Komunikasi Publik: Sebuah Catatan

0
900

Oleh:  Thomas Tokan Pureklolon

Hakikat utama dari ruang publik sebetulnya terbaca pada komunikasi publik. Komunikasi publik dilihat sebagai prinsip utama bagi para penguasa politik dalam mengemukakan berbagai pandangan dan analisisnya tentang ruang publik. Dalam artian ini, maka siapa saja baik secara individu maupun kelompok, mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama ketika terlibat secara langsung dalam komunikasi publik, yang tentu sesuai kapasitasnya ( Thomas Tokan Pureklolon, et al, Komunikasi Publik, 2022: iv ).

Ruang lingkup komunikasi publik pun terjadi bermacam-macam cakupannya, sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang sedang berkembang di tengah masyarakat . Dalam pandangan Jurgen Habermas, terminologi ‘ruang publik’ sebagai konseptualisasi interaksi sosial dan institusional serta tempat, dimana siapa pun berdebat secara terbuka di ruang publik, aspek utama orientasinya adalah rasionalitas, dan bukan aspek retorika. Pada poin ini pula, eksistensi ruang publik cenderung terdistorsi dalam berbagai kepentingan.

Di masa lalu, komunikasi publik menjadi bagian dari persuasi. Pada era digitalisasi modern ini, teknologi telah mengubah pola komunikasi publik menjadi sangat terbuka melampaui lintas batas ruang dan waktu. Komunikasi publik yang telah berperan sentral dalam ruang publik ( forum externum) mengalami pergeseran; yang semulanya sangat regulatif, dewasa ini menjadi begitu terbuka dan terang-benderang bahkan sangat riskan, karena mengundang berbagai respon dan pandangan dari berbagai khalayak yang dapat terjadi setiap waktu ( Thomas Tokan Pureklolon, 2022: v ).

Konflik politik di ruang publik bisa terjadi dan saling bertabrakan seolah tanpa regulasi yang mampu mengaturnya. Para pemilik kepentingan berupaya dengan berbagai cara yang kian gesit untuk menukarkan kebutuhan dan kepentingan sesuai dengan takaran dan skala yang ada di dalam otaknya sendiri dan bukan kebutuhan dan kepentingan bersama yang ada di dalam segenap otak teman seperjalanannya. Di sini pula tergambar kepentingan sendiri ( individual ) menjadi panglima dalam menghadapi setiap problem di ruang publik yang terus tergambar dan terlahir dalam pikirannya, bahwa kebutuhan dan kepentingan yang tidak sejalan, secara serta merta seharusnya cepat diruntuhkan. Di sinilah dilema moral terus terjadi secara berkepanjangan. Konsekensinya, kepentingan publik terlihat berhenti sekaligus terancam mengalami nasip sial di ruang public.

Dalam komunikasi public, pengetahuan spesifik dan kehendak umum ( knowledge and general will) merupakan dua hal penting yang selalu melekat pada seorang komunikator publik khsusnya tentang esensi dari setiap pesan ( baca: konten ) yang mau disampaikan kepada publik. Syarat minimal lainnya yag selalu dilihat sebagai kaharakteristik yang terkandung di dalamnya yakni bagaimana melakukan apa yang kita janjikan kepada publik ( ethos ), memahami apa yang publik sedang usahakan ( pathos ) dan bagaimana esensi logika berpikir public pada saat ini ( logos ). Ketiga kharakter ini selalu bersifat inheren satu di dalam yang lainnya. Audiens pun “merasa sejuk” dalam memghadapi seorang komunikator publik yang terlihat mampu karena memiliki leadership manajerail skill yang handal dan berperilaku sebagai “gembala” ( baca; menuntun, membimbing ) bagi publik di setiap kondisi ( Thomas Tokan Pureklolone et al, Komunikasi Publik, 2022: 27-28 ). Ketiga varian ini bisa menjadi energi esensial bagi publik yang diharapkan menjadi kharakter utama dalam berkomunikasi publik. Utamanya, sebuah komunikasi publik yang handal berjalan mengalir secara lancar seperti air dari tempat ketinggian. Terlihat tetap indah, dan berjalan sesuai kharakter publik yang sedang berjalan.
Thanks.

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik FISIP, Unversitas Pelita Harapan

Komentar ANDA?