sejalan dengan mekanisme politik yang semestinya dibangun secara dialogal, semestinya juga diperiksa lagi secara saksama praktik politik yang dalam hal ini perilaku politik di tubuh internal partai demokrat yang dapat dipastikan mengalami kendala yang kian runyam dan punya daya dongkrak politik yang berkapasitas tinggi, sampai lahirlah KLB partai demokrat di Medan. Dalam konteks ini, mekanisme politik hukum ketatanegaraan tidak bisa diabaikan untuk menyelesaikan perhelatan politik tersebut.

Terhadap perhelatan politik dalam tubuh partai demokrat, publik dalam hal ini disuguhkan jawaban tentang hakikat demokrasi yang dibangun dalam proses yang tetap terpaku pada proses dan tidak beranjak menuju tujuannya yakni kematangan dan kedewasaan dalam berdemokrasi. Dengan kata lain, praktik demokrasi atau mumgkin lebih pas disebut cara berdemokrasi pada partai yang berlambang bintang troika ini, masih saja berkisar pada prosedur yang terkotak dalam bidangnya masing-masing dan terus merasa paling unggul ( political behaviour ) dan secara langsung menegasikan bidang-bidang lain dalam dinamika politik.

Prahara partai demokrat ini bisa menjadi awasan baru bagi setiap partai politik peserta pemilu yang tentu telah memiliki platform partainya, dapat “merumuskan kembali” platformnya secara dinamis dengan membangun bentuk strategi eksternal yang sedikitnya telah terjadi pada partao demokrat yang walaupun masih terlihat kocak. Tentu ini adalah sebuah political game yang telah ditunjukan oleh partai demokrat yang sebetulnya sebuah langkah politik yang tetap kocak dan terus mengundang gelak tawa terapi politik yang bersifat soft state ala Gurnal Myrdal yang hanya terjadi sekali, sesudah itu mati atau hilang.

Siapapun Sebagai politisi, atau pun sebagai negarawan, apalagi sebagai akademisi dan terlebih sebagai rakyat yang sedang mengikuti proses politik dan “mungkin sudah mulai” mempersiapkan diri untuk memilih calon pemimpinnya di tahun 2024, tentu sangat mengharapkan supaya kharakteristik politik dari para politisi lebih mengedepankan nilai-moral, dan karakteristik para negarawan lebih mengedepankan nilai-etis.

Dengan demikian, perseteruan politik yang sedang dihadapi sekarang seperti apa pun kharakternya, semestinya membuat publik yang berkepentingan ( to whom it your concern ) dengan mudah menentukan pilihan pilitiknya ( rational choice ) secara jernih dan elegan.

=====

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan.

Komentar ANDA?