Kominfo Lembata Minta Bantuan Pemerintah Pusat

0
379

NTTsatu.com — LEMBATA — Dalam rangka meningkatkan jejaring dan kualitas telekomunikasi, Pemerintah Kabupaten Lembata meminta bantuan fasilitas internet kepada pemerintah pusat. Usulan itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Lembata, Markus Labi melalui BAKTI Kominfo beberapa hari lalu.

Melalui kegiatan Video Conference (Vicon) antar Dinas Kominfo se-NTT yang digelar lembaga BAKTI Kominfo, Kadis Kominfo mengusulkan penambahan bantuan sebanyak 267 unit fasilitas internet untuk Kabupaten Lembata. Selain bantuan penambahan unit fasilitas internet, Ia juga mengusulkan penguatan signal internet dan pengadaan internet di 267 titik.

Kominfo Lembata juga mengusulkan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) di area blank spot, penguatan dan peningkatan kapasitas dari 2G ke 4G, penguatan signal internet serta pengadaan peralatan internet untuk 267 titik.

Sebanyak 26 dari 267 titik sasaran di antaranya, adalah lembaga pendidikan menengah baik SMP maupun SMA. Sisanya adalah 140 kantor desa, sejumlah kantor pemerintahan dan lima kantor camat yakni Kantor Camat Wulandoni, Atadei, Ile Ape Timur, Lebatukan dan Omesuri.

Sementara pembangunan BTS, direncanakan untuk dua wilayah yang sama sekali tidak ada signal (blank spot) yakni di Desa Nogodoni dan Desa Ile Kerbau. Keduanya ada di Kecamatan Atadei.

“Untuk blank spot, kita usulkan untuk beberapa wilayah di Kecamatan Atadei. Dua titik itu rencananya di Waimuda, Desa Nogodoni dan di Bakan Desa Ile Kerbau,” jelas Labi.

Dia menambahkan, jaringan internet sangat dibutuhkan terutama dalam kondisi-kondisi darurat seperti saat pandemi covid-19 ini. Oleh karena itu, pihaknya akan segera memverifikasi semua usulan yang dibahas dalam rapat video conference untuk selanjutnya dikirimkan ke pihak BAKTI Kominfo. Dirinya mengharapkan verifikasi lanjutan tersebut bisa cepat, agar segera direalisasikan.

Sejumlah wilayah di Kabupaten Lembata memang bermasalah terkait jaringan internet. Kesulitan internet ini sangat mempengaruhi berbagai aktivitas selama pandemi covid-19 termasuk pembelajaran dari rumah. Di sejumlah desa, praktis pembelajaran dalam jaringan (daring) tidak bisa dilakukan. Sejumlah sekolah memilih mengutus gurunya untuk secara berkala mengunjungi siswanya dari rumah ke rumah, atau dalam bentuk grup berdasarkan tempat tinggal. Mekanisme pembelajaran luar jaringan (luring) terpaksa jadi pilihan.

Bahkan, wilayah Lamalera yang populer secara internasional karena destinasi wisata penangkapan ikan paus secara tradisional pun tak luput dari kesulitan jaringan internet. Jefri Bataona, warga Lamalera B menuturkan kesulitan internet tersebut.

“Disini signal sangat susah. Saya punya anak perempuan sekolah di Lewoleba. Dia punya tugas selama di rumah terpaksa gurunya yang datang ke sini,” tutur Jefri seraya menambahkan bahwa, Lamalera terletak di pesisir selatan Pulau Lembata, sedangkan anak Jefri Bataona bersekolah di Lewoleba, pesisir pantai utara Pulau Lembata yang jaraknya sekitar 45 kilometer. Di kawasan itu sinyal internet nyaris tidak ada. (*/bp)

Komentar ANDA?