Kopi Colol Sudah Merambah Amerika Serikat dan London

0
174

KUPANG. NTTsatu.com – Selain menjuarai kompetisi uji rasa kopi nasional itu, di Banyuwangi Jawa Timur oktober 2015 lalu, ternyata Komi Colo sudah merambah Amerika Serikat dan London sejak tahun 2013 lalu.

Dalam diskusi berbagai elemen masyarakat dari Manggarai Timur di Kupang yang digagas Frans Sarong pada Sabtu, 07 November 2015 terungkap, kopi Manggarai memang telah menjadi salah satu komoditas warga Manggarai Timur khususnya di Colol Kecamatan Poco Ranaka Timur yang telah lama dikembangkan dan sudah terkenal hingga dunia internasional.

Sentra produsen kopi arabika di Colol, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), sudah merambah konsumen kopi di New York, Amerika Serikat dan London, Inggris, sejak  2013.

Suherman, Kepala Perwakilan PT Indocom, eksportir kopi Flores beberapa waktu lalu mengatakan, kopi  arabika Colol memenuhi semua tahapan proses uji sertifikasi dan memenuhi syarat ekspor. Namun di awal April 2014, Control Union yang mengurus sertifikasi organik dan Rainforest, lembaga serfikasi kopi dunia   yang  berpusat di Casablanca mengutus timnya ke Colol melakukan ujian tahap akhir sebelum panen.

“Uji dari Rainforest selalu lebih ketat, bukan  hanya menyangkut kualitas kopi dan semua standar organiknya. Namun juga dampak dari usaha kopi itu kepada petani kopi. Petani harus mendapatkan nilai lebih dari penjualan kopi. Ini juga menjadi tanggungjawab eksportir,” kata Suherman.

Dikatakannya, konsumen kopi di Eropa dan Amerika menyukai  citarasa kopi Flores umumnya  yang masih alamiah. Citra ini harus dijaga, sehingga tetap memberi keuntungan kepada petani kopi.

Suherman juga mengakui, pembeli kopi Flores meminta pasokan sebanyak mungkin yang sampai saat ini  belum mampu dipenuhi  para petani lantaran produksi yang masih terbatas. Produksi yang kurang maksimal dibanding dengan  luas lahan dan jumlah populasi, menurut Suherman disebabkan perawatan yang kurang maksimal.

“Idealnya satu hektare tanaman kopi menghasilkan satu ton biji kopi. Namun, yang terjadi sekitar 200-300 Kg/ha. Penyebabnya perawatan yang kurang bagus, tidak ada pemangkasan. Kopi dibiarkan hidup dan berbuah tanpa intervensi rutin. Kalau pakai pupuk harus pupuk organik, label SNI (Standar Nasional Indonesia),” jelas Suherman.

Terkait kondisi seperti ini, Frans Sarong penggagas diskusi terbatas itu mengatakan, kedepannya pemerintah harus memiliki suatu sikap yang jelas dan tegas untuk pengembangan kopi kembanggaan masyarakat Manggarai Timur tersebut.

Menurut Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang ini, kopi dari Manggarai khususnya Manggarai Timur sudah terkenal sejak lama. Masyarakat setempat mengandalkan komoditas kopi ini untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya selaonj komoditi lainnya seperti beras, Vanili dan cengkeh.

“Kita disekolahkan orang tua dengan biaya dari hasil penjualan kopi, karena itu, masyarakat Manggarai yang menjadi hebat dan terkenal karena kopi itu berkewajihban mengembangkan tanaman ini dengan baik,” pintanya.

Dia juga menegaskan, butuh sebuah komitmen dari pemerintah setempat untuk memeberikan perhatian pada tanaman ini. Pemerintah harus mengeluarkan sebuah kebijakan untuk mendorong masyarakat agar tetap memberikan perhatian pada tanaman yang sudah dikenal dunia internasional karena cita rasanya ini. (*/bp)

====

Foto: Kopi Arabika Colol, Manggarai Timur

Komentar ANDA?